
Sudah tujuh jam sejak Ardiaz masuk ke ruang operasi, dan sampai saat ini belum ada tanda operasi akan segera berakhir.
Mac duff yang menunggu di luar pintu ruang operasi, terus melihat perawat yang bolak balik mengambil kantung darah dan berbagai alat lainnya, membuat intensitas kepanikan semakin meningkat.
Sementara itu, dering panggilan dari nomor tak dikenal kembali masuk ke ponselnya, membuat Mac duff semakin galau.
Pasalnya dia tahu milik siapa nomor itu, dan Mac duff enggan untuk mengangkatnya saat ini, karena belum ada jawaban yang bisa dia berikan pada gadis yang tengah menunggu kabar tentang suaminya itu.
Detik berubah menit, dan menit berubah jam. Sudah begitu lama semua orang menunggu dengan cemas, tak terkecuali Evangeline yang terus menangis karena khawatir dengan kondisi Ardiaz yang bahkan dia tak tahu seperti apa.
Sore hari, tepat pukul tiga lebih lima belas menit, lampu ruang operasi padam. Tak lama kemudian, para tim medis keluar dari sana.
Mac duff yang melihat hal itu pun segera menghampiri semua orang dan menanyakan hasil operasi rekannya.
“Dokter, bagaikan kondisinya?” tanyanya langsung.
Dokter ketua menoleh ke arah Mac duff. Dia menghela nafas panjang sebelum akhirnya memberitahukan kondisi terakhir pasien.
“Operasinya berjalan lancar. Hanya saja, dia masih dalam kondisi kritis setelah banyaknya darah yang keluar dari tubuhnya. Kita berdoa saja agar dia cepatnya bangun,” terang dokter itu.
Dokter pun berjalan pergi meninggalkan Mac duff. Sementara pria seksi itu kembali membungkuk mengucapkan terimakasih kepada tim medis yang sudah bekerja keras.
Tak berapa lama, Devonshire bersama orang-orang Lucifer juga keluar dari ruang pemantauan, dan berbincang dengan dokter tadi.
Mereka berjalan bersama menuju ke suatu tempat, untuk mendengarkan penjelasan dari dokter tentang hasil operasi Ardiaz.
Mac duff yang masih berada di tempat, melihat perawat mendorong ranjang pasien dari dalam ruangan operasi, di mana Ardiaz terbaring di dalamnya.
Dia pun melihat rekannya itu yang masih terbaring dengan mata tertutup rapat, dengan banyaknya selang yang menempel di tubuhnya.
Matanya terasa panas, hingga lapisan bening muncul di sana. Namun, dia buru-buru menyekanya sebelum jatuh dan berjalan bersama perawat menuju ruang pemulihan.
Dokter menempatkan Ardiaz di sebuah ruangan steril khusu VVIP, dengan fasilitas terbaik serta penjagaan yang ketat.
Hal itu tentu saja atas perintah dari sang Emperor, Devonshire.
Dokter membatasi jumlah orang yang bisa masuk ke dalam. Maksimal hanya dua orang saja dan harus mengenakan pakaian steril.
Devonshire serta Joker masuk lebih dulu ke dalam. Entah apa yang dikatakan kedua orang itu, Mac duff hanya bisa melihat dari balik kaca tebal yang memisahkan bagian luar dan dalam ruangan.
Tak berapa lama, kedua pria dewasa itu keluar. Devonshire sepertinya masih marah dengan Mac duff, meskipun baik Joker dan juga Alexa sudah menjelaskan kejadiannya kepada sang Emperor.
__ADS_1
“Aku serahkan penjagaan di sini padamu, Papa bear. Pastikan anak buahmu tidak membuat kesalahan lagi,” ucap Devonshire.
“Baik, Tuan muda,” sahut Joker.
Devonshire lalu pergi dari sana diikuti Vermont dan yang lainnya. Alexa menatap Mac duff dalam diam, namun pria itu enggan menoleh dan terus membungkuk.
Alexa pun berbalik dan pergi dari sana mengikuti Devonshire.
Mac duff kembali berdiri tegak saat semua orang telah pergi. Dia bahkan menoleh dan melihat punggung Alexa yang telah berjalan menjauh.
Joker menepuk pundak Mac duff dan sedikit meremasnya.
“Tetaplah di sini. Jangan lupa obati juga lukamu,” seru Joker.
Dia pun pergi dari sana, mengikuti sang Emperor.
Kini, tinggal Mac duff bersama bawahannya yang bertugas menjaga ruang pemulihan Ardiaz.
Mac duff merasakan getaran dari dalam sakunya, dimana ponselnya yang tadi telah ia ganti pengaturannya ke mode getar.
Pria tersebut meraih benda pipih itu dan melihat nomor asing yang sudah berkali-kali menghubunginya.
Kali ini, dia menggeser tombol hijau ke kanan dan menempelkannya di depan telinga.
Gadis itu sudah benar-benar diluar batas kesabarannya. Rasa khawatir membuat sikapnya begitu kasar.
Mac duff menghela nafas panjang terlebih dahulu sebelum mengatakan kenyataan sebenarnya tentang sang rekan.
“Apa Joy ada bersamamu?” tanya Mac duff.
“Untuk apa kau menanyakannya? Dia ada di sini sejak tadi. Oh... Ayolah. Kumohon jangan bertele-tele. Katakan di mana dia, ku mohon,” pintanya putus asa.
“Gunakan pengeras suara agar dia bisa mendengarnya,” ucap Mac duff.
Evangeline pun segera menuruti perintah bos sky night itu.
“Sudah. Sekarang, cepat katakan padaku, di mana Ardiaz,” seru Evangeline.
“Dia baru saja selesai dioperasi selama lebih dari dua belas jam, dan saat ini kondisinya masih kritis,” ungkap Mac duff.
“Ya, tuhan.” Evangeline menangkup mulutnya rapat, dengan air mata yang kembali terjun bebas ke pipinya.
__ADS_1
Dadanya sesak mendengar kondisi sang suami yang seperti dikata oleh Mac duff.
“Operasinya berjalan lancar. Tapi Dokter berkata, karena banyak darah yang keluar, ada kemungkinan dia tidak akan bisa bangun lagi. Kecuali jika Tuhan benar-benar ada dan memberikan keajaiban padanya,” lanjut Mac duff.
Seketika, tangis Evangeline pecah. Dia tak sanggup menerima kabar menyakitkan itu.
Mac duff pun tak mau membuat gadis itu sedih, namun haknya mengetahui kondisi suaminya saat ini.
Joy yang ikut mendengarkan pun tak bisa untuk tak menangis. Dia seolah ikut merasakan betapa sakitnya hati Evangeline, saat mengetahui kondisi suami yang sudah susah payah ia cari selama ini.
Tapi baru saja bertemu, mereka justru mendapatkan musibah seperti ini.
“Aku ingin menemuinya. Di mana dia sekarang. Aku mohon padamu, aku ingin melihatnya,” pinta Evangeline.
“Maaf, Eva. Untuk saat ini, akan sulit membawamu kemari. Posisi Alpha benar-benar berbeda, tidak seperti dulu. Secepatnya aku akan cari cara untuk membawamu kemari. Tapi ku mohon, kau harus tenang. Demi Alpha... Tidak... Kau harus kuat demi suamimu. Apa kau mengerti?” bujuk Mac duff.
“Diaz... Kenapa bisa begini. Kenapa? Joy, bagaimana ini?” ratap Evangeline.
Joy terus memeluk sahabatnya itu, seraya mengusap lembut punggung gadis yang sedang terguncang itu.
Namun, disela tangisnya, Joy tiba-tiba teringat sesuatu dan menanyakan langsung pada Mac duff.
“Kak Mike, ini aku Joy. Bisa aku bertanya sesuatu?” tanya Joy ditengah isaknya.
“Ada apa?” sahut Mac duff.
“Bukankah King kalian juga sekarat? Apa mungkin...,” ucap Joy terputus.
“Ini bukan jangkauan mu. Lebih sedikit kau tahu, kau akan semakin aman. Tolong mengertilah,” sela Mac duff.
Dia pun pamit dan menutup panggilan. Sementara di seberang sana, Evangeline terus menangisi nasib suaminya yang berada di antara hidup dan mati.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
__ADS_1
terimakasih