A Love To Killer

A Love To Killer
BABAK 2 : Morning kiss


__ADS_3

Keesokan paginya, sinar mentari mengusik kedua insan yang tengah terlelap bersama. Cahayanya masuk menerobos tirai yang menutupi jendela dan membuat Evangeline terbangun lebih dulu karena cahaya yang menyilaukan.


Dia mengerang lirih sembari mencoba membuka matanya yang masih terasa berat.


Namun, dia seketika membuka lebar matanya saat merasakan bahwa sesuatu tengah melingkar di pinggangnya.


Ketika dia membuka mata, hampir saja gadis itu memekik, kalau tidak segera dibekap sendiri oleh tangannya.


Dia melihat dada bidang sang suami yang berada tepat di depan wajahnya. Meski masih aman karena tertutup pakaian, namun jarak mereka yang begitu dekat membuat jantung Evangeline seakan hampir melompat kaget.


Dia melihat sekitar. Gadis tersebut menyadari bahwa posisi tidur mereka semalam sangatlah dekat, bahkan bisa dikatakan rapat.


Sangking gugup dan terkejutnya, dia sampai menahan nafas dan terus membekap mulutnya.


Evangeline mendongak ke atas, dan melihat bahwa sang suami masih memejamkan matanya. Dia bisa bernafas sedikit lega, karena mengira bahwa dia bisa pergi diam-diam sebelum Ardiaz terbangun.


Namun seolah terhipnotis akan paras sang suami, pandangannya tak bisa lepas dari wajah pria tersebut. Entah kenapa, Evangeline begitu terpesona dengan apa yang dilihatnya saat ini.


Wajah yang biasa terlihat dingin dan galak itu, kini terlihat begitu tenang dan damai. Tak ada yang akan mengira bahwa pria ini adalah salah satu pemimpin geng mafia terbesar di seluruh negeri ini.


Evangeline terlihat mengulas sebuah senyum tipis, saat memandangi wajah Ardiaz. Perasaan damai itu pun ikut mempengaruhinya, hingga tak sadar tangannya telah mendarat di pelipis sang suami.


Dia terkejut dengan apa yang dilakukannya sendiri, dan segera menarik tangannya kembali.


Namun, tiba-tiba Ardiaz menangkap tangan istrinya dan menahannya tetap di posisi semula. Evangeline terkejut, akan tetapi dia lebih panik lagi saat melihat mata Ardiaz telah membuka sepenuhnya.


“Le... Lepaskan,” pinta Evangeline.


Wajahnya sudah bersemu merah. Dia bahkan menunduk tak berani lagi menatap wajah suaminya.


Ardiaz tak melepas tangan Evangeline begitu saja. Pria itu justru menarik gadis itu semakin mendekat hingga menempel pada tubuhnya, lalu dia kembali mendekap erat tubuh kecil itu.


Evangeline semakin gugup. Jantungnya sudah tak aman. Degupannya hampir membuat dia meledak.


“Kenapa harus sembunyi-sembunyi, hem?” tanya Ardiaz.

__ADS_1


“A... Apa maksud mu?” tanya Evangeline gugup.


“Jangan mendadak amnesia. Bukankah kau sangat mengagumiku tadi, sampai tak sadar kalau aku sudah bangun,” jawab Ardiaz.


Prai itu terus mengeratkan pelukannya hingga Evangeline tak bisa bergerak sedikit pun.


“Ka... Kapan kau bangun?” tanya Evangeline lagi.


“Sejak kau menggeliat tadi, aku sudah bangun lebih dulu. Tapi aku malas membuka mata,” jawab Ardiaz.


Hal itu sontak membuat Evangeline mendongak, dan dengan kesal memukul dada bidang Ardiaz.


“Hei, jadi kau mengerjai ku? Kenapa kau tak langsung bangun. Dasar pria licik,” keluh Evangeline.


“Siapa yang licik? Aku sejak tadi hanya diam, dan tidak mengambil kesempatan sama sekali saat kau tertidur. Bukankah kau sendiri yang licik, karena terus menyentuhku saat mengira aku masih pulas, hah?” sahut Ardiaz menggoda.


“Wahhh... Siapa yang mengambil kesempa...,”


CUP!


HEK!


HEK!


HEK!


Evangeline pun cegukan akibat serangan mendadak oleh Ardiaz. Pria itu bahkan sampai harus memejamkan matanya rapat-rapat demi menahan tawa, karena melihat sang istri yang sampai seperti itu.


“Apa kau terkejut?” tanya Ardiaz menahan senyum.


Dia terus mengul*m bibirnya agar tak kelepasan tertawa.


Evangeline hanya bisa mengangguk karena belum sepenuhnya sadar dari keterkejutannya.


Melihat sang istri yang terus cegukan seperti itu, membuat Ardiaz merasa tak tega.

__ADS_1


“Pasti tidak nyaman yah?” tanya Ardiaz.


Evangeline mengangguk dengan masih terus cegukan.


“Mau ku sembuhkan dengan cepat tidak?” tanya Ardiaz lagi.


Gadis itu diam karena tak paham dengan apa yang dikatakan oleh sang suami.


Tiba-tiba, Ardiaz meraih tengkuk sang istri, dan mendekatkan wajahnya ke wajah Evangeline. Hembusan nafas hangat menerpa kulit gadis itu hingga membuat dia spontan memejamkan mata.


Sebuah kecupan lembut mendarat di bibi mungil Evangeline. Merasa tak adanya penolakan, Ardiaz pun memperdalam nya. Dia menggigit sedikit bibir bawah sang istri, dan membuatnya membuka mulut.


Dengan lihainya, pria itu sudah menerobos masuk mengabsen deretan gigi putih yang tersusun rapi di dalam rongga mulut Evangeline.


Lidahnya mengajak gadis itu menari, saling membelit dan bertukar saliva. Evangeline terlihat kepayahan mengimbangi suaminya dan hampir tak bisa bernafas karena ciuman itu.


Merasa bahwa nafas Evangeline mulai tersengal dan rematan di pundaknya begitu kuat, Ardiaz pun melepas pagutannya dan menjauhkan wajah agar bisa menatap rupa sang istri.


Cegukannya berhenti, namun wajah Evangeline memerah dengan mata yang sayu. Serta nafas yang masih terengah-engah.


Dengan lembut, Ardiaz mengusap bibir sang istri dengan ibu jarinya.


“Syukurlah cegukannya sudah berhenti. Ini sudah siang, sebaiknya kita segera bangun,” ucap Ardiaz.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih

__ADS_1


__ADS_2