A Love To Killer

A Love To Killer
BABAK 2 : Bercerita


__ADS_3

Siang itu, Ardiaz memutuskan untuk mengungkapkan semuanya kepada sang istri, akan apa yang telah terjadi padanya semenjak kepergiannya dari Wisteria.


Dari mulai dia harus menyusup ke lelang Lucifer, hingga akhirnya dia mendapatkan kekalahan saat berada di gudang senjata.


“Aku mengira semua sudah berakhir saat itu, tapi ternyata dari sanalah semuanya bermula,” ucap Ardiaz.


Dia menoleh ke arah sang istri. Evangeline terus menatapnya tanpa bergerak sedikitpun. Gadis itu benar-benar sudah menunggu saat ini, dimana sang suami mengungkap semuanya.


Ardiaz tersenyum tipis, dan kemudian menghela nafas sebelum akhirnya melanjutkan ceritanya.


Dia pun menjelaskan kenapa dia memutuskan untuk menghilang, dan bagaimana Malcolm bisa mengatakan hal itu. Dia bahkan menceritakan tentang kalung blue ocean dan apa arti kalung itu baginya.


Dari sanalah Evangeline mengetahui kisah mengerikan di balik kalung yang begitu cantik, yang saat ini selalu disimpannya.


“Jadi, Lucifer adalah yang...,” ucap Evangeline terputus.


Ardiaz mengangguk dengan wajah yang lesu.


“Tapi kenapa kau justru bekerja dengan mereka, bahkan setelah tahu mereka yang melakukan itu pada orang tuamu?” tanya Evangeline.


“Awalnya aku juga ingin menghabisi mereka, tapi aku sadar bahwa aku hanya seorang diri sementara mereka sangatlah besar, dan lagi mereka hanya alat yang digunakan oleh seseorang di balik layar,” sahut Ardiaz.


Pria itu nampak menaikkan kakinya ke kursi. Dia bergerak ke samping dan merebahkan diri di samping Evangeline, dengan menjadikan paha gadis itu sebagai bantalan.


Evangeline sampai membatu saat suaminya meletakkan kepala di pangkuannya. Pria itu bahkan menggosokkan beberapa kali kepalanya di sana.


“Ah... Nyamannya. Tolong biarkan aku seperti ini beberapa saat,” pinta Ardiaz.


Evangeline nampak gugup melihat sang suami yang tiba-tiba bersikap manja seperti ini. Dia bingung harus apa.


Namun, gadis itu berusaha bersikap sewajarnya, dan membiarkan pria itu di sana sejenak. Tangannya terulur, dan membelai surai legam Ardiaz yang sudah lebih panjang daripada sebelumnya.

__ADS_1


Pria itu kembali menjelaskan alasannya bertahan di dalam Lucifer, yaitu mencari tahu siapa dalang di balik semua kejadian tragis yang menimpa keluarganya dulu.


Dia pun bercerita bagaimana dia selalu memberontak pada Emperor sejak awal, dan kenapa dia tiba-tiba diangkat menjadi King.


Tak lupa pula Ardiaz menceritakan tentang Jordan, yang sebenarnya adalah adik kandung Devonshire yang saat ini mengalami cidera otak, dan membuatnya menjadi pendiam seperti sekarang, dan tentang kalung mercusuar yang membuat sang Emperor semakin yakin bahwa Ardiaz adalah adiknya.


“Awalnya aku kesal dengan anak itu, tapi ternyata dia pun memiliki kisah yang hampir sama dengan apa yang terjadi padaku,” tutur Ardiaz.


“Benarkah?” tanya Evangeline.


Tangannya terus membelai lembut surai sang suami, hingga Ardiaz merasa begitu nyaman berbaring di sana.


“Ehm... Orang tuanya pun dibunuh. Dia curiga pada kakaknya, Emperor Lucifer, yang tiba-tiba menghilang dan mendadak muncul lalu mengambil alih kelompok tersebut,” ungkap Ardiaz.


Evangeline tak menyahut lagi. Namun, dia masih menunggu kelanjutan cerita sang suami.


Hal itu membuat Ardiaz berbalik dan menghadap ke atas, menatap lurus ke arah wajah istrinya.


“Apa ceritanya membosankan?” tanya Ardiaz.


Evangeline menggeleng pelang.


“Sama sekali tidak. Aku justru menunggumu melanjutkan ceritanya,” sahut Evangeline.


“Intinya, sekarang aku sedang melarikan diri dari Lucifer, karena aku sudah menemukan siapa orang yang memerintahkan Joker untuk membunuh orang tuaku,” ucap Ardiaz.


Jelas ada rasa sedih di dalam kata-katanya, meski dari luar pria itu nampak tersenyum. Evangeline bisa melihat hal itu, dan membuat hatinya pun terasa sakit.


Dia tak menyangka jika kisah hidup Ardiaz begitu sulit dan banyak sekali kerikil tajam yang tak jarang melukainya.


Satu tetes bening tiba-tiba meluncur dari pelupuk matanya tanpa ia sadari, terjatuh tepat di pipi sang suami.

__ADS_1


Ardiaz yang merasakan hal itu pun seketika bangun dan menangkup wajah istrinya.


“Kenapa menangis? Apa ceritaku membuatmu sedih?” tanya Ardiaz.


Evangeline menggeleng cepat, sambil punggung tangannya menyeka jejak basah di pipi.


“Aku merasa sangat bersalah padamu. Sejak dulu, aku selalu membencimu, sangat tak menyukaimu karena ayah lebih peduli padamu dan juga kakakmu. Aku tak pernah tahu bahwa selama ini kau hidup dalam trauma yang dalam.”


“Selama ini aku hanya tau kau seseorang yang menyebalkan, dingin dan kaku. Aku sama sekali tak tahu alasan dibalik semua itu. Maafkan aku,” ucap Evangeline.


Air matanya terus tumpah di wajahnya, membuat isaknya semakin terdengar jelas.


“Dasar gadis cengeng. Tau kau akan seperti ini, aku tak akan menceritakannya padamu,” ungkap Ardiaz.


“Tidak. Kau salah. Justru dengan begini aku bisa lebih memperhatikanmu ke depannya. Aku bisa mendampingi di sisimu dengan lebih baik, karena aku sudah tahu bagaimana situasimu. Bukankah kita suami istri?” ucap Evangeline.


Kata-kata Evangeline yang mengakui hubungan mereka, lagi-lagi membuat hati Ardiaz menghangat. Sebuah senyum tipis pun muncul di bibir King palsu itu.


“Benar, aku adalah suamimu,” ucap Ardiaz.


Dia pun kemudian mendekatkan wajahnya kepada sang istri, lalu mengecup lembut bibir gadis itu yang terasa asin bercampur dengan air mata.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya

__ADS_1


terimakasih


__ADS_2