
Setelah pagi yang begitu canggung, kini Ardiaz terlihat telah berada di dapur, tengah menyiapkan sarapan untuk dirinya dan sang istri.
Dia bangun lebih dulu dan mandi lebih dulu, karena Evangeline yang terus bengong setelah serangan mendadak dari Ardiaz.
Dari arah tangga, terdengar langkah kaki yang sudah bisa dipastikan adalah milik Evangeline.
Gadis itu rupanya sudah selesai mandi dan berganti pakaian. Kini, dia berjalan ke arah dapur menghampiri sang suami.
“Apa kau sudah lapar?” tanya Ardiaz saat melihat sang istri membuka lemari.
Gadis itu mengambil air minum dan berdiri di sampingnya.
“Apa yang kau masak?” tanya Evangeline.
Dia meneguk air di tangannya, sambil memperhatikan wajan yamg penuh dengan campuran sayur dan daging.
“Aku membuat tumis daging lada hitam. Aku ingat kau sangat suka masakan ini saat di rumah,” jawab Ardiaz.
Gadis itu seketika menoleh dan menatap wajah pria yang terus fokus pada wajannya.
“Tidak perlu terharu begitu. Anggap ini permintaan maafku karena sudah menggodamu pagi-pagi,” ucap Ardiaz tiba-tiba.
Hal itu sontak membuat Evangeline mendengus kesal, mengingat kejadian pagi tadi. Gara-gara Ardiaz, dia sampai terlihat seperti seseorang yang bod*h, sampai-sampai dia merutuki dirinya sendiri selama berada di kamar mandi.
Ardiaz menoleh dan tersenyum mengejek ke arah sang istri. Evangeline pun kesal dan memukul lengan pria itu sedikit keras.
“Menyebalkan,” keluh Evangeline.
Bukannya kesakitan, Ardiaz justru terkekeh melihat wajah kesal sang istri.
Evangeline pun berjalan menjauh dan pergi ke arah ruang tengah. Dia duduk di sofa rendah yang berada di sana, lalu menyalakan TV.
__ADS_1
Dia meletakkan air minumnya di atas meja dan menyandarkan punggungnya di sana. Tangannya berkali-kali memegangi pipinya yang terasa panas, setiap kali ciuman pagi tadi teringat di otaknya.
Ada apa denganku? Kenapa rasanya panas begini, batin Evangeline.
Dia mengalihkan fokusnya dengan menonton acara di TV.
Tak lama berselang, Ardiaz memanggilnya untuk segera menuju ke meja makan. Evangeline pun melihat sang suami tengah memindahkan masakannya ke atas piring, dan berjalan ke arah meja.
Dia lalu bangun dan menghampiri pria tersebut.
“Apa kau sudah selesai?” tanya Evangeline.
Dia melihat beberapa hidangan yang tersaji di sana. Ada tumis daging dan sayuran yang dilihatnya tadi, ada telur gulung dan juga chicken katsu.
Senyumnya mengembang tat kala melihat makanan yang sering dia lihat di rumah sang ayah, yang sudah sangat lama tak ia rasakan.
“Cicipilah,” seru Ardiaz.
Pria itu bahkan telah mengambilkan sepotong daging tumis dan hendak menyuapkannya kepada Evangeline.
Senyumnya mengembang, dan wajahnya terlihat sangat senang merasakan makanan yang tengah berada di dalam mulutnya.
“Wah... Ini benar-benar mirip. Rasanya seperti berada di rumah. Dari mana kau belajar membuatnya?” tanya Evangeline takjub.
“Tentu saja dari Tuan Delfin. Dari siapa lagi,” sahut Ardiaz.
Dia terlihat berbalik hendak menuju ke dapur.
“Apa kau butuh bantuan? Apa masih ada yang kurang?” tanya Evangeline mengekor.
“Tolong ambilkan alat makan. Aku akan mengupas buah dulu untuk pencuci mulut,” seru Ardiaz.
__ADS_1
“Baiklah. Aku juga akan mengambilkan nasinya,” sahut Evangeline.
Gadis itu pun melakukan apa yang diperintahkan. Setelah selesai, keduanya duduk saling berhadapan di meja makan.
Ardiaz meminta Evangeline untuk memimpin doa sebelum makan. Dengan gaya khasnya, Evangeline mengucapkan doa kepada Tuhan, atas rasa syukurnya telah diberikan rezeki untuk bisa makan di pagi ini.
Tak lupa juga, dia mengucapkan syukur karena akhirnya bisa kembali bersama sang suami, dan meminta untuk tetap bisa merasakan hal ini dalam waktu yang lama.
Mendengar doa itu, hati Ardiaz seketika menghangat. Sebuah senyum simpul muncul menghiasai wajah tegas itu, sambil terus menatap wajah Evangeline yang masih serius berdoa.
Setelah mengucap amin, keduanya pun memulai makan. Evangeline mengambilkan nasi untuk sang suami.
Ardiaz dengan senang hati menerimanya. Dia bahkan balas mengambilkan lauk dan meletakkan di piring Evangeline.
“Ambilkan yang itu juga,” pinta Evangeline sambil menunjuk chicken katsu.
Ardiaz terkekeh kecil dengan sikap manja sang istri. Dengan gemas, dia mengacak puncak rambut Evangeline, dan membuat gadis itu manyun sambil merapikan rambutnya.
“Kau ini. Lihat! Rambutku jadi berantakan lagi,” gerutu Evangeline.
“Hehehe... Maafkan aku. Aku hanya tak tahan melihat wajahmu yang menggemaskan. Sudah jangan cemberut. Cepat makan. Nanti dingin,” seru Ardiaz.
Dengan bersungut-sungut, Evangeline pun memulai sarapan pagi pertamanya bersama sang suami.
.
.
.
.
__ADS_1
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih