A Love To Killer

A Love To Killer
BABAK 2 : Makan malam


__ADS_3

Keesokan harinya, Evangeline nampak baru saja kembali dari rumah sakit setelah menjenguk sang suami, dan kini sedang bersiap di apartemennya untuk pergi dengan Malcolm sesuai janjinya kemarin.


Dokter itu mengajak Evangeline untuk makan malam bersama sekaligus ingin memperkenalkan gadis itu dengan seseorang.


Nampak Evangeline tengah menyelesaikan penampilannya. Dia terlihat cantik dengan balutan gaun monokrom berbahan katun yang nyaman.


Bagian atas berwarna hitam dengan aksen rumbai di salah satu pundak. Ikat pinggang dari pita besar, membuat kesan ramping dan tinggi pada yang mengenakan.


Terusan rok di bawah lutut berwarna dominan putih dengan aksen floral hitam, serta dilapisi kain tile berwarna senada, membuatnya terlihat anggun namun masih sesuai dengan usianya.



Rambutnya ia biarkan tergerai dengan sedikit dibuat bergelombang. Make up natural menghiasi wajah cantik gadis itu.


Tak berapa lama, terdengar bel pintu depannya berbunyi. Evangeline pun beranjak dari tempatnya dan melihat siapa yang datang.


Dari layar interkom, gadis itu bisa melihat seorang pria dengan pakaian yang begitu rapi, tersenyum ke arah kamera, membuat ukiran lengkung di bibir Evangeline mengembang.


Dia pun menekan tombol unlock, dan membuka pintu. Seketika, sebuket bunga segar langsung muncul tepat di depan wajahnya.


“Wah... Apa ini untuk ku?” tanya Evangeline.


Pria itu hanya tersenyum dan menyerahkan bunga tersebut kepada Evangeline. Sang gadis pun menerimanya dengan senang hati, dan mencium wangi yang menyeruak dari bunga-bunga itu.


“Sejak kapan dokter kaku sepertimu bisa semanis ini?” sindir Evangeline pada pria yang tak lain adalah Malcolm.


Dokter muda itu hanya tersenyum menanggapi ucapan Evangeline


“Apa kau sudah siap?” tanya pria tersebut.


“Ehm... Kau masuklah dulu. Aku akan ambil tasku,” ajak Evangeline.


Malcolm pun mengangguk dan masuk ke dalam. Dia duduk di sofa ruang tamu, sementara Evangeline menuju dapur.


Gadis itu mengambil sebuah vas, dan mengisinya dengan air. Dia membuka buket bunga pemberian Malcolm, dan memasukan batang bunga ke dalam vas yang berisi air agar tetap segar.


“Apa kau mau minum sesuatu?” tawar Evangeline.


“Tidak perlu. Sebaiknya kita segera berangkat. Mungkin orang itu sudah menunggu,” sahut Malcolm.


“Ah, begitukah? Baiklah, tunggu sebentar,” seru Evangeline.


Gadis itu pun lalu berlari ke kamarnya di lantai atas dan bergegas memasukkan ponsel serta dompet ke dalam tas tangannya. Dia tak lupa menyemprotkan parfum ke tubuhnya sebelum pergi.


Dia kemudian kembali ke bawah dan menghampiri Malcolm.


“Ayo pergi sekarang,” ajak Evangeline.

__ADS_1


Malcolm tersenyum melihat gadis itu sudah siap. Keduanya pun pergi bersama ke tempat yang sudah disiapkan oleh Malcolm.


Saat berada di parkiran basement apartemen, Malcolm seperti biasa selalu mencoba membukat pintu mobil untuk Evangeline, akan tetapi istri Ardiaz itu selalu lebih dulu membuka pintu untuk dirinya sendiri, seolah tak mau diperlakukan istimewa oleh sang dokter.


Hal itu, terus membuat senyum di wajah Malcolm tiba-tiba menghilang, namun dia kembali mengulas lengkung tipis untuk menutupi rasa kecewanya.


Keduanya kini telah duduk di dalam mobil dengan Malcolm yang memegang kemudi. Kuda besi itu melaju meninggalkan tempat parkir dan menuju ke jalan raya.


“Sebenarnya, siapa yang ingin kau kenalkan padaku, hem? Aku sangat penasaran. Apa mungkin dia benar-benar seorang gadis?” tanya Evangeline tiba-tiba.


Malcolm menoleh dengan kening berkerut, dengan sebelah sudut bibir yang terangkat ke atas.


“Apa menurutmu begitu?” tanyanya.


“Kau bilang dia spesial bukan? Apa mungkin ini seorang pria? Oh God! Apa jangan-jangan kau...,” terka Evangeline.


Gadis itu terkejut dengan pemikirannya sendiri, hingga menutup mulutnya dengan kedua tangan, serta bola mata yang melebar.


Melihat hal itu, Malcolm pun mencubit pipi Evangeline dengan gemas.


“Apa aku terlihat tidak normal di matamu, hah? Dasar gadis nakal,” keluh Malcolm.


Keduanya pun terkekeh.


“Maafkan aku. Aku tiba-tiba berpikir aneh dan bahkan geli sendiri jadinya. Hehehe...,” ucap Evangeline terkekeh.


Evangeline bahkan sampai lupa dengan apa yang saat ini sedang dihadapinya, dan kondisi sang suami yang masih koma.


Memang terlihat tak benar dia seperti ini. Disaat sang suami sedang terbaring di ranjang rumah sakit antara hidup dan mati, dia justru pergi dengan orang lain.


Bukan tanpa alasan dia melakukan hal ini. Di samping Malcolm yang sudah banyak membantunya di masa-masa sulit, Evangeline juga tak ingin terus terpuruk dan berdiam diri seperti zombie.


Dia yakin bukan ini yang diinginkan oleh sang suami. Lagipula, sejak awal dia memang sudah menganggap Malcolm sebagai teman, karena dia juga adalah teman suaminya sebelum menghilang dan dikabarkan mati oleh dokter itu.


Sekitar tiga puluh menit mereka berkendara, kini mobil berbelok ke sebuah tempat dimana terdapat restoran mewah yang terkenal dengan pasta dan beef steak-nya.


“Wah... Jadi kau membawaku ke mari?” ucap Evangeline kagum saat melihat tempat yang mereka tuju.


Dia kemudian menoleh ke arah Malcolm yang baru saja memarkirkan mobilnya dan kini terlihat telah mematikan mesin mobil.


“Aku benar-benar penasaran siapa orang spesial yang akan ku temui di dalam,” ucap Evangeline dengan memicingkan matanya ke arah Malcolm.


Pria itu tersenyum dan lagi-lagi mencubit pipi Evangeline gemas.


“Nanti juga kau akan tahu,” sahut Malcolm


Pria itu melepas sabuk pengaman dan turun dari mobil. Seperti biasa, Evangeline lebih dulu membuka pintu, dan itu membuat Malcolm menghela nafa panjang berkali-kali.

__ADS_1


Evangeline tanpa rasa bersalah melangkah menghampiri Malcolm dengan senyum manisnya.


“Kita masuk sekarang?” tanya gadis itu.


Malcolm mengangguk dan membimbing Evangeline untuk berjalan lebih dulu.


Mereka masuk ke dalam restoran yang nampak begitu mewah, dilihat dari interior yang terpajang di sepanjang lorong.


Seorang pelayanan yang menyambut mereka, menuntun kedua orang itu ke tempat yang sudah dipesan sebelumnya oleh Malcolm.


“Silahkan,” seru si pelayanan, saat mereka tiba di depan sebuah ruang private room khusus VIP.


“Masuklah,” timpal Malcolm.


Evangeline pun tanpa ragu melangkah ke dalam. Dia sedikit terkejut dengan keberadaan seorang pria paruh baya di dalam sana, hingga langkahnya terhenti dan membuat Malcolm juga berdiri di tengah pintu.


“Ah... Kalian sudah datang rupanya,” sapa orang yang ada di dalam.


Malcolm mendorong sedikit punggung Evangeline, membuat gadis itu menoleh ke arah sang dokter.


Pria itu tersenyum ke arah istri Ardiaz dan maju ke depan. Dengan sopan, dia membungkuk ke arah pria baruh baya di depan mereka.


“Kami sudah datang, Ayah,” sapa Malcolm.


Mendengar hal itu, Evangeline sontak menoleh ke samping di mana Malcolm berada. Dia terus menatap pria itu yang sejak tadi selalu tersenyum.


Malcolm balas menoleh ke arah Evangeline. Dia tahu bahwa saat ini gadis itu pasti sangat terkejut, karena tiba-tiba dia mengajak bertemu dengan ayahnya.


“Ayo kita duduk,” ajaknya.


Evangeline terlihat tak senang dengan hal ini. Seolah ada rasa tak nyaman yang membuat gadis itu tiba-tiba kehilangan senyum dan berwajah dingin saat menatap Malcolm.


Meski begitu, dia tak mungkin langsung berlari meninggalkan Malcolm, tanpa tahu apa tujuannya yang sebenarnya. Apa lagi di depan ayahnya sendiri.


Evangeline pun mau tak mau mengikuti permainan Malcolm dan duduk bersama dengan ayah pria itu, yang tak lain adalah CEO Andara Corporation, Morgan Andara.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih

__ADS_1


__ADS_2