
Keputusan Malcolm untuk menjadi dokter perang membuat Morgan Andara meradang. Dia tak menyangka jika putranya sendiri akan memihak orang yang selama ini berusaha dia lenyapkan.
Setelah kepergian Malcolm, Morgan bahkan mengamuk di ruangan direktur utama rumah sakit pusat Kota Orchid dan membuat semuanya berantakan.
Dia berteriak dengan keras dan mengacak rambutnya yang tertata rapi sejak pagi.
Morgan lalu pergi dengan wajah merah padam, menuju ke tempat mobilnya berada.
Pria paruh baya itu bahkan menyingkirkan supir pribadinya yang berusaha membukakan pintu, dan masuk begitu saja sambil membanting pintu mobil karena sangking kesalnya.
Sang sopir pun langsung masuk dan duduk di balik kemudi. Dia menoleh ke samping, di mana asisten pribadi atasannya berada. Pria itu mengangguk, tanda bagi sang supir untuk melajukan kendaraan tersebut.
Sementara di kursi penumpang belakang, Morgan nampak menyandarkan punggung dan merebahkan kepalanya di kursi. Matanya tertutup dengan nafas yang tersengal tak beraturan.
“Hubungi orang itu sekarang juga,” seru Morgan yang masih menutup matanya.
Sang asisten pribadinya mengangguk dan segera melakukan panggilan keluar. Tak perlu menunggu lama, panggilan pun diterima oleh orang di seberang.
“Halo, ada apa?” tanya orang di seberang.
“Tuan ingin bicara padamu,” ucap asisten pribadi Morgan.
Mendengar panggilan sudah tersambung, Morgan pun menegakkan duduknya. Dia mengulurkan tangan ke arah sang asisten, seakan meminta ponsel yang sedang dipegang pria di depannya.
Asisten itu pun memberikan ponselnya kepada sang bos, dan segera diraih oleh Morgan.
“Apa yang kau lakukan, hah? Kenapa begitu lamban?” bentak Morgan dengan suara yang begitu beras.
Kedua pria yang duduk di depan pun sampai tersentak kaget dengan teriakan dari bos mereka.
Dia sudah tak sabar dengan cara kerja suruhannya yang dinilai lamban. Terlebih mendengar semua alasan-alasan yang semakin membuatnya kesal.
“Aku tak mau tahu, jalankan rencananya sekarang juga, atau aku akan benar-benar menghancurkanmu,” ancam Morgan.
Dia pun mematikan sambungan dan melemparkan ponsel sang asisten ke samping dengan kesal.
Morgan kembali menyandarkan punggung dan memejamkan mata, sambil memijat pangkal hidungnya yang terasa berdenyut.
...❄❄❄❄❄...
__ADS_1
Sementara itu di apartemen Evangeline, seperginya Ardiaz yang keluar dari persembunyian demi mencari tahu apa yang terjadi dengan Malcolm, Evangeline terus berdiam diri di kamar sambil memeluk kedua lututnya.
Joy yang menemaninya sejak tadi, mencoba mengajaknya melakukan sesuatu untuk mengalihkan pikirannya.
“Eva, apa kau mau melihat drama baru yang sedang ramai dibicarakan orang-orang?” ajak Joy.
Evangeline sejak tadi terus diam. Namun, dia juga tak bisa mengacuhkan keberadaan temannya di sana yang berusaha untuk menghiburnya.
Wanita itu pun menoleh dengan senyum samar di wajahnya.
“Apa ada yang seru? Tapi aku sedang tak mau melihat film action. Sudah cukup hidupku seperti film action. Ini benar-benar melelahkan,” ucap Evangeline.
“Kau tenang saja. Akhir-akhirn ini mereka lebih suka memproduksi rom-kom. Kau tahu, komedi romantis. Kau pasti suka,” sahut Joy.
“Baiklah. Ayo,” ajak Evangeline.
Istri Ardiaz itu pun bangun dan berjalan ke luar kamar. Joy merangkul lengan temannya dan bersama-sama menuruni tangga menuju ke ruang tengah.
Gadis berambut sebahu itu terlihat sedang menyalakan layar kaca dan memilih drama yang akan mereka lihat bersama.
“Apa kita perlu membuat sesuatu untuk kudapan selama menonton?” tawar Evangeline.
Dia berusaha menjaga Evangeline dengan baik sesuai dengan apa yang dipesankan oleh Ardiaz.
“Tidak perlu. Lemari pendingin ku kosong karena sudah lama tak ku isi. Sebaiknya kita pesan saja dari luar. Bagaimana?” tawar Evangeline.
“Ehm... Apa kau yakin?” tanya Joy memastikan.
Pasalnya, kondisi saat ini sedang berbahaya. Dia tak mau sampai ada orang asing yang kemari dan membahayakan Evangeline.
Terlebih, dia yang sudah sangat sering melakukan penyamaran dengan menjadi kurir, membuat gadis berambut pendek itu tak terlalu percaya dengan layanan pesan antar.
“Bukankah di luar sana banyak pengawal ayahku? Lagipula, kami juga sering memesan makanan dari luar dan tak terjadi apapun,” sahut Evangeline.
Joy terlihat sedikit ragu. Meski hal itu sudah biasa, akan tetapi kondisi sekarang berbeda. Ardiaz tak ada di sini saat ini.
Meski begitu, benar kata Evangeline, bahwa penjagaan di luar sudah cukup ketat. Sepertinya kali ini dia tidak perlu khawatir berlebih.
Akhirnya gadis itu pun mengiyakan tawaran dari temannya.
__ADS_1
Evangeline meminjam ponsel Joy untuk memesan makan dari luar, sementara pemilik ponsel masih sibuk memilih film.
Tak berselang lama, drama pun diputar. Keduanya duduk dengan tenang sembari memeluk bantal duduk di tangan masing-masing.
Sejak dari awal, drama tersebut benar-benar penuh dengan komedi. Gelak tawa dari kedua belia itu terus menggema di penjuru ruangan.
Evangeline bahkan bisa tertawa lepas, seolah pikirannya akan sang suami teralihkan oleh usaha Joy yang menunjukkan drama tersebut.
Tak berselang lama, sebuah ketukan terdengar. Joy bangun dan menekan tombol interkom, untuk melihat siapa yang ada di depan pintu, sementara Evangeline masih asik dengan dramanya.
“Siapa?” tanyanya.
“Kurir. Anda memesan paket dimsum dari restoran kami beberapa saat yang lalu,” sahut orang di luar.
Joy menoleh ke arah temannya berada. Dia menekan tombol mute pada interkom, dan bertanya pada Evangeline dengan sedikit berteriak.
“Eva, apa yang kau pesan tadi?” tanya Joy.
Evangeline menoleh ke arah temannya sekilas sembari menjawab.
“Paket dimsum. Aku tiba-tiba ingin makan itu. Apa sudah sampai?” sahutnya sambil kembali fokus pada drama.
“Iya, mereka sudah datang,” ucap Joy.
Setelah memastikan benar bahwa pesanan meraka telah sampai, dia pun membuka pintu depan.
Namun, baru saja dia hendak menunjukkan diri, sebuah tangan kekar menjangkaunya dan membekap mulut Joy hingga gadis berambut pendek itu terkejut bukan main.
.
.
.
.
Maaf, kemarin othor bolos up 🙏 lagi mulai mudik lagi jadi ribet. hari ini Insya Allah mulai up rutin lagi ya 😄
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
__ADS_1
terimakasih