
Kembali ke masa sekarang, tepatnya di rumah sakit, setelah Evangeline berhenti menangis. Dia kemudian mencoba berdiri meski kakinya terasa kram akibat terlalu lama duduk di sana.
Mac duff sama sekali tak mengatakan apapun lagi setelah Evangeline mengatakan bahwa ini adalah kunjungan terakhirnya.
Pikirannya terasa kosong, bahkan ada rasa hampa yang tiba-tiba muncul di dalam dadanya saat mengetahui hal itu.
“Aku akan pulang. Maafkan aku, karena selama ini pasti kau sangat kesal menghadapi sikapku yang kekanakan dan cengeng. Kau bisa tenang sekarang karena aku tak akan kemari lagi.”
“Aku mohon, tolong jaga dia kedepannya. Jika dia bangun nanti, katakan bahwa aku mencintainya,” ucap Evangeline.
Dia menoleh ke arah dalam, di mana sang suami masih terbaring tanpa respon apapun. Jelas terlihat kesedihan yang dalam di mata Evangeline.
“Kenapa tak kau katakan sendiri padanya?” sahut Mac duff.
“Karena jika aku masih di sini, semua itu hanya akan jadi omong kosong tanpa bukti. Aku pergi,” jawab Evangeline.
Gadis itu pun pergi dari sana dengan setetes air mata yang mengiringinya.
...❄❄❄❄❄...
Beberapa hari berlalu sejak Evangeline memutuskan untuk berhenti datang ke rumah sakit.
Gadis itu bahkan tampak tengah membereskan apartemen yang saat ini ditempatinya, seolah dia memang hendak pergi jauh.
Sejak saat itu juga, Joy setiap hari terus datang untuk melihat temannya, dan beberapa malam terakhir dia terus menginap di sana.
“Sebenarnya apa yang terjadi? Apa kau masih belum mau mengatakannya padaku?” tanya Joy di suatu petang.
Evangeline kali ini nampak mengepak pakaiannya ke dalam sebuah koper besar. Terlihat jelas jika putri Hemachandra itu hendak pergi jauh.
Joy yang duduk di atas tempat tidur dengan kedua lutut yang saling silang, terus memperhatikan teman yang sedang sibuk di depannya.
Istri Ardiaz itu terlihat mendudukkan dirinya di kursi rias, setelah meletakkan pakaian terakhirnya.
Bahunya turun, dengan punggung yang melengkung. Tatapannya nampak sepi dan raut wajahnya yang sejak tadi datar, kini terlihat muram.
Melihat hal itu, Joy pun beranjak dari duduknya dan menghampiri sang sahabat.
“Apa terjadi sesuatu yang buruk?” tanya Joy.
Jelas terlihat lapisan bening di mata Evangeline. Gadis itu menangkup wajah dan menyembunyikannya di balik telapak tangan.
Dia menyingkap rambutnya ke atas seraya menghirup nafas dalam-dalam. Jelas hidungnya pun mulai memerah dengan mata yang semakin berair.
“Aku akan pergi malam ini,” tutur Evangeline.
__ADS_1
Joy seketika terkejut mendengar hal ini. Dia tak menyangka bahwa Evangeline akan benar-benar pergi secepat ini.
“Kenapa mendadak? Bagaimana dengan suamimu? Lalu sekolahmu? Kita sedang berada di tengah semester,” cecar Joy.
Evangeline berkali-kali menghela nafas panjang untuk mengurai sesak di dadanya, dan menghalangi air mata semakin menggenang di pelupuk mata.
“Aku akan coba cari peruntungan di tempat lain,” sahut Evangeline.
Dia kemudian mengubah posisinya. Gadis itu membuka laci meja riasnya, dan mengambil dua buah kotak dari dalam sana.
Satunya adalah kotak beludru biru, yang dulu pernah diberikan oleh Malcolm, yang berisi kalung blue ocean milik ibu Ardiaz, cincin pernikahannya serta kalung mercusuar, yang dilengkapi dengan sistem Enel di dalamnya, yang sampai saat ini tak ada yang tahu kecuali Ardiaz dan Jordan.
Sedangkan kotak satunya berukuran lebih kecil berwarna coklat gelap.
Evangeline meletakkan kotak yang lebih besar di atas meja, dan menyerahkan kotak yang kecil kepada Joy.
“Ambillah,” seru Evangeline.
Joy tak langsung meraihnya. Dia hanya memperhatikan kotak itu dengan kening berkerut.
“Ini adalah semua kartu akses yang kudapat dari ayahku. Kunci apartemen ini, kartu bank dan sebagainya."
"Jika nanti kau kembali ke Wisteria atau ada anak buah ayahku yang datang mencariku, tolong berikan ini pada mereka, dan katakan bahwa aku sudah pergi,” pesan Evangeline.
“Memang kemana kau akan pergi, Eva?” tanya Joy.
Evangeline tersenyum tipis sebelum menjawab pertanyaan sahabatnya itu.
“Entah. Yang jelas, aku harus pergi dari sini, sebelum orang-orang ayahku datang. Aku ingin sekali ini saja menentukan hidupku sendiri."
"Cukup sekali ayah menentukan masa depanku yang berakhir seperti sekarang ini, dan lagi aku tak ingin mengkhianati suamiku sendiri dengan menerima orang lain,” ucap Evangeline.
“Jadi, kau mau kabur?" tanya Joy.
“Terdengar seperti pengecut ya? Hehehehe... Aku memang pecundang sejak awal. Hanya karena harta ayahku lah aku terlihat seperti seorang putri,” sahut evangeline dengan senyum getir.
Gadis itu menyudahi galaunya, dan berjongkok lagi di depan koper. Dia meletakkan kotak beludru biru gelap tadi di dalam sana, dan menutup benda tersebut rapat.
“Semuanya sudah siap. Sekarang aku harus bersiap dulu. Kau tak perlu mengantarkan ku ke bandara. Aku bisa pesan taksi sendiri,” lanjut Evangeline.
Gadis itu kemudian masuk ke dalam toilet untuk berganti pakaian.
Setelah lima belas menit berselang, dia telah kembali ke kamar dengan telah berganti penampilan.
Gadis itu terlihat mengenakan ripped jeans dan kaus oversize yang dimasukkan, kemudian dibalut dengan padding tebal yang menjuntai hingga betisnya.
__ADS_1
Di tangannya terdapat topi hitam yang siap digunakan. Evangeline berjalan ke arah nakas dan mengambil sebuah masker dari dalam laci.
Dia mengenakan masker itu dan juga topi yang sejak tadi dipegangnya.
Evangeline lalu berjalan mendekat ke arah Joy yang terduduk di kursi rias, sambil terus memperhatikan sang sahabat.
“Aku pergi. Jaga dirimu baik-baik. Jangan terlalu terlibat dengan mereka, dan kalau bisa berhentilah dari klub aneh mu itu, hem,” titah Evangeline.
“Kau benar-benar pergi malam ini?” tanya Joy.
“Ehm... Tentu. Aku sudah pesan tiket juga. Pesawat ku akan terbang sekitar satu setengah jam lagi. Aku harus bergegas sebelum tertinggal,” ucap Evangeline.
Gadis itu memandangi sahabatnya dengan seksama. Evangeline melihat rasa kehilangan di mata Joy, saat dirinya akan segera pergi.
Dia pun membungkuk dan memeluk hangat sahabatnya itu.
“Terimakasih atas semua yang sudah kau lakukan untuk ku selama ini. Berkat dirimu, aku bisa sedikit melepas beban yang terus mendesak ku, hingga bahkan untuk bernafas pun sangat sulit. Aku beruntung memiliki teman seperti mu, Joy. Terimakasih,” ucap Evangeline kemudian.
Keduanya pun saling berpelukan, dan meluapkan emosi yang saat ini mereka rasakan.
Lima menit sudah lewat, dan Evangeline merasa jika dia tak seharusnya melakukan hal sentimentil seperti ini.
Akhirnya dia pun melepas pelukan Joy yang sesenggukan karena tangisnya. Evangeline berbalik dan mengambil tas serta koper, lalu menarinya menuruni tangga.
Joy masih terlihat menangis melihat kepergian Evangeline, yang kini telah hilang di balik pintu.
Saat dia masih sibuk dengan tangisnya, Joy tiba-tiba teringat sesuatu dan menyeka air mata, lalu berbalik masuk ke dalam kamar.
Dia meraih ponsel yang berada di atas kasur dan segera menekan salah satu nomor kontak yang sering dihubunginya akhir-akhir ini.
“Halo, Kak. Dia sudah pergi,” ucap Joy.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih
__ADS_1