
Di sisi lain, setelah mendapatkan laporan dari salah satu pengawal Hemachandra yang sadarkan diri dan mendapati keadaan unit Evangeline telah kacau balau, Ardiaz pun bergegas pergi dari pondok, dan meminta Jordan mengaktifkan sistem Enel.
Saat itulah Damian terlihat begitu antusias dan mengajukan diri untuk membantu.
“Alpha, aku ikut denganmu,” tawar Mac duff.
Ardiaz menoleh ke arah Jordan dan juga Damian. Hacker muda itu seolah tahu arti tatapan dari sang King palsu.
“Kalian tenang saja. Nenekku ada ditangan kalian, mana mungkin aku berniat macam-macam lagi,” ucap Damian meyakinkan.
Mac duff paham kekhawatiran Ardiaz. Dia pun menepuk pundak temannya.
“Dia akan berurusan denganku jika sampai macam-macam dengan Charlie. Lagipula, dia tak akan berani berbuat sembarangan dengan adik Devon,” ucap Mac duff.
Akhirnya tanpa berkata-kata lagi, Ardiaz pun berbalik dan berjalan pergi, diikuti oleh Mac duff.
Jordan segera mengambil sebuah Macbook yang jarang ia keluarkan dari dalam tas punggungnya.
Saat dia menyalakan benda tersebut, sebuah pemindai kornea mata pun aktif. Dia mendekatkan mata kanannya ke kamera, dan seketika layar berubah dengan sebuah pesan pembukaan yang menyambutnya.
“Selamat Datang, Master Enel”
Damian yang melihat hal itu benar-benar takjub dengan sistem canggih, yang telah dikembangkan begitu baik oleh seorang pria idiot di depannya.
__ADS_1
Dia sebelumnya hanya bisa melihat versi lama dari sistem tersebut yang berhasil di ambil oleh Lucifer. Damian tak pernah menyangka jika sistem ini sudah berkembang begitu pesat dan sangat canggih.
Jordan nampak menekan beberapa menu secara acak di layar, dan sampailah di mana sebuah layar besar mendominasi monitor.
Sebuah titik merah berkedip di atas sebuah peta yang terlihat di layar. Dia pun lalu mengirim posisi titik merah, dimana keberadaan sistem Enel terdeteksi kepada Mac duff.
Dia lalu menekan sebuah menu lain, dan muncullah layar di mana terlihat sebuah vidio siaran langsung yang menunjukkan sebuah tempat asing.
Tempat itu begitu temaram, dan jangkauan pandangan pun sangat sempit. Damian kembali membelalak melihat hal itu.
“Apa dia bisa melihat apa yang ada di depannya? Waahh... Benar-benar sistem Tuhan. Dia Maha Tahu semuanya. Ini akan sangat mudah untuk menemukan gadis itu,” ucap Damian terkagum.
Saat kedua hacker itu fokus pada layar, tiba-tiba sebuah tampilan di layar membuat keduanya terkejut. Dia melihat seseorang yang sangat familiar berada di tempat sistem itu berada.
“Jadi benar dia ikannya,” ucapnya dengan rahang yang mengeras.
Meski sepertinya sudah bisa menebak sejak awal, namun rasa kesalnya benar-benar tak bisa dielakkan ketika melihat sosok itu.
Namun, hal tersebut tak berlangsung lama. Damian kembali dibuat terkejut dan hampir terjungkal ke belakang, jika saja tak ada sandaran kursi di belakangnya.
“Kau... Kau... Bagaimana mungkin...,” ucapnya terbata.
Dia tak percaya dengan apa yang dia lihat. Pria yang selama ini selalu diam dan menutupi kepala dengan hoodie, tiba-tiba membuka penutup kepala dan berbicara sambil menatapnya.
__ADS_1
“Kita juga harus bergerak sekarang,” ucap Jordan.
Pria yang beberapa bulan lalu divonis mengalami kerusakan otak, yang membuatnya kehilangan kemampuan verbal itu, tiba-tiba berubah menjadi pria normal seperti sedia kala.
Dia pun mengemas barang-barangnya dan segera pergi dari sana. Sementara Damian yang masih sangat terkejut, sampai tak sadar dirinya hampir ditinggal.
Hacker muda itu pun lalu berlari menyusul Jordan yang sudah sampai di gudang jerami bawah, dan bersiap menyalakan sepeda motor yang tersisa di sana.
“Tunggu aku! Aku ikut denganmu,” pekik Damian.
Dia pun cepat-cepat naik ke atas motor dan melesat bersama Jordan menuju ke sebuah tempat.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih
__ADS_1