A Love To Killer

A Love To Killer
BABAK 2 : Bertemu Malcolm


__ADS_3

Beberapa hari sudah berlalu, dan kondisi Ardiaz semakin membaik. Evangeline pun setiap hari masih terus datang dengan berpura-pura menjadi seorang perawat.


Dengan kondisi Ardiaz yang seperti saat ini, Evangeline bisa menemani suaminya berjalan-jalan di sekitar taman dan menikmati udara segar.


Kini, keduanya nampak sedang berada di taman belakang rumah sakit, di mana banyak bunga-bunga cantik bermekaran di pertengahan musim semi ini.


“Dokter sudah mengijinkan ku untuk pulang. Sepertinya, aku akan keluar dari rumah sakit besok,” ucap Ardiaz.


Pria itu tengah duduk di salah satu bangku taman yang ada di sana, sementara Evangeline berdiri di sampingnya. Beberapa pengawal terlihat berjaga di sekitar area tersebut untuk memastikan keamanan sang King palsu.


Mac duff pun berada di sana dan memastikan selalu bahwa Evangeline benar-benar aman selama berada di dekat Ardiaz.


“Apa kau benar-benar sudah pulih?” tanya Evangeline.


Ardiaz menoleh dan menatap wajah sang istri yang sejak tadi terus melihat ke depan.


“Bukankah kau sendiri yang merawat ku setiap hari. Apa kau tak bisa melihat kemampuan penyembuhan tubuhku?” sahut Ardiaz.


Evangeline terlihat menundukkan pandangannya. Kakinya menendang debu yang begitu halus dan tak terlihat di depan sepatunya.


“Apa kau tak senang kalau aku sudah baik-baik saja? Apa kau mau aku terus sakit, hah?” tanya Ardiaz.


“Aku tidak sekejam itu. Aku hanya berpikir, semenjak kau di rumah sakit, kita bisa setiap hari bertemu. Lalu, setelah kau keluar, bagaimana kita akan bertemu? Apa kita akan sulit berkomunikasi lagi seperti dulu?” tanya Evangeline.


Mendengar penuturan sang istri, Ardiaz kini paham apa yang membuat gadis itu terus murung sejak tadi.


Dia pun membuang pandangannya ke depan tanpa menjawab pertanyaan Evangeline sebelumnya.


Suasana hening seketika. Keduanya terlihat canggung. Hingga tiba-tiba, Evangeline beranjak dari posisinya dan mengajak Ardiaz untuk kembali ke kamarnya.


“Ayo kita masuk. Udaranya semakin dingin. Kau bisa sakit nanti,” ucap Evangeline.

__ADS_1


Gadis itu menyiapkan kursi roda dan mengambil selimut dari atas pangkuan suaminya.


Namun Ardiaz meraih tangan istrinya, akan tetapi ditepis oleh Evangeline.


“Di sini terlalu banyak orang. Bisa gawat kalau sampai ada yang mengadukan mu pada Emperor,” ucap Evangeline.


Ardiaz pun menghela nafas panjang melihat sikap Evangeline yang tengah merajuk itu. Dia lalu bangun dan beralih ke kursi roda.


Pria itu membiarkan Evangeline untuk mendorong benda tersebut dan membawanya kembali ke kamar rawat.


Sepanjang jalan, keduanya diam. Mac duff yang melihat kecanggungan kedua orang itu pun merasa aneh.


Kini, keduanya berada di depan sebuah lift yang akan membawa mereka ke lantai dimana ruang rawat Ardiaz berada.


Saat pintu terbuka, seseorang nampak terkejut melihat keberadaan Ardiaz yang duduk di atas kursi roda, bersama seorang perawat yang mirip dengan gadis yang dikenalnya.


Begitupun dengan Ardiaz dan juga Evangeline yang tak kalah terkejutnya melihat orang itu. Begitu pun Mac duff yang melihat hal tersebut dari jarak yang cukup jauh, membuat dia segera menghampiri mereka berdua.


“Dokter, sebaiknya kau tak menghalangi kami,” sela Mac duff diantara ketiga orang itu.


Dokter yang tak lain adalah Malcolm itu pun kembali terkejut dengan keberadaan Mac duff bersama dua orang ini.


“Kau... Kau juga? Jadi, selama ini kalian menipu kami?” tanya Malcolm.


Dia kembali menghadap ke arah Ardiaz. Dokter itu bergantian menatap pria yang duduk di kursi roda itu dan juga gadis di belakangnya, yang saat ini tengah menyamar menjadi seorang perawat.


“Bahkan kau juga menutupinya dari ku, Eva,” ucap Malcolm kecewa.


“Sebenarnya apa yang membuatmu sekecewa ini, hah? Tak memberitahuku bahwa aku masih hidup, atau justru karena aku masih hidup?” tanya Ardiaz.


“Apa maksudmu? Tentu aku senang kau masih hidup. Tapi kenapa kau tak memberitahuku semua ini?” sahut Malcolm.

__ADS_1


“Apa kau yakin karena itu? Bukankah kau kecewa karena akhirnya kau benar-benar tak bisa memiliki Eva?” cecar Ardiaz.


Malcolm seketika terdiam.


“Aku tahu kau dekat dengannya setelah kepergianku. Tapi maaf, setelah ini tolong kau jauhi istriku. Mengerti?” ucap Ardiaz.


Melihat lift kembali terbuka, demi menghindari situasi canggung ini, Evangeline pun segera mendorong kursi roda sang suami dan meninggalkan Malcolm yang masih mematung.


“Sejak awal kau memang bagian dari kami. Tapi semenjak di kota ini, sebaiknya kita tak saling terlibat lagi. Itu saran terakhirku sebagai teman,” ucap Mac duff pada Malcolm.


Sang Duke pun ikut masuk dan mengawal Ardiaz serta Evangeline kembali ke kamar.


Setelah pintu lift di tutup, dokter muda itu menoleh dan menatap nanar pintu besi tersebut.


Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang sejak tadi bersembunyi di sebuah sudut gelap, terlihat menyeringai setelah melihat semua adegan yang terjadi di depannya.


“Bagus. Aku akhirnya memiliki kartu mati kalian,” gumamnya.


Seringai itu terlihat begitu mengerikan. Orang misterius tersebut pun pergi dari tempatnya, meninggalkan Malcolm yang dipenuhi dengan kekecewaan.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih

__ADS_1


__ADS_2