A Love To Killer

A Love To Killer
BABAK 2 : Permohonan Malcolm


__ADS_3

Selang beberapa hari, Mac duff yang selalu menjaga dua hacker jenius yang kabur dari Lucifer, mendapatkan sebuah panggilan dari Ardiaz.


Sebelumnya, dia sudah melaporkan mengenai Malcolm yang meminta untuk bertemu dengan salah satu dari mereka.


Ardiaz tak lantas menjawab. Dia pun harus berpikir dan menimbang apa perlu mereka bertemu lagi dengan anak pembunuh orang tuanya? Atau apakah dia perlu mengatakan semuanya pada Malcolm tentang kisah masa lalu ayahnya?


Semuanya terus dipikirkan Ardiaz, disaat dia juga harus menjaga Evangeline. Dia belum tahu bahwa Malcolm sebenarnya telah mengetahui sesuatu.


Mac duff sengaja tak menceritakannya kepada Ardiaz, karena dia tahu King palsu itu akan bereaksi berbeda pada sang dokter. Juga, dia ingin melihat lebih dulu apa tindakan Malcolm jika memang dia tahu masa lalu ayahnya.


Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Ardiaz pun menghubungi Mac duff dan memintanya untuk bertemu dengan Malcolm, di gudang kosong dekat pondok mereka.


Untuk berjaga-jaga, Mac duff meminta Damian atau Jordan untuk memasang penyadap pada tubuhnya untuk menjadi bukti akan percakapan yang mereka lakukan.


FLASHBACK END.


...❄❄❄❄❄...


Damian beranjak dari tempatnya sambil membawa sebuah macbook, lengkap dengan sebuah earphone yang telah terpasang.


Dia menyerahkan benda tersebut kepada Ardiaz, dan diterima oleh pria tersebut.


Ardiaz pun memasangkan salah satu alat pendengar itu dan mulai menyetel rekaman yang diambil oleh alat penyadap Damian.


“Kau tak perlu melihat ke belakang ku. Aku tak diikuti oleh siapapun,” ucap suara yang dikenali Ardiaz milik Malcolm.

__ADS_1


Semua nampak hening, hingga dokter itu kembali berbicara.


“Apa karena aku anak ayahku, sehingga kalian menjauhiku sekarang?” tanya Malcolm.


Ardiaz terlihat serius mendengarkan rekaman tersebut. Dia sama sekali belum mendengar perkataan dari Mac duff dan terus mendengar suara sang dokter.


“Kenapa kau hanya diam? Apa semuanya benar? Oh tidak. Aku lupa kalau kau telah mengelem bibirmu dengan perekat super."


"Kalau begitu, biar aku beritahu saja padamu. Aku, Malcolm Andara, putra tunggal dari Morgan Andara. Pria yang mendalangi pembunuhan keluarga Danurendra, orang tua Aaron dan Ardiaz."


"Apa kalian pikir aku tahu itu sejak awal, sampai kalian mengeluarkan ku dari circle ini? Apa kalian berpikir aku mendukung perbuatan ayahku? Atau kalian mengira aku mata-matanya? Apa aku terlihat seburuk itu?” cecar Malcolm.


“Lalu, apa yang akan kau lakukan setelah tahu semua itu?” tanya Mac duff langsung.


Hal itu sontak membuat Malcolm tercekat dengan pertanyaan dari rekannya tersebut. Dia sadar pasti ada keraguan di dalam hati semua orang, mengingat dia adalah anak seorang pembunuh.


Walaupun Malcolm tahu benar sang ayah sudah salah, tapi sebagai anak, di dalam hati dia juga ingin membela.


Namun, dia sadar betul bahwa semua perbuatan harus menerima ganjarannya, begitu pun dengan sang ayah.


“Aku anak ayahku. Aku berhak membelanya. Tapi sebagai manusia, aku pun sadar bahwa yang dilakukan ayahku adalah salah."


"Aku hanya bisa terus menjauh dari kalian, agar kalian tenang membalas dendam pada ayahku. Namun jika aku boleh meminta, berilah dia hukuman lain selain sama-sama dengan kematian,” ucap Malcolm.


“Apa kau kira Alpha akan puas hanya dengan membunuhnya?” tanya Mac duff cepat.

__ADS_1


Malcolm kembali terdiam beberapa saat. Terdengar helaan nafas berat dari mulut dokter itu. Hatinya sakit saat terpikir apa yang akan dilakukan oleh Ardiaz dan rekannya pada , ayahnya.


“Setidaknya, biarkan aku melihatnya menua, meski dalam kondisi yang sangat menyedihkan,” pungkas Malcolm lirih.


Ardiaz lalu memutus rekaman, dan melepas alat pendengar dari telinganya. Dia tak mau melanjutkan lagi apa yang terekam oleh alat penyadap itu.


Kini dia semakin yakin alasan di balik kepergian Malcolm adalah karena masalah tragedi keluarganya. Dokter itu melakukannya semata-mata demi agar dia tak menghalangi Ardiaz.


Meski sebagai seorang anak, Malcolm pasti sangat sakit hati mengetahui ayahnya akan mengalami pembalasan dendam dari temannya sendiri.


Di tengah pikirannya yang terus tertuju pada Malcolm, tiba-tiba dering ponsel membuyarkan lamunan.


Ardiaz segera melihat siapa yang menelponnya, dan mendapati nomor salah satu penjaga Hemachandra yang ia ketahui sedang berjaga di luar apartemen Evangeline.


“Ada apa?” tanya Ardiaz.


“Maaf, Tuan. Nona... Nona menghilang,” ucapnya.


.


.


.


.

__ADS_1


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih


__ADS_2