
Beberapa waktu kemudian, Ardiaz dan yang lainnya sudah tiba di rumah sakit. Malcolm segera meminta ruang operasi untuk melakukan tindakan terhadap Evangeline.
Namun, ada yang aneh dengan dokter tersebut. Dia tak menghubungi dokter bedah, melainkan dokter kandungan.
Ardiaz yang mengetahui hal itu pun menghampiri Malcolm dan menarik kerah dokter muda tersebut.
“Apa yang kau lakukan? Istriku sudah sekarat dan kau masih melakukan lelucon? Cepat panggil dokter bedah dan temukan luka di tubuh istriku!” serunya kasar.
Namun kali ini Malcolm tak tinggal diam. Melihat Evangeline yang terus merintih di ranjang UGD, dokter itu menghempaskan cengkeraman tangan Ardiaz dengan kasar dan berjalan melewatinya.
“Pastikan Dokter Antony segera menangani wanita itu...,” ucapnya pada perawat yang melakukan pertolongan pertama pada Evangeline.
“... Dan kau, ikut aku,” lanjutnya pada Ardiaz.
Melihat wajah Malcolm yang begitu serius, bahkan sampai harus menjauh dari Evangeline, Ardiaz pun merasa ada hal penting yang akan dikatakan mengenai sang istri.
“Jaga di sini. Aku akan segera kembali,” seru Ardiaz pada Mac duff.
Dengan terpincang-pincang, Ardiaz mengikuti kemana Malcolm pergi. Rupanya dokter itu membawa Ardiaz masuk ke dalam ruangannya, yang berada tak jauh dari unit gawat darurat.
Setelah keduanya masuk, Malcolm menutup pintu dan meminta Ardiaz untuk duduk.
“Langsung saja. Aku tak butuh basa basimu,” tepis Ardiaz.
Malcolm terlihat menghela nafas berat karena terus mendapat penolakan dari Ardiaz.
Dia pun lalu berjalan ke arah meja kerja dan duduk di kursinya. Dengan kedua siku yang bertumpu di meja dan jemari yang saling bertaut, Malcolm mulai membuka suara.
“Dia keguguran,” ucapnya.
Ardiaz seketika membelalak. Otaknya mendadak tak berfungsi, bahkan pendengarannya seolah kabur dan tak mampu mendengar jelas.
Keningnya berkerut dengan alis yang hampir menyatu.
Malcolm bisa melihat kebingungan di wajah temannya itu. Dengan berat hati, dia pun mengulangi apa yang tadi dia katakan.
“Evangeline mengalami pendarahan yang menyebabkan keguguran. Jika dilihat dari pertama kali dia mengeluarkan darah, bisa dipastikan saat ini janin itu sudah tak bisa diselamatkan.”
“Fokus kita adalah, menyelamatkan sang ibu yang kritis. Kita butuh banyak suplai darah. Aku sudah menghubungi bank darah, akan tetapi lebih efektif jika saat ini kita memiliki orang yang bisa langsung mendonorkan darahnya sambil menunggu kiriman dari sana,” jelas Malcolm panjang lebar.
__ADS_1
Akan tetapi, yang bisa ditangkap oleh telinga dan otak Ardiaz hanya satu kata, yaitu keguguran.
Melihat Ardiaz mematung, Malcolm pun tak lagi mengatakan apa-apa. Dia tau, kabar ini pasti mengejutkan untuk pria tersebut.
Bisa ditebak bahwa mungkin saja saat ini pria tersebut belum tahu sang istri hamil. Itulah yang membuat Ardiaz semakin terkejut dengan kabar itu.
Tiba-tiba, kesadarannya kembali. Ardiaz seketika berlari keluar dan menuju ke arah unit gawat darurat, dimana dia meninggalkan sang istri sebelumnya.
Akan tetapi, dia tak mendapati Evangeline ataupun Mac duff. Saat dia mengedarkan pandangan, Malcolm kembali menghampirinya.
“Operasi sedang berjalan sekarang. Room tiga di lantai satu,” ucapnya.
Tanpa berkata-kata lagi, Ardiaz pun langsung berlari ke arah ruang operasi berada.
Benar saja, Mac duff telah lebih dulu berada di depan ruang operasi, sambil duduk menyangga kepalanya.
“Sudah berapa lama?” tanya Ardiaz langsung.
Mac duff menangkap wajahnya dan melihat kedatangan Ardiaz yang disusul oleh Malcolm.
“Sekitar lima belas menit yang lalu. Evangeline sempat mengalami serangan, tapi bisa segera dikembalikan,” tutur Mac duff.
“Ambil milikku,” ucap Ardiaz.
Dia menoleh ke arah dokter itu dan mengulangi perkataannya.
“Darahku sama dengannya. Ambil milikku,” ucapnya lagi.
“Apa kau tidak melihat kondisimu? Kau juga sama kehilangan banyak darah. Ada dua luka tembak yang harus segera diobati. Kau tak masuk kriteria pendonor,” tepis Malcolm.
Namun bukan Ardiaz jika mau begitu saja menerima perkataan orang lain. Dia justru maju dan kembali mencengkeram kerah baju sang dokter.
“Aku tidak peduli dengan itu. Cepat lakukan saja,” ucapnya penuh penekanan.
Malcolm bisa saja langsung menerima tawaran Ardiaz demi Evangeline, akan tetapi sebagai seorang dokter, dia tak mungkin membiarkan pasien yang sama-sama kehilangan darah, saling mendonorkan satu sama lain.
“Biar aku saja yang mencoba. Aku hanya punya satu luka tembak dan itu tak terlalu parah. Kau bisa mengobatinya dan mengambil darahku,” ucap Mac duff tiba-tiba.
“Tidak, kau sama dengannya. Kalian berdua harus diobati, bukan malah mendonorkan darah,” tolak Malcolm.
__ADS_1
“Kalau begitu biar kami saja,” ucap sebuah suara yang berasal dari lorong di depan sana.
Malcolm kembali melepas cengkeraman Ardiaz dari pakaiannya, dan menepuk bagian yang kusut akibat ulah King palsu itu.
“Apa kalian cocok dengannya?” tanya Malcolm.
“Coba periksa saja,” jawab yang tak lain adalah Jordan dan juga Damian.
Keduanya masih berada di rumah sakit. Mereka lebih dulu melakukan panggilan dan melaporkan situasi di tempat mereka.
Keduanya kemudian bergabung dengan semua orang, dan melihat keributan yang membahas mengenai pendonor untuk Evangeline.
“Sepertinya kau tak bisa melakukannya, Charlie. Anak muda, apa kau juga memiliki tato di tubuhmu?” tanya Malcolm.
Dia ingat bahwa Jordan sudah memiliki tato Lucifer sejak lama ditubuhnya, yang membuatnya tak bisa menjadi pendonor.
“Tidak. Aku sama sekali tidak pernah di tato. Kau bisa memeriksanya sendiri,” jawab Damian.
Kini harapan tinggal ada pada Damian. Dialah satu-satunya anggota Lucifer yang tidak memiliki tato, atas permintaan nenek pemilik toko tato tradisional.
Akhirnya, Damian pun melakukan tes dan beruntung darahnya cocok dengan Evangeline.
Ardiaz meminta Malcolm untuk mengambil darah pemuda itu sebanyak-banyaknya, agar sang istri bisa selamat.
Dia bahkan marah saat tahu hanya ada dua kantung darah yang bisa diambil dari tubuh hacker muda itu.
“Apa kau mau aku mati kehabisan darah, hah? Kau ini benar-benar b*doh,” gerutu Damian yang baru saja keluar dari ruang transfusi.
Mereka kini masih menunggu kabar dari dalam ruang operasi. Ardiaz sejak tadi terus mondar-mandir tak tenang, membuat suasana semakin mencekam.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
__ADS_1
terimakasih