A Love To Killer

A Love To Killer
BABAK 2 : Posisi kalung berada


__ADS_3

Di sebuah tempat yang temaram, hanya ada cahaya dari sebuah lampu yang tergantung di tengah ruangan.


Seorang wanita terlihat duduk dengan kaki dan tangan terikat di kursi, yang berada tepat di bawah lampu gantung tersebut.


Dia nampak tertunduk dengan mata terpejam serta rambut panjang yang berantakan. Tak ada orang lain di dalam.


Ruangan tersebut begitu pengap, tak ada fentilasi sama sekali, dan dindingnya pun terlihat lembab.


Ada beberapa genangan air di lantai, yang membuat kondisi tempat tersebut begitu suram dan dingin.


Tak berselang lama, seberkas cahaya muncul dari pintu yang terbuka. Terlihat dua orang pria masuk ke dalam, dengan salah satunya berjaga di pintu. Sedangkan satunya lagi berjalan ke tengah, menghampiri wanita yang terikat.


Pria itu terlihat menyeringai melihat kondisi wanita malang yang terduduk tak sadarkan diri di depannya.


Dia semakin mendekat, dan meraih rambut wanita tersebut, menariknya ke belakang, hingga dia mendongak ke atas.


“Sejak awal, aku sudah curiga denganmu. Tidak mungkin si Delta itu memiliki kekasih, terlebih gadis sepertimu. Rupanya, kau memang bukan gadis biasa,” ucapnya.


Dia lalu menghempaskan kembali rambut wanita itu hingga membuatnya terhuyung, dan kembali tertunduk.


Wanita itu tak lain adalah Evangeline, yang berhasil diculik oleh orang-orang tak dikenal, saat berada di apartemen pribadinya.


Pria tadi terlihat meraih sebuah ponsel dari dalam saku jaket kulitnya, dan melihat layar datar tersebut.


Rupanya, ada panggilan masuk ke dalam ponselnya yang sengaja dia setel ke mode getar.


“Halo, Bos. Kapan anda akan kemari?” tanya pria tadi.

__ADS_1


Dia terlihat berbicara dengan seseorang yang dipanggilnya bos lewat sambungan telepon.


“Baiklah. Aku sudah bawa gadis itu kemari. Aku yakin, putra Anda dan juga anak itu akan segera mencari Anda, saat fotonya ku kirim pada mereka,” ucap si pria tadi.


Panggilan terputus, dan pria tadi mengarahkan kamera ponselnya kepada si wanita.


Dia mengambil beberapa foto Evangeline dan kemudian dia kirimkan kepada Malcolm dan juga Ardiaz dengan nomor anonim.


Senyumnya semakin tampak mengerikan, saat kekehan menggema di ruangan gelap tersebut


...❄❄❄❄❄...


Di tempat lain, tampak Ardiaz dan Mac duff melajukan motor mereka di jalanan, hendak menuju ke apartemen Evangeline, dan mencari petunjuk tentang kejadian ini.


Tiba-tiba, Mac duff melambatkan lajunya dan menepikan sepeda motor di jalan. Dia mendegar sebuah notifikasi masuk ke dalam ponsel, dan segera memeriksanya.


Rupanya, dia mendapat pesan dari Jordan, tentang lokasi kalung mercusuar Evangeline berada.


“Ada apa?” tanyanya.


“Lokasinya sudah diketahui. Itu ada di hutan selatan, melewati kastil Joker dan berada di balik pegunungan,” jawab Mac duff.


“Hutan selatan? Mereka benar-benar serius kali ini. Jika ini Lucifer, aku yakin di sana tidak ada Evangeline. Aku sangat mengenal cara kerja Devon dan anak buahnya,” sahut Ardiaz.


Tiba-tiba, sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Ardiaz. Dia pun langsung meraih benda pipih tersebut dari saku jaket baseball-nya.


Matanya memicing dengan kening berkerut, serta rahang yang mengeras, dan tangan mengepal kuat, saat melihat apa yang baru saja dikirimkan kepadanya.

__ADS_1


Melihat reaksi temannya itu, Mac duff pun meraih ponsel tersebut dan ikut melihat apa yang baru saja diterima oleh pria itu.


“Ini kan...,” ucap Mac duff.


Dia pun ikut terkejut melihat hal itu.


“Rupanya mereka ingin agar aku mencari mereka. Ini bukan gaya Devon yang ku kenal. Jika ini Devon, dia hanya akan mengintai Eva dan mengancamku dengan itu seperti sebelumnya."


"Jika pun mereka menculiknya, mereka tak akan pernah menyentuhnya, apa lagi berbuat seperti ini padanya. Karena mereka tahu aku akan mengamuk lagi seperti dulu,” gumam Ardiaz.


Mac duff menyerahkan kembali ponsel itu kepada Ardiaz. Dia lalu naik kembali ke atas sepeda motornya.


“Jadi, kemana kita akan pergi?” tanya Mac duff.


Ardiaz sudah duduk dia atas motornya, dan menyalakan mesin.


“Aku yakin ini bukan ulah Devon. Jadi, sebaiknya kita pergi ke tempat di mana kaling itu berada. Siapapun itu, Kita tidak usah ikuti permainan mereka. Yang perlu dilakukan hanya menyelamatkan Eva secepatnya,” ucap Ardiaz.


Dia pun kembali melajukan sepeda motornya, menuju ke titik dimana kalung mercusuar Enel berada.


.


.


.


.

__ADS_1


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih


__ADS_2