
Bibir mereka saling bertaut, Ardiaz terus menyesap dan memberi gigitan kecil di sana hingga membuat Evangeline terus mengerang lirih.
Tangannya telah menjalar kemana-mana, menjelajahi setiap inci tubuh sang istri. Dia bahkan telah menyelusup masuk ke balik pakaian Evangeline, dan mengusap lembut permukaan kulit gadis itu.
Evangeline semakin gelisah, dengan tangannya yang terus meremat rambut belakang Ardiaz, sambil terus mengimbangi permainan lidah sang suami.
Ardiaz melepas pagutannya setelah bermain selama sekitar lima belas menit, karena merasa Evangeline kewalahan mengikutinya.
Dia menempelkan keningnya pada Evangeline, seraya mengatur nafasnya yang tersengal. Sama halnya dengan Evangeline. Gadis itu seolah kehabisan nafas karena Ardiaz yang begitu agresif.
Setelah merasa nafasnya sedikit membaik, Ardiaz tiba-tiba bangun dan mengendong Evangeline, membuat gadis itu terkejut dan seketika melingkarkan lengan di leher sang suami.
Tatapan keduanya terus beradu, sambil Ardiaz terus berjalan ke kamar. Evangeline lalu menyandarkan kepalanya di dada sang suami, dan merasakan degupan jantung Ardiaz yang begitu cepat dan jelas.
Sesampainya di sana, Ardiaz merebahkan tubuh sang istri di atas tempat tidur. Dia membelai lembut pipi Evangeline, sambil terus memandangi wajah cantik itu.
“Jika kau belum siap, katakan saja. Aku tak akan memaksamu,” ucap Ardiaz.
Evangeline terlihat ragu. Dia menggigit bibir bawahnya. Meski begitu, dia pun sadar bahwa dirinya menginginkan hal ini.
Mata keduanya saling pandang, seolah tengah memberi satu sama lain. Ardiaz masih menunggu jawaban Evangeline, sambil terus membelai lembut surai kemerahan istrinya.
“Cu... Cukup katakan kau mencintaiku, dan tak akan lagi meninggalkanku, maka akan ku berikan segalanya untuk mu, suamiku,” ucap Evangeline tersipu.
Ardiaz nampak tersenyum tipis. Dia mengecup kening sang istri, dan mengucapkan sesuatu di sana dengan lirih.
“I love you,”
__ADS_1
Dia kemudian mengecup kelopak mata gadis itu, dan kembali mengucapkan sesuatu.
“Be mine Forever,”
Ardiaz lalu mengecup puncak hidung mancung Evangeline, dan mengadakan kembali sesuatu.
“I will never let you go anymore, my wife,”
Keduanya pun saling pandang. Senyum manis Evangeline menghiasai wajah sayu itu, dengan genangan yang muncul di matanya.
Ardiaz kembali mendaratkan ciumannya di bibir Evangeline, yang langsung disambut oleh gadis itu dengan melingkarkan lengan di leher Ardiaz, menekan tengkuk pria itu hingga mereka begitu rapat tanpa jarak.
Setelah mengucap janjinya, Ardiaz pun memberikan cinta kasihnya kepada sang istri. Disela pagutan, keduanya membantu melepaskan pakain di tubuh masing-masing dan melemparkannya begitu saja ke segela arah.
Hasrat mereka menggebu seirngin hilangnya pelapis di tubuh. Pemandangan indah tubuh Evangeline, membuat Ardias kesulitan menelan salivanya.
Akan tetapi, setelah mencoba beberapa kali, akhirnya dia bisa menerobos pertahanan Evangeline, merobek lapisan tipis dan mengalirkan darah perawan istrinya.
Meski awalnya begitu menyakitkan, namun seiring hentakan dan gerakan pinggul Ardiaz naik dan turun, Evangeline pun mulai terbiasa dan menikmati percintaan ini.
“Aaaaahh... Diaz... Love you,” ucap Evangeline di sela des*hannya.
Pria itu semakin terpacu setiap kali mendengar suara-suara indah yang keluar dari mulut istrinya.
Dia terus bergerak berirama, seiring hasr*t yang semakin memuncak, hingga Evangeline terlihat melenguh diikuti dengan sensasi berkedut di dalam miliknya, yang menandai pelepasannya.
Ardiaz pun mempercepat lajunya, hingga peluh bercucuran dari tubuh keduanya. Sampai tibalah Ardiaz terdengar mengerang panjang, di ikuti dengan hentakan pinggulnya yang berkali-kali menghantam dinding rahim Evangeline, yang semakin lama semakin melambat.
__ADS_1
Pria itu ambruk di atas tubuh sang istri, seraya meluknya. Dia berbaring di dada Evangeline, dengan nafas yang memburu serta degup jantng yang begitu cepat.
Evangeline mengusap lembut surai hitam legam sang suami, sambil mengatur nafasnya yang masih tersengal akibat hentakan Ardiaz yang bertubi-tubi menghujam miliknya.
Setelah merasa sedikit membaik, Ardiaz melepas penyatuannya dari sang istri, dan berbaring di samping gadis yang kini telah menjadi wanita seutuhnya itu.
Dia menarik tubuh kecil Evangeline ke dalam pelukannya, dan mengecup lembut puncak kepala sang istri.
“Aku mencintaimu, Eva. Aku mencintai mu, istriku,” ucap Ardiaz.
Evangeline balas memeluk Ardiaz sambil mengangguk malu, dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang pria itu.
Setelah pergulatan yang cukup melelahkan, keduanya pun tertidur hingga petang.
.
.
.
.
Panas ya 😏😄 dimohon cari pasangan masing-masing yes 🤭 selamat menikmati, gengs 😘
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih
__ADS_1