A Love To Killer

A Love To Killer
BABAK 2 : Pertemuan


__ADS_3

Setelah Joy datang, Ardiaz pun kemudian bersiap pergi. Dia berpesan kepada kedua wanita itu agar selalu berhati-hati dan usahakan jangan keluar dari apartemen demi keamanan.


Pria itu terlihat mendekat ke arah sang istri, dan memakaikan sesuatu di Lehernya.


“Pastikan kau tak pernah melepasnya. Aku janji akan segera kembali,” ucapnya.


Dia mengecup kening Evangeline lembut, dan mengusap puncak kepala sang istri. Nampak wanita itu berkaca-kaca, karena khawatir dengan suaminya.


“Sudah ku katakan aku tak butuh janjimu. Buktikan saja bahwa kau akan benar-benar melakukannya,” sahut Evangeline sembari menahan tangis.


Ardiaz tak kuasa melihat mata itu kembali basah. Dia pun memeluk erat tubuh ringkih Evangeline, dan membiarkan wanita itu merasakan dekapannya sebelum dia benar-benar pergi.


Setelah beberapa saat, Evangeline mengurai pelukannya dari sang suami, dan mendorong tubuh kekar itu menjauh.


“Pergilah dan cepat kembali. Aku akan menunggumu di sini,” ucapnya sambil mengusap jejak basah di pipinya.


Ardiaz pun beranjak pergi. Evangeline dengan berat hati melepas kepergian suaminya. Dia khawatir karena kondisi di luar masih sangat rawan untuk pria itu.


Evangeline takut jika dia sampai tertangkap lagi oleh orang-orang Lucifer, dan otomatis dia akan terpisah dari sang suami entah untuk berapa lama.


Dia bahkan tak bisa meminta bantuan siapapun dan berpura-pura tak terjadi apa-apa, karena itu hanya akan menambah beban bagi Ardiaz jika Evangeline sampai terlibat lagi.

__ADS_1


...❄❄❄❄❄...


Di tempat lain, tepatnya di sebuah pabrik tempat pengalengan ikan yang sudah tak terpakai, terlihat seorang pria berjalan dengan mengenakan hoodie hitam, masuk ke dalam banguna tersebut.


Dia terus berjalan hingga keluar melalui pintu belakang, di mana terdapat sebuah jalan setapak berpasir halus yang mengarah pada pemukiman nelayan.


Dari kejauhan, dia melihat pria lain yang sedang menyesap sebatang rokok dengan penampilan hampir sama dengannya, berdiri di pojokan tepat didekat sebuah gudang jerami.


“Apa kau tak diikuti?” tanya si perokok yang tak lain adalah Mac duff.


“Tidak ada orang di belakangku,” ucap si pria ber hoodie yang adalah Ardiaz.


Dia telah sampai di rumah panggung tempat persembunyian mereka selama ini. Mac duff melihat sekitar dan kemudian masuk, diikuti oleh Ardiaz.


Setibanya kedua orang itu di dalam, tampak Damian dan Jordan yang sedang sibuk dengan perangkat keras mereka.


Damian sudah memutuskan untuk setia pada Ardiaz, mengingat nenek pemilik toko tato yang telah disembunyikan oleh King palsu itu, hingga Lucifer tak bisa lagi melacaknya sampai saat ini.


Dia merasa berhutang budi, dan dengan senang hati membantu ketiga pria tersebut.


“Jangan memandang kami seolah kami melakukan kesalahan,” ungkap Damian.

__ADS_1


Pemuda itu melihat sorot mata Ardiaz yang nampak dingin, seolah tengah menelisik ekspresi di antara ketiga orang yang ada di dalam pondok tersebut.


Ardiaz duduk di sofa usang, sementara Mac duff berjalan ke arah lemari pendingin dan mengambil beer kaleng dari sana, lalu membawanya ke tempat Ardiaz berada.


“Minumlah. Di luar sangat terik bukan,” ucapnya.


Tanpa berkata, Ardiaz pun meraih kaleng beer dan meneguknya sebagian. Mac duff memilih duduk di atas sebuah tong kayu yang berada tak jauh dari sofa, sambil meminum miliknya.


“Sepertinya saat dia mendatangi kami, Beta sudah tahu semuanya,” ungkap Mac duff.


“Kami percaya pada perkataan mu bahwa dokter itu bersih. Jika tidak, pasti sudah kami bongkar semua di depan matanya langsung,” timpal Damian.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya

__ADS_1


terimakasih


__ADS_2