
Setelah Evangeline puas menangis dengan sesenggukan yang masih tersisa, gadis itu kini duduk di kursi yang berada di samping ranjang suaminya.
Dia menatap wajah pucat itu lekat-lekat, tanpa ada satu kata pun yang terucap. Hal itu sudah berlangsung lebih dari tiga puluh menit.
Tiba-tiba, gadis itu bangun dari duduknya. Tangannya terulur menyentuh pelipis Ardiaz dan mengusapnya lembut.
“Segeralah bangun dan tepati janjimu, hem. Hari ini, aku hanya bisa selama ini menemanimu. Lain kali, aku janji akan lebih banyak mengajakmu bicara lagi. Maaf karena aku begitu cengeng. Aku sangat terkejut. Kau pasti paham bukan. Jadi, cepatlah bangun dan tepati janjimu untuk mengatakan semuanya padaku,” ucap Evangeline.
Dia kembali menatap wajah tampan yang kini terlihat lemah itu. Sosok kuat di depannya seakan menghilang begitu saja dari Ardiaz.
Evangeline perlahan mendekatkan wajahnya ke wajahnya Ardiaz. Dengan hati-hati, dia mengecup kening pria itu lembut.
Dia menghirup aromanya yang kini bahkan telah berubah menjadi bau rumah sakit yang sangat membuatnya tak nyaman.
Evangeline kemudian keluar meninggalkan Ardiaz di sana, karena tak mungkin dia berlama-lama di tempat tersebut, mengingat dirinya saat ini masih harus menutupi identitas sebenarnya.
Di luar, dia melihat Mac duff masih berdiri tegap, berjaga bersama anak buahnya. Evangeline melihat kereta dorong yang tadi sempat di bawa oleh Alexa, dan mengingat bahwa wanita itu memintanya untuk mengobati luka Mac duff.
Dia pun berjalan ke arah pria itu dan tiba-tiba menarik tangannya. Mac duff terkejut dan sempat menepisnya.
Namun, Evangeline kembali meraihnya dan menuntun pria itu untuk duduk. Kali ini, Mac duff tak menolak dan mengikutinya, meski dia tak paham apa yang sedang dilakukan oleh gadis tersebut.
Setelah duduk, Evangeline beralih ke kereta dorong dan mengambil sebotol cairan pembersih bersih luka.
“Apa yang kau...,” tanya Mac duff.
“Bukankah kita sekarang sedang bersandiwara? Sebagai seorang kekasih, bukankah sudah tugasku untuk membantumu mengobati luka,” sela Evangeline sebelum Mac duff selesai berucap.
Pria itu terdiam. Saat Evangeline memindai dirinya untuk melihat di mana saja lukanya, Mac duff justru meraih kapas dari tangan Evangeline.
“Biar aku lakukan sendiri saja,” ucapnya.
Namun, gadis itu lebih cepat dan menjauhkan kapas steril dari pria tersebut sambil berseru,
“Ketemu.” Evangeline melihat bekas darah di pelipis Mac duff.
Tangannya pun terulur dan hendak meraih kepala pria tersebut. Mac duff sempat menghindar, namun Evangeline memicingkan matanya ke arah Mac duff dan kemudian memelototinya
“Menurut lah pada kekasih mu. ini semua ide mu juga bukan,” ucap Evangeline.
__ADS_1
Mac duff pun tak lagi mengelak. Dia hanya bisa membiarkan gadis itu untuk mengobati lukanya.
Evangeline begitu telaten dengan mengurus luka di wajah pria itu. Mac duff bahkan merasa begitu hangat dengan perlakuan lembut dari istri rekannya itu.
Selesai dengan luka di wajah dan sekitar leher, dia lalu meminta mac duff membuka jaketnya. Akan tetapi pria itu menolak dan membuat Evangeline berinisiatif membukanya sendiri.
Gadis itu terkejut saat merasakan betapa kakunya jaket pria tersebut.
Namun, ketika Evangeline hendak membukanya, Mac duff lagi-lagi menahan tangan gadis itu hingga membuat pandangan keduanya bertemu.
Evangeline tak peduli dan menepis tangan Mac duff, kemudian kembali mencoba membuka jaket pria tersebut hingga terlihatlah luka menganga yang sudah berair, bahkan cairannya menembus kemeja yang tengah ia pakai.
Gadis itu mengangkat wajahnya dan menatap pria di depannya itu dengan sedikit memicing.
“Luka separah ini kau biarkan begitu saja? Benar saja wanita itu marah-marah karena kau tak mau diobati, sampai-sampai aku diseret kemari demi untuk bisa mengobati lukamu,” ucap Evangeline.
“Aku tidak perlu diobati. Luka seperti ini bisa sembuh sendiri,” elak Mac duff.
Pria itu berusaha menutup kembali jaketnya, namun dihalangi Evangeline dan gadis itu bahkan dengan kasar melepaskannya dari tubuh Mac duff.
“Kau...,” tolak Mac duff.
“Tapi apa harus di sini?” tanya Mac duff keberatan.
Evangeline seketika berhenti memaksa. Dia lalu berdiri dan merapikan peralatan medis yang sebelumnya dibawa oleh Alexa.
“Baiklah. Ayo kita ke sana. Ternyata pria seperti mu bisa malu juga,” sindir Evangeline.
Dia menunjuk ke sebuah ruangan yang berada tak jauh dari tempat Ardiaz. Sebuah ruang tindakan medis, yang kebetulan saat itu sedang kosong.
Evangeline membawa kereta dorongnya dan masuk lebih dulu. Mac duff hanya menghela nafas panjang karena harus berurusan dengan gadis semenjengkelkan Evangeline.
Gadis keras kepala yang selalu melakukan hal semaunya, tanpa peduli pendapat dari orang lain. Gadis yang selalu memaksa jika dia sudah menginginkan sesuatu.
Menurut sifat aslinya, Mac duff tidak akan segan melukai gadis yang ia anggap sebagai pengganggu, macam Evangeline. Hanya saja, karena melihat Ardiaz, dia tak bisa melakukan hal tersebut pada gadis itu.
Dia pun hanya bisa menurut, demi menjaga orang yang disayangi oleh rekannya.
Setelah Mac duff masuk, Evangeline memintanya membuka semua pakaian.
__ADS_1
Mac duff pun menolak. Namun, Evangeline berbalik dan menatap pria itu. Dia melihat dari bawah ke atas, dan kemudian kembali berbalik.
“Baiklah. Cukup bagian atas saja yang kau lepas,” ralat Evangeline.
Mac duff pun lalu membuka pakaian atasnya. Nampak dia mengernyitkan kening saat kedua lengan harus terangkat untuk melepaskan kausnya.
Suara desisan pria tersebut membuat Evangeline menoleh sekilas, dan melihat betapa mengerikannya luka di bagian perut kiri pria itu.
Gadis tersebut bahkan sampai menautkan alisnya, sambil mengulum bibir, ketika melihat luka di perut Mac duff.
“Cepatlah kemari. Duduk di ranjang ini dan biarkan aku menutup luka mengerikan mu itu,” seru Evangeline tanpa menoleh.
Gadis itu masih sibuk menyiapkan peralatannya.
Mac duff yang sudah membuka bajunya pun duduk di ranjang, tepat di depan Evangeline. Setelah pria tersebut berada di sana, istri Ardiaz itu lalu segera menuang antiseptik ke atas kasa dan mulai membersihkan luka.
“Apa ini bekas sayatan? Sepertinya butuh beberapa jahitan. Tapi sayangnya, aku tak tahu cara menjahit luka. Apa kau mau jadi kelinci percobaanku?” tanya Evangeline datar.
Mac duff terdiam melihat berapa tenangnya gadis itu melihat luka yang bahkan sudah mulai bernanah. Luka sayatan itu menang tak terlalu dalam, tapi cukup membuat yang melihat merasa jijik serta ngeri.
Tatapannya terpaku pada gadis itu, dan lupa untuk menjawab semua pertanyaan tadi.
Sejujurnya, Evangeline pun merasa takut melihat luka ini. Tangannya sempat gemetar saat hendak menyentuh perut Mac duff.
Dia bahkan hampir menangis melihatnya. Namun, sekuat hati Evangeline menahan semua perasaan itu.
Dia berusaha menutupinya dan berpura-pura tenang, agar tak lagi dianggap lemah oleh orang-orang.
Terlebih, sepertinya mulai sekarang dia harus terbiasa dengan semua jenis luka. Apalagi melihat Ardiaz yang saat ini sekarat akibat luka parah yang dideritanya selama pertempuran antar kelompok mafia.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
__ADS_1
terimakasih