A Love To Killer

A Love To Killer
BABAK 2 : Berita siaran langsung


__ADS_3

Beberapa hari berlalu dan kondisi Evangeline sudah pulih kembali. Tak terasa waktu sudah lewat hampir satu bulan, dan Ardiaz yang sedang dalam pelarian, masih betah berlama-lama bersembunyi di apartemen bersama sang istri.


Kebersamaan ini dirasakan begitu tak nyata oleh Evangeline, hingga wanita itu terus memeluk erat sang suami, seolah takut dia akan kembali pergi.


Meski Ardiaz berkali-kali mengatakan tak akan pernah meninggalkannya lagi, namun hati kecil Evangeline masih ragu akan hal tersebut.


Saat ini, keduanya tengah bersantai di balkon apartemen Evangeline, bersembunyi di balik selimut yang sama, sambil menikmati suasana matahari terbit yang sebentar lagi akan muncul dari bali gedung bertingkat.


Tiba-tiba, dering ponsel Ardiaz berbunyi dan membuat keduanya pun menoleh ke arah dalam.


“Tunggu sebentar,” ucap Ardiaz.


Dia pun lalu mengurai pelukannya dari sang istri dan berjalan mendekat, lalu mengambil ponsel yang tergeletak di atas nakas. Nampak code name Mac duff tertera di sana dan membuat Ardiaz segera menerima panggilan tersebut.


“Halo, ada apa?” tanya Ardiaz.


Evangeline menoleh mendengar suaminya mulai berbicara dengan seseorang.


“Apa ini sudah dikonfirmasi?” tanya Ardiaz tak percaya.


Dia terlihat menyingkap poninya ke belakang, lalu berkacak pinggang dengan sebelah tangan.


Melihat hal itu, Evangeline pun menghampiri sang suami yang masih berbicara di telepon.


Dia nampak melihat ke kiri dan kanan, seolah tengah mencari sesuatu. Dia melihat istrinya mendekat dan segera bertanya padanya.


“Dimana ponselmu?” tanya Ardiaz.


Evangeline pun menunjuk laci di bawah nakas.


Ardiaz segera mengambil benda pipih milik Evangeline itu dan mengutakan atik sesuatu di sana.

__ADS_1


Dia terlihat tengah melihat sebuah berita yang saat ini sedang disiarkan secara langsung.


Evangeline pun mendekat dan mencoba melihat apa yang membuat suaminya terlihat begitu serius.


Matanya membelalak kala melihat headline yang tertulis di bawah berita itu.


“Tidak mungkin. Dia baru beberapa hari menjabat direktur rumah sakit, tapi kenapa sekarang tiba-tiba...,” ucap Evangeline terjadi.


Dia masih tak percaya bahwa dokter yang selama ini menaruh perhatian padanya, meninggalkan mimpinya yang sudah sejak lama ia inginkan.


“Baiklah. Aku akan ke tempatmu sekarang juga,” ucap Ardiaz.


Sambungan telepon pun terputus dan menyisakan pasangan suami istri itu yang terus memperhatikan siaran berita langsung di layar ponsel Evangeline.


...❄❄❄❄❄...


Di tempat lain, tepatnya di dalam ruangan direktur Rumah Sakit Pusat Kota Orchid, nampak seorang pria muda duduk di sana sembari memandangi sesuatu di tangannya.


Tiba-tiba, seorang pria paruh baya menyerbu masuk dan berjalan menghampiri pria muda yang tak lain adalah Malcolm, yang nampak tak terkejut dengan kedatangan si pria paruh baya.


“Apa yang kau lakukan, hah? Kenapa memutuskan sesuatu tanpa membicarakan ini dengan ayah?” tanya si pria paruh baya yang adalah Morgan Andara, ayah dari Dokter Malcolm.


Dokter itu menyimpan foto yang sejak tadi dipegangnya, dan bangunan dari kursi yang baru beberapa waktu lalu menjadi miliknya.


Dia berjalan menghampiri sang ayah yang terlihat begitu marah pada putranya.


“Keputusanku sudah bulat. Ini adalah bentuk penebusan dosa dari ku,” ucap Malcolm dingin.


Morgan merasa sang putra sangat berbeda. Dia sama sekali tak memanggilnya dengan sebutan ayah seperti biasa, dan tak ada rasa hormat sedikitpun di sana.


“Penebusan dosa? Apa maksudmu, Malcolm? Dosa apa?” tanya Morgan.

__ADS_1


“Aku tak perlu menjelaskannya pada Anda. Aku akan pergi lusa. Kukembalikan lagi semuanya padamu,” ucap Malcolm.


Dokter muda itu berjalan melewati ayahnya begitu saja, tanpa penghormatan seperti biasa.


“Kemana kau akan pergi, hah? Apa kau kira menjadi dokter perang itu mudah? Nyawamu bisa melayang kapan saja,” ujar Morgan tiba-tiba.


Malcolm pun seketika berhenti dengan tangan yang mengepal kuat. Dia berbalik dan menatap lurus menikam manik hitam sang ayah.


“Lalu, apa Anda kira orang-orang yang sudah anda lenyapkan tidak memiliki keluarga? Apa Anda kira mereka tidak merasa kehilangan? Apa nyawa mereka tak se berharga nyawaku?” cecar Malcolm berapi-api.


Morgan tampak terkejut dengan semua perkataan putra tunggalnya itu.


“Apa yang kau bicarakan, Nak? Kau...,” tanya Morgan.


“Cukup. Sudah ku katakan, aku tak ingin membahas hal ini dengan Anda, karena sanggahan Anda hanya akan membuat ku semakin sakit hati. Permisi,” sela Malcolm.


Dokter muda itu pun kemudian pergi dari sana meninggalkan ayahnya yang masih tak percaya dengan keputusan sang putra.


.


.


.


.


MAAF, HARI INI CUMA UP 1 BAB AJA YES, JANGAN DITUNGGUIN, LANJUT LAGI BESOK🙏


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih

__ADS_1


__ADS_2