A Love To Killer

A Love To Killer
BABAK 2 : kedatangan Martin dan Alexa


__ADS_3

Melihat reaksi Evangeline yang tiba-tiba kaku, Ardiaz pun meraih ponsel dari sang istri. Dia melihat nama Mike di sana yang berarti itu telepon dari Mac duff.


“Ada apa?” tanya Ardiaz.


“Martin sedang menuju ke tempatmu. Cepat beritahu Eva untuk segera pergi. Aku akan menahannya sebisaku,” ucap Mac duff dari seberang panggilan.


“Baiklah,” sahut Ardiaz.


Sambungan pun terputus. Dia beralih melihat ke arah sang istri yang nampak bingung. Gadis itu sudah berdiri, namun tangannya gemetar hingga kesulitan menata kembali alat medis yang dibawanya.


Pria itu meraih masker yang tergelatak di atas nakas dan memakaikannya di wajah sang istri.


Evangeline menatap Ardiaz cemas.


“Kau keluarlah. Delta akan mengulur waktu untuk mu,” seru Ardiaz.


Evangeline tak merespon. Gadis itu hanya berbalik dan berjalan keluar dari ruangan tersebut. Ardiaz pun terlihat cemas, namun dia percaya bahwa rekannya pasti bisa diandalkan.


Selang beberapa menit kemudian, kegaduhan diluar membuat King palsu itu menoleh. Pintu terbuka dan terlihat seorang wanita seksi bersama seorang pria masuk ke dalam ruang rapatnya.


Mac duff tak menyusul ke dalam, dan itu menandakan bahwa sang rekan sedang mengantarkan kepergian Evangeline.


Kedua tamunya itu tak lain adalah Alexa dan Martin. Mereka sengaja datang karena ada hal yang akan disampaikan oleh keduanya.


Martin terlihat langsung duduk di sofa, sementara Alexa menghampiri Ardiaz yang sudah kembali berada di atas tempat tidur, sambil bersandar di head board.


“Bagaimana kondisimu? Apa lukanya sudah membaik?” tanya Alexa peduli.


Namun, Ardiaz terlihat dingin kepada wanita itu, dan sama sekali tak mau merespon pertanyaan tadi.

__ADS_1


Pandangannya justru tertuju pada Martin, yang sejak tadi terus memperhatikannya.


“Apa mau mu kemari?” tanya King palsu itu.


Martin melihat tatapan tak suka dari Ardiaz akan kedatangannya di sana. Dia pun mencondongkan tubuhnya ke depan dengan kedua siku yag bertumpu pada lututnya.


“Kami kemari karena ingin membawa teman idiot mu itu. Dia dicurigai telah berkhianat dan bekerja sama dengan pihak musuh,” ucap Martin dengan seringai mengejeknya.


Ardiaz nampak geram. Tangannya mengepal kuat meremas selimutnya, setelah mendengar perkataan dari King Interogator itu.


Alexa nampak menggeleng jengah dengan bola mata yang berputar ke atas. Wanita itu merasa apa yang dikatakan oleh Martin adalah sesuatu yang gegabah.


“Kenapa kalian tidak langsung ke tempatnya dan bawa langsung anak itu pergi? Bukankah sangat mudah untuk menangkap si idiot itu?” tanya Ardiaz.


Martin terkekeh mendengar pertanyaan dari King palsu itu.


“Jadi, Apa sekarang kau sedang perlu ijinku? Jika iya, tentu aku tak mengijinkannya,” sahut Ardiaz mencoba tetap tenang.


“Oh ayolah. Siapa kau? Kau hanya adik Devon. Itu tak berarti apa-apa, karena sebenarnya kau dan Delta pun sama-sama mencurigakan. Hanya saja kau dan dia lebih beruntung karena masih berguna untuk Lucifer. Sehingga dia tak akan menyentuh kalian selama kau dan temanmu itu tak membuat masalah,” jelas Martin.


“Martin, Sudah cukup. Alpha, Intinya kami kemari karena perintah Devon. Dia meminta kami berdua untuk membawa Charlie. Tapi sepertinya, Joker tak mau memberikan Charlie tanpa perintah darimu,” ungkap Alexa.


Mendengar hal itu, Ardiaz bukannya marah malah dia justru terkekeh.


“Jika kami bertiga mencurigakan, bukankah yang paling mencurigakan itu adalah orang yang mengacaukan rencana dan membuat kehilangan banyak anak buah?”


“Ku rasa, Satu-satunya King wanita kita yang cerdas ini pun bisa berpikir sampai ke sana, bukan? Atau insting mu sudah tak setajam itu, Alexa?” ucap Ardiaz dengan tatapan lurus ke arah Martin.


King Interogator itu pun meradang mendengar perkataan Ardiaz yang seolah menuduhnya.

__ADS_1


“Kau... Apa kau sedang mencoba membalikkan tuduhan padaku? Heh... Jangan harap kami akan mendengarkan perkataanmu. Itu semua hanya asumsi mu saja yang kesal karena kalah bertarung dengan musuh,” tepis Martin.


Pria itu bangun dan dengan kesal berjalan keluar, meninggalkan ruangan tersebut. Namun, saat dia belum sampai pintu, Ardiaz kembali berucap.


“Apa kau yakin ini tuduhan tak berdasar? Bagaimana kalau aku menemukan sesuatu tentang kejadian itu, hah?” ucap Ardiaz dengan mata yang terus mengincar King arogan yang sudah berani mengusiknya.


Martin terlihat menoleh ke samping sekilas, lalu kembali melangkah keluar dari sana.


Alexa yang melihat hal itu pun mendengus kesal, dan berbalik hendak ikut pergi.


“Ku peringatkan pada kalian untuk tidak menyentuh Charlie, atau nasib sial akan menghampiri kalian semua,” ancam Ardiaz.


Alexa kembali memutar bola matanya jengah. Dia sama sekali tak takut dengan ancaman Ardiaz, hanya saja dia tak mungkin mengabaikan perkataan dari penyelamatnya.


Di satu sisi dia harus menyelesaikan tugas, namun di sisi lain, ada hutang budi yang harus dia bayar.


Alexa pun pergi dari sana dan menyusul Martin.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih

__ADS_1


__ADS_2