
Beberapa saat kemudian, Alexa nampak berjalan ke arah ruang kebersihan yang ada di area parkir basement rumah sakit.
Dengan kedua tangan terlipat di depan dadanya, dia berjalan perlahan menyusuri jalur pejalan kaki.
Saat tiba di ruangan tersebut, dia melihat Martin yang tengah duduk dengan satu kaki tertekuk ke atas, sementara yang lain lurus ke depan.
Punggungnya bersandar pada dinding sementara tangannya sibuk menyeka darah yang keluar dari lukanya.
“Bod*h. Apa kau belum sadar juga, kalau kau akan selalu kalah dari Delta. Dia itu seperti bison liar. Sekali kau usik, kau sendiri yang akan hancur,” ucap Alexa.
“Heh... Bukankah kau juga akan senang ketika gadis itu rusak? Aku tau kalau kau menaruh hati padanya, dan kau sangat tidak senang melihat gadis sok suci itu berkeliaran di dekat si gig*lo itu,” sindir Martin.
“Benar atau tidak aku menaruh hati pada Delta, itu semua adalah urusanku. Tak ada sangkut pautnya sama sekali denganmu, Martin."
"Bukankah ini semua kau lakukan karena rasa kesalmu yang selalu dikalahkan oleh Delta dan juga Alpha? Jangan seret aku dalam kebod*han yang kau buat."
"Sekarang, tanggung sendiri semuanya. Aku tidak mau ikut campur dalam bisnis yang sudah jelas akan merugi,” balas Alexa dengan senyum mengejek.
Wanita itu kemudian berbalik dan berjalan ke arah sebuah mobil yang sudah menunggunya di ujung sana.
...❄❄❄❄❄...
Beberapa saat yang lalu, Mac duff yang berhasil menyelamatkan Evangeline, bermaksud mengantarkan gadis itu pulang.
Namun, istri Ardiaz tersebut tak mau dan meminta untuk dibawa ke tempat sang suami berada.
“Apa kau yakin?” tanya Mac duff.
Evangeline mengangguk pelan. Isaknya masih terdengar, membuat nafasnya belum bisa lancar.
Bos sky night itu melihat gadis tersebut dari atas ke bawah, memastikan kondisinya benar-benar baik-baik saja.
Memang tak ada luka serius selain lebam di wajah, goresan kecil dan juga bekas ikatan di tangan serta kakinya.
Hanya saja, pakaiannya sudah rusak dan itu pasti membuat Evangeline merasa tak nyaman.
Dia ingat bahwa Alexa membawa dua buah paper bag, dimana salah satunya pasti berisi pakaian ganti untuknya.
__ADS_1
Helaan nafas mengakhiri waktu berpikir Mac duff. Dia pun lalu membawa Evangeline ke atas, dimana ruang perawatan Ardiaz berada.
Pria itu terus merangkul pundak Evangeline, memastikan jaketnya menutupi tubuh istri temannya.
Sesampainya mereka di tempat Ardiaz, alexa yang menyadari kedatangan mereka pun nampak menoleh sekilas lalu kemudian kembali membuang muka.
Mac duff berjalan ke arah kursi tunggu, dan meraih paper bag yang dibawa wanita seksi tersebut.
“Pergilah ke kamar mandi dan ganti bajumu,” seru Mac duff pada Evangeline.
Alexa menoleh dan melihat barang bawaannya justru diberikan begitu saja pada orang lain.
“Kenapa kau memberikan itu padanya? Apa aku membawakan semua ini untuk dia, hah?” protes Alexa.
Mac duff menoleh dan menatap dingin kearah wanita seksi itu.
“Bukankah kau membawa ini untuk ku? Apa salahnya ku berikan padanya. Lagipula, sebaiknya sekarang kau temui temanmu di bawah. Mungkin saja dia saat ini sedang sekarat,” sahut Mac duff.
Alexa nampak memicingkan kedua mata hingga kedua alisnya nyaris bertaut.
“Apa yang kau lakukan pada Martin? Kau...,” tanya Alexa terhenti.
Ditambah, jaket Mac duff dipakai seolah untuk menutupi sesuatu. Alexa nampak mengepalkan tangannya dan berjalan pergi.
“Dasar pria bod*h,” rutuknya lirih pada Martin.
Dia pun berlalu dan pergi menemui Martin di bawah sana.
Seperginya Alexa, Mac duff kembali meminta Evangeline untuk mengganti pakaiannya sebelum menemui Ardiaz.
Dengan ragu, istri Ardiaz itu pun menerima paper bag dari Mac duff, dan pergi ke kamar mandi.
Dia memasuki salah satu bilik yang ada di sana, dan duduk di atas closet. Dia meraih sesuatu yang ada di dalam paper bag itu.
Ada sebuah kemeja dengan ukuran besar, celana, kaus dan juga pakaian dalam. Evangeline pun mengambil kaus dengan ukuran Mac duff, dan mengganti miliknya yang sudah koyak akibat ulah martin.
Nampak kebesaran untuk Evangeline, namun dia menggulungnya dan memasukkan bagian bawah ke dalam celana ripped jeans-nya.
__ADS_1
Bagian lengan pun ia gulung hingga di atas siku, agar tak terlihat terlalu kebesaran. Setelah selesai, dia ke luar dan berdiri di depan wastafel.
Dia membetulkan rambutnya yang berantakan, dan sedikit menutup lebamnya dengan make up.
Gadis itu merasakan perih di lengan, dan mendapati luka gores. Namun, dia tak menghiraukan sama sekali dan hanya mencucinya dengan air bersih.
Kausnya yang rusak ia buang ke tempat sampah, sementara jaket flanelnya dia ikatkan ke pinggang.
Merasa sudah cukup baik, Evangeline pun keluar dari sana dan menuju kembali ke tempat sang suami berada.
Dia meletakkan paper bag itu di samping Mac duff, sementara dia sendiri langsung masuk ke dalam, menemui sang suami.
Evangeline berusaha tersenyum saat memasuki ruangan steril tersebut, meski matanya kembali berkaca-kaca.
“Hai, selamat siang,” sapa Evangeline.
Gadis itu berusaha menahan tangisnya di depan sang suami, yang masih terbaring tak berdaya di atas tempat tidur.
Sepertinya, Ardiaz masih betah tidur dan enggan untuk membuka matanya.
“Apa hidupmu begitu sulit? Apa kau lelah, sampai kau belum mau bangun juga?” tanya Evangeline.
Genangan di pelupuk matanya mulai menumpuk hingga tak bisa lagi dibendung.
“Aku membutuhkanmu, Ardiaz. Aku takut di sini sendirian. Aku mohon. Bangunlah, Ardiaz,” pinta Evangeline.
Gadis itu tak kuat. Tangannya menggenggam erat tangan Ardiaz. Dia pun kembali menangis di samping ranjang sang suami.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
__ADS_1
terimakasih