
Ardiaz yang tertembak pun jatuh ke tanah, tepat di depan mata Alexa. Wanita itu membelalak. Tatapannya kosong dengan penuh air mata yang menggenang di pelupuknya.
Dengan cepat, dia mengangkat senjatanya dan menembak orang tadi tepat di kepala hingga tewas seketika.
Bantuan sudah datang dan mereka mengambil alih pertempuran. Dari kejauhan, nampak Vermont datang dengan senjata laras panjang di kedua tangannya, menembak siapapun yang menghalangi di depannya.
“ALPHA, BERTAHANLAH!” teriak Alexa.
Ardiaz sudah tak bisa berkata-kata, dan hanya bisa menatap wajah wanita cantik yang kini membiarkan pahanya menjadi bantalan.
Vermont melihat kondisi Ardiaz dari jauh dan segera berlari melesat ke arah kedua King itu.
“Apa yang terjadi? Kenapa tuan muda sampai seperti ini?” tanyanya.
“Apa ini waktunya bertanya hal bod*h seperti itu? Cepat selamatkan dia!” seru Alexa.
Air matanya sudah berderai di wajah cantik nan seksi itu. Alexa yang selalu kuat dan sadis itu seolah menghilang, menjadi seorang gadis biasa yang terlihat begitu panik.
Vermont pun lalu menekan sesuatu yang ada di telinganya.
“Bawa mobil kemari, cepat!” serunya.
Dia berbicara namun tangannya terus mengarahkan senjata ke arah lawan. Tak berapa lama, muncul dua orang dari dalam air.
Mereka adalah Mac duff dan juga Martin yang baru saja selamat dari dinginnya air laut.
__ADS_1
Darah terlihat keluar banyak dari pelipis Mac duff, sementara Martin kesulitan naik ke daratan karena kakinya terluka saat melompat.
Mereka terkejut melihat banyaknya mayat di depan mereka, dan kebanyakan adalah anggota pasukan Lucifer milik King Martin.
Dari kejauhan, Mac duff melihat Alexa yang memeluk seseorang. Pria itu langsung bisa mengenali siapa yang tergeletak di sana, dan segera berlari meninggalkan Martin yang kesulitan berjalan.
Beberapa kali dia memukul musuh dengan tangan kosong untuk bisa sampai ke tempat Alexa.
“Alpha... Dia... Kenapa dengan Alpha?” tanya Mac duff panik melihat rekannya nampak sedang sekarat.
Belum sempat Alexa menjawab, sebuah mobil berlapis anti peluru melaju cepat menerobos kerumunan, dan berhenti tepat di depan Ardiaz.
“Cepat bawa dia pergi. Pastikan dia selamat, atau kalian akan menerima hukuman berat,” seru Vermont.
“Kau duduklah di sampingnya,” seru Mac duff.
Dia pun lalu masuk ke kursi depan. Dari kejauhan, Mac duff melihat Martin berjalan terpincang sambil ikut masuk ke dalam pertempuran.
Mobil itu melaju begitu cepat membawa Ardiaz yang sudah tak berdaya. Suami Evangeline itu bahkan sudah tak sadarkan diri, dengan darah yang terus keluar dari luka-luka yang dialaminya.
Wajahnya sudah sangat pucat. Alexa terus menangis tanpa suara. Air matanya meluncur deras tanpa adanya isak.
Dia merasa bersalah, karena demi melindunginya, Ardiaz mengorbankan diri dan rela menjadi tameng.
Belum pernah ada orang yang melakukan hal seperti ini sebelumnya kepada dirinya. Jika pun ada, itu karena mereka memiliki niat tertentu, seperti layaknya Martin yang selalu manis padanya hanya karena Alexa adalah kesayangan Devonshire.
__ADS_1
Begitu pun Devonshire yang hanya memanfaatkan tubuh Alexa demi kepuasan nafsunya, dan juga kekuatan tempur wanita itu yang sudah tak diragukan lagi, yang bisa memperkuat pasukannya.
Meskipun demikian, dia hanyalah seorang wanita biasa yang akan luluh ketika mendapatkan perhatian tanpa syarat dari orang lain.
Seperti yang selalu dia ingat, bahwa Ardiaz tak pernah bersikap manis sedikit pun padanya. Namun, dalam hal ini justru dialah yang maju dan menolongnya.
Dalam kondisi sekarang sekalipun, Ardiaz masih bersyukur karena Alexa baik-baik saja.
Kenapa harus ada pria bod*h seperti mu? Kenapa harus menolongku? Kenapa tak biarkan aku terluka saja? Kenapa tiba-tiba baik seperti ini? Aku paling benci berhutang budi, kau tau? Batin Alexa di sela tangisnya.
Dia terus berusaha menekan luka Ardiaz, meski sepertinya percuma karena darah terus saja keluar.
Ku mohon bertahanlah. Aku janji tidak akan mengganggumu lagi. Tolong tetaplah hidup, ratap Alexa dalam hati.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih
__ADS_1