
Karir ku berbanding terbalik dengan kisah percintaan ku. Aku sebenarnya bukan tipikal pria yang mudah menaruh hati pada seorang gadis.
Namun, satu hal yang berbeda. Gadis yang telah menikah paksa dengan Ardiaz, yang kini tengah mengalami kesulitan setelah sang ayah mengalami koma akibat serangan di malam ulang tahunnya.
Gadis itu begitu lemah secara fisik, namun dia benar-benar keras kepala dan tak mau dipandang lemah oleh orang disekitarnya. Dia selalu mencoba terlihat tegar di depan semua orang, padahal dia terus menangis saat berada seorang diri di ruangannya.
Entah kenapa aku merasa iba. Aku sendiri tak tahu apakah Ardiaz benar-benar sudah mati atau masih hidup. Tapi yang jelas, komunikasi kami benar-benar terputus sejak dia pergi dari Wisteria.
Terakhir kali kabar yang aku dapat adalah, dia sudah mati. Kalimat itu jelas tertulis di selembar kartu pos, yang dikirim beserta sebuah kotak beludru biru tua, yang ditujukan untuk istrinya, Evangeline.
Aku pun tak ada pilihan lain selain mengabarkan berita mengerikan ini kepada gadis itu akan suaminya.
Evangeline nampak mencoba kuat di depanku, akan tetapi dia ambruk seketika saat aku berpura-pura pergi dari hadapannya.
Awalnya aku hanya bermaksud memberi bantuan kepada gadis itu. Mungkin semacam rasa tanggungjawab karena sudah memberitahukannya tentang kabar kematian Ardiaz.
Aku selalu mendapati Evangeline jatuh pingsan, saat tubuhnya tak mampu mengimbangi keinginannya yang kuat.
Namun siapa sangka, rasa iba itu tumbuh menjadi perasaan aneh yang tiba-tiba muncul dan mengusik sudut hatiku yang kosong.
Aku jatuh cinta pada istri temanku sendiri. Aku tahu ini salah, tapi siapa yang bisa mencegah saat cinta hadir dalam hidup seseorang.
Seiring berjalannya waktu, kami semakin dekat. Kabar bahagia datang darinya saat sang ayah tiba-tiba sadar dari koma.
Gadis itu terlihat sedikit lebih ceria, meski rasa kehilangan suami masih terus membuat senyumnya begitu sendu.
Hal itu juga yang membuatku belum berani mengungkapkan perasaan padanya, karena di dalam hati gadis tersebut masih ada sosok Ardiaz.
Hingga suatu ketika, ayahnya meminta ku membujuknya untuk menerima kembali orang yang sudah mencelakainya hingga koma. Aaron, kakak kandung Ardiaz.
Saat itulah, keberanianku muncul ketika melihat gadis tersebut kembali menangis, tatkala mengingat kematian suaminya.
Aku ingin menggantikan posisi Ardiaz, dan memastikan Evangeline bahagia. Namun, saat bibirku hampir menyentuhnya, tiba-tiba saja dia menggila.
__ADS_1
Gadis itu menoleh ke kanan dan kiri, seolah sedang mencari sesuatu, sambil terus memanggil nama sang suami, hingga membuatku kembali sadar bahwa tak ada ruang bagiku di dalam hatinya.
...❄❄❄❄❄...
Suatu ketika, dia tiba-tiba memutuskan untuk pergi ke ibu kota. Gadis itu mengatakan bahwa dia ingin melanjutkan studinya di sana.
Betapa kebetulan, ayahku pun memintaku untuk segera pulang, dan menempati posisi direktur utama di rumah sakit miliknya, yang sejak awal memang dibangun untuk ku.
Aku langsung setuju dengan ajakan ayah, karena dengan begitu aku bisa dekat dengan gadis yang ku cintai.
Aku bahkan segera mengurus kepindahan ku, dan menemui gadis itu. Saat kami membuat janji bertemu di salah satu restoran bintang lima di Kota Orchid, aku merasa ada yang berbeda dengan dirinya, tapi entah apa.
Yang jelas, matanya saat itu bengkak seperti habis menangis semalam. Namun, aku tak berani membahasnya sama sekali. Fokus ku yaitu memberitahukan kabar gembira mengenai kepindahan ku kepadanya.
Aku sangat senang saat dia mengucapkan selamat untuk ku. Kami makan siang bersama dengan penuh canda tawa, lalu setelah itu dia pamit pulang.
Awalnya aku berniat mengantarkan, namun seperti biasa, dia selalu menolaknya.
Beberapa hari berlalu dan kami membuat janji temu lagi. Kali ini, aku ingin mengutarakan keseriusan ku padanya.
Namun, reaksi gadis itu sungguh membuatku semakin terluka. Dia menolak ku langsung di depan wajahku.
Dia marah dan bahkan hendak pergi dari sana begitu saja. Kalau saja aku tak membujuknya, mungkin dia sudah kabur dengan menggunakan taksi.
Aku tahu aku terlalu terburu-buru, tapi aku hanya ingin menunjukkan keseriusan ku padanya. Aku ingin dia melanjutkan hidupnya lagi setelah kematian suaminya.
Setelah malam itu, aku banyak merenung. Di rumah sakit pun aku selalu memikirkan dia. Ingin rasanya aku kembali menemuinya dan mengajaknya bicara berdua. Tapi, kesibukan di masa awal jabatan ini benar-benar menyita waktuku.
Hingga suatu hari, tanpa sengaja aku berpapasan dengan seseorang yang sangat aku kenal. Dia adalah Ardiaz, pemuda yang ku kabarkan telah mati beberapa bulan lalu, saat ini berada tepat di depanku dalam kondisi masih bernafas.
Yang membuatku semakin terkejut adalah, keberadaan seorang gadis yang berdiri di belakangnya.
Kini aku tahu, kenapa Evangeline begitu terus terang menolak ku. Rupanya, dia sudah menemukan suaminya yang mati itu.
__ADS_1
Aku tak mengerti kenapa Ardiaz dan juga Mac duff menyembunyikan hal ini dariku. Namun, Kata-kata Mac duff membuatku sedikit berpikir keras.
Dia berkata bahwa aku sebaiknya tidak terlibat dengan mereka, agar aku bisa tetap selamat. Apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Setelah pertemuan itu, aku pun mencari tahu tentang keberadaan Ardiaz di rumah sakitku. Dengan mudah, aku bisa menemukan petunjuk mengenai dia.
Rupanya, pemuda itu dirawat atas nama Jordan, dengan wali bernama Devonshire, Cek dari sebuah perusahaan bernama Merciful.
Aku sangat mengenal perusahaan itu, karena ayah berkali-kali selalu menjalin bisnis dengan mereka.
Namun, aku sangat terkejut saat mendapati bahwa alasan dia dirawat adalah karena sempat mengalami koma beberapa minggu, karena luka bekas pertempuran, dan dia bahkan mendapatkan luka tembak di area perutnya.
Ini aneh. Kenapa Ardiaz harus mengganti nama menjadi Jordan, yang tak lain adalah nama asli Charlie? Dan kenapa Ceo Merciful bersedia menjadi walinya? Lalu, apa yang sebenarnya terjadi hingga dia terlibat dalam peperangan antar gangster?
Banyak sekali pertanyaan yang muncul dalam benakku. Akan tetapi satu hal yang membuatku sedikit lega, yaitu perkataan Mac duff benar-benar ditujukan untuk ku.
Dia tak mau aku terlibat, karena khawatir dengan keselamatanku. Aku hargai itu. Tapi jika hanya karena hal itu, kenapa Ardiaz bersikap begitu dingin terhadapku?
Aku bukan orang keras kepala yang ingin bertindak berdasarkan kemauan. Aku lebih mengedepankan logika dari pada yang lainnya.
Jika dirasa berbahaya, tanpa mereka menjauh pun aku akan menjauh tanpa berdebat. Tapi, ada apa dengan sikap Ardiaz padaku? Apa benar hanya karena aku menyukai istrinya? Itu bukanlah sifat Ardiaz.
Aku sangat mengenalnya.
Ketika aku sibuk berfikir segala kemungkinan, sebuah fakta mencengangkan justru ku peroleh dari orang terdekat ku.
.
.
.
.
__ADS_1
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih