
Di sebuah ruangan periksa yang kosong dengan hanya sebuah ranjang pasien yang tertutup kain gorden, serta satu seta meja kursi yang digunakan oleh dokter jaga dan juga sebuah lemari kabinet yang berasal i sudut, nampak Evangeline berbaring di atas ranjang pasien ditemani oleh sang suami.
Sementara seorang dokter dengan jas putihnya yang tak lain adalah Malcolm, terlihat memegangi stetoskop dan melakukan pemeriksaan terhadap wanita itu.
Dia yang sejak tadi mengajak keduanya mengikutinya, terus diam tanpa sepatah katapun terucap dari mulutnya.
Sementara itu, wajah Ardiaz terlihat begitu datar menatap sang dokter, seolah dia tidak suka jika sang istri disentuh olehnya.
Meski sebenarnya, Malcolm bahkan menempatkan stetoskop tanpa membuka pakaian Evangeline sedikitpun.
Namun, tak ada pilihan lain karena disamping harus memeriksa kondisi sang istri, Ardiaz pun harus menghindari orang-orang Lucifer yang bisa saja membuatnya kerepotan, terlebih kondisi Evangeline saat ini sedang tidak baik-baik saja.
“Kenapa kau bisa sampai sakit begini, Eva? Apa suamimu tidak mengurusmu dengan benar? Apa dia tidak baik padamu?” cecar sang dokter.
Evangeline seketika menoleh ke arah sang suami, yang terlihat tak senang dengan ucapan dari dokter muda itu.
“Aku tidak apa-apa. Ini hanya demam biasa. Ardiaz yang terlalu panik karena begitu khawatir dengaku,” sahut Evangeline.
“Benarkah? Syukurlah kalau dia sudah mau menjagamu dengan baik,” sahut Malcolm.
__ADS_1
Saat Malcolm hendak menarik stetoskopnya, tak sengaja dia menyenggol syal yang terus dipakai Evangeline, dan terlihatlah jejak merah di area sekitar leher dan dadanya.
Sebuah senyum getir pun muncul di bibir sang dokter.
“Lain kali, jangan terlalu keras dengan istrimu. Bukankah ini pertama kali untuknya?” tanya Malcolm.
Ardiaz masih tak bereaksi, sementara Evangeline sudah memerah karena malu tertangkap oleh Malcolm.
Dokter itu lalu berjalan ke arah meja dan menulis sesuatu di sana.
“Aku minta maaf padamu karena sudah lancang menyukai istrimu. Tapi, kau juga masih hutang penjelasan, kenapa kau tiba-tiba menghilang dan sikapmu yang berubah padaku,” ucap Malcolm.
Dia mengenal Ardiaz. Pria itu tak akan berubah sikap jika tak ada alasan mendasar. Jika karena Evangeline, Ardiaz pasti akan memilih untuk terus menghilang dan membiarkan sang istri bersama dengan Malcolm.
Tapi saat ini, adik Aaron itu justru begitu terlihat aneh. Dia seolah menghindari Malcolm bahkan saat mereka kembali bertemu setelah sekian lama.
Setelah diperiksa, Evangeline pun bangun dan dibantu sang suami kembali duduk di kursi roda.
Malcolm yang telah selesai menulis pun menghampiri keduanya.
__ADS_1
“Ini resep obat yang perlu dia minum. Pastikan untuk dihabiskan agar pemulihannya maksimal,” seru Malcolm pada Ardiaz.
Dia lalu berjongkok di depan Evangeline, dan mengusap surai kemerahan wanita itu.
“Eva, ku ucapkan selamat karena kau sudah berhasil menemukan suamimu lagi,” ucap Malcolm.
Dia bahkan tersenyum begitu tulus pada Evangeline, meski tak bisa dipungkiri bahwa hatinya masih sakit atas penolakan dari gadis yang selama ini dia dampingi.
Malcolm kembali berdiri berhadapan dengan Ardiaz, dengan kedua tangan yang masuk ke dalam saku jubahnya.
“Aku tahu kau sekarang menjadi buronan Lucifer. Sebaiknya, jangan libatkan Evangeline kedalam masalahmu, Alpha. Atau aku akan benar-benar mengambilnya dari mu,” seru Malcolm.
.
.
.
.
__ADS_1
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih