
Beberapa waktu yang lalu, Evangeline yang terkejut melihat keberadaan Martin di depannya, mencoba mundur untuk menghindari pria itu.
Namun, Martin terus mendekat hingga gadis itu semakin ketakutan.
Dia tanpa sengaja tersandung kakinya sendiri, hingga terjungkal. Makanan yang dibawanya jatuh dan sebagian tercecer keluar dari kotak.
Evangeline lengah, hingga Martin berhasil meraihnya. Pria itu menarik lengan istri Ardiaz dengan kuat, hingga gadis itu tertarik ke atas dan terhuyung ke arah pria tersebut.
Evangeline berontak, namun Martin justru mendekap tubuh kecil gadis itu dengan erat.
“Lepaskan aku,” pinta Evangeline.
Wajahnya jelas menunjukkan ketakutan, dan hal ini semakin membuat Martin senang.
“Bukankah kita belum saling menyapa sejak bertemu?” ucap Martin.
Dia menyeringai melihat gadis yang saat ini ada di dalam pelukannya.
Sekuat tenaga Evangeline terus meronta, namun tenaganya kalah jauh dari pria itu.
Pikirannya dipenuhi ketakutan dan hal-hal mengerikan, hingga dia diam-diam mencoba meraih ponsel dari dalam sakunya untuk menghubungi seseorang.
Namun baru saja dia berhasil mengambilnya, Martin yang melihat segera merebut dan melemparnya ke lantai.
“Oh... Rupanya kau tak mau menyapaku, hah? Baiklah, kalau begitu aku akan langsung memperkenalkan diri. Ayo cantik, kita saling berkenalan,” ucap Martin.
Dia menyeret Evangeline yang terus meronta, tanpa peduli dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk mata gadis itu.
“Kumohon, jangan seperti ini. Tolong lepaskan aku,” pinta Evangeline.
__ADS_1
Dia benar-benar ketakutan dengan perlakuan Martin kepadanya.
Pria itu lalu membawanya ke sebuah ruangan, dimana di penuhi dengan peralatan kebersihan yang masih berada di area parkiran.
Martin melempar tubuh Evangeline hingga gadis itu tersungkur membentur beberapa alat-alat yang berada di sana.
Pria itu nampak melepas ikat pinggang, lalu meraih kedua tangan gadis itu. Dia mengangkat tangan Evangeline dan mengikatnya di salah satu pipa yang ada di sudut ruangan.
“Apa yang kau lakukan. Tolong, lepaskan aku,” pekik Evangeline.
Tatapan Martin benar-benar seperti serigala yang siap menerkam mangsanya, terlebih saat ini mangsanya telah terikat dan tak bisa apa-apa lagi.
Martin menjepit kedua pipi Evangeline, dan membuat gadis itu tak bisa berbicara dengan jelas.
“Awalnya, aku hanya berniat menyapamu saja, tapi rupanya kau yang ingin langsung berkenalan denganku. Jadi, apa aku salah jika ingin memperkenalkan diri dan membuatmu tak melupakan pria ini. Hahahaha...,” ucap Martin.
Evangeline menggeleng dengan lelehan air mata yang sudah mengalir di wajahnya. Dia terus berontak, hingga ikatan di tangannya melonggar.
Benda tersebut adalah sebuah lakban hitam. Dia pun mengambil beberapa bagian dan mengikat lengan gadis itu, menggantikan ikat pinggang yang ikatannya kurang kuat.
Sementara itu, dia mengambil beberapa beberapa sentimeter lagi untuk menutup mulut Evangeline agar tak bisa berteriak, serta mengikat kedua kakinya agar tak bisa menendangnya.
Martin menyeringai melihat mangsanya yang meronta. Dia mulai mendekat. Sangat dekat sampai hidungnya pun bisa menyentuh leher jenjang gadis itu.
Martin mengendus wangi Evangeline, membuatnya meremang. Istri Ardiaz itu berusaha menjauhkan diri namun karena ikatannya yang kuat, membuatnya tak bisa bergerak sama sekali.
Martin semakin turun ke lekukan tulang selangka Evangeline, dan menjilati bagain itu dan membuat gadis itu semakin ketakutan.
Tangannya mulai menjelajah ke bawah, meraba punggung bahkan satu tangannya berusaha masuk ke balik kau yang dipakai gadis itu.
__ADS_1
Ku mohon siapapun tolong aku, batinnya.
Tangan hangat Martin mulai menyentuh kulit mulus Evangeline. Menjalar dari perut dan naik hingga ke bawah dadanya.
Evangeline pun menangis sejadinya karena benar-benar tak tau harus berbuat apa. Martin menatap wajah gadis itu dengan penuh hasr*t.
Dia semakin bersemangat melihat Evangeline yang menangis ketakutan dan putus asa.
“Kita bahkan belum memulainya, Sayang,” ucap Martin sambil memberikan sentuhan pada kulit pinggang Evangeline.
Gadis itu memejamkan mata sembari berteriak sekuatnya, meski suaranya tak bisa keluar sama sekali.
“Apa kau tahu, kenapa aku melakukan ini padamu?" tanya Martin.
Wajahnya kembali mendekat ke telinga Evangeline,hingga deru nafasnya begitu terasa dan membuat gadis itu semakin tak tenang.
"Salahkan kekasihmu itu. Dia sudah berani menghinaku, memarahiku, bahkan memukulku di depan semua orang, padahal dia itu cuma seorang bawahan."
"Benar, aku lah yang membuat temannya itu sekarat, lalu kenapa? Salahnya sendiri beraninya memimpin pasukan. Hanya karena dia adik Emperor, lalu dia dengan mudah mengambil semuanya. Harusnya aku... Aku yang lebih dulu menjadi King daripada dia," ucap Martin berteriak tepat di wajah Evangeline, hingga membuat gadis meronta semakin kuat.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
__ADS_1
terimakasih