
Evangeline kembali mendongak melihat ke arah wajah pria itu. Mac duff seketika tersadar dari pikirannya dan membuang muka ke lain arah.
“Apa kau sedang tersentuh dengan kebaikan hatiku ini, hah?” celetuk Evangeline.
“Aku hanya tak menyangka kau tidak pingsan setelah melihat luka-luka ku,” sahut Mac duff, seraya membuang kegugupannya karena tertangkap terus menatap gadis itu sejak tadi.
“Ah... Benar. Pasti Ardiaz sudah menceritakan hal buruk tentang ku bukan. Benar-benar pria itu. Kenapa dia sangat menyebalkan?” ucap Evangeline.
Gadis itu buru-buru mengalihkan pandangannya dan menunduk. Dia berpura-pura fokus pada luka Mac duff, meski sebenarnya dia sedang menahan air matanya agar tak jatuh di depan pria itu.
Evangeline sampai kesulitan bernafas karena dadanya terasa sesak, saat mengingat kenangannya dulu bersama sang suami.
“Haahhh... Baiklah. Karena kau tak menjawab, jadi ku anggap kau tak keberatan jika aku menjadikanmu kelinci percobaanku,” ucap Evangeline yang terus berusaha menutupi isaknya.
Dia lalu berbalik dan melihat benda-benda yang ada di atas troller. Terdapat alat jahit berupa benang dan juga jarumnya.
Ada pula alat jahit yang berbentuk seperti staples, yang bisa dengan mudah digunakan untuk menutup luka sayatan.
“Mari kita coba gunakan alat ini. Pertama-tama, aku akan cari caranya di internet,” gumamnya pada diri sendiri.
Tanpa ia sadari, Mac duff terus memperhatikannya dengan tatapan yang sulit dijelaskan.
Setelah melihat langkah-langkah menjahit luka menggunakan alat tersebut di internet, Evangeline lalu mulai mengikuti instruksinya kemudian mempraktekkan langsung di tubuh pasien pertamanya.
Sayangnya, Evangeline langsung mempraktekan cara menjahitnya tanpa memberikan anestesi kepada Mac duff, yang membuat pria itu harus meremas sesuatu sambil menahan rasa sakit yang ditimbulkan oleh Evangeline.
Dia menutup rapat mulutnya, dan berkali-kali mengerutkan kening. Matanya terpejam, dan nafasnya tertahan setiap kali alat mirip staples itu membuat simpul dengan benang jahit di tubuhnya.
Setelah selesai, Evangeline mengolesinya dengan obat luka dan menutupnya dengan perban. Dia melilitkan kain pembebat dengan melingkar di perut dan pinggangnya, lalu memastikan bahwa ikatannya suda kencang.
Dia lalu melihat luka lain di lengan dan juga pundak. Namun itu tak separah yang sebelumnya. Evangeline pun kembali fokus pada pengobatannya.
Kedua orang itu sama sekali tak bersuara, dan sibuk dengan pikiran masing-masing.
__ADS_1
Cukup lama mereka di sana, hingga akhirnya Evangeline telah selesai mengobati semua luka di bagian tubuh atas Mac duff.
“Aku hanya akan mengurus yang atas. Jika ada luka di bawah, kau obati sendiri saja. Ah... dan ini,” ucap Evangeline.
Gadis itu nampak sedang melepaskan sarung tangan latex-nya dan menunjukkan sebuah shopping bag yang berada di bagian bawah troller.
“Sepertinya wanita tadi yang menyiapkannya untuk mu. Sebaiknya kau ganti pakaianmu yang tadi dengan ini. Lagi pula, bajumu sudah kotor bukan,” ucap Evangeline.
Gadis itu pun kemudian berbalik dan berjalan keluar dari ruangan tersebut.
...❄❄❄❄❄...
Keesokan harinya, setelah Alexa membawanya ke rumah sakit, dan Mac duff mengajaknya untuk bersandiwara, Evangeline pun kembali datang selepas dia pulang dari Merciful.
Kali ini dia datang dengan membawakan sekotak makan malam yang sengaja dia belikan untuk Mac duff.
Evangeline merasa hanya dengan cara seperti ini, dia bisa mengucapkan terimakasih karena selalu berada di sisi sang suami dan menjaganya sepanjang hari.
Saat dia tiba di dekat ruang steril, Evangeline melihat Alexa yang sudah lebih dulu duduk di depan ruang steril.
Saat Alexa tak sengaja menoleh ke arah kedatangan Evangeline, tatapan keduanya bertemu. Gadis itu pun kembali melangkah mendekat, dan membungkuk sedikit seraya memberi salam sesampainya di sana.
Alexa nampak memperhatikan bungkusan yang dibawa oleh Evangeline. Terlihat jelas jika dia tak suka melihatnya.
“Apa kau membawa makan malam untuk ku?” tanya Mac duff.
Pria itu serta merta meraih bungkusan dari tangan Evangeline. Dia duduk sambil membuka kotak yang ada di dalamnya.
“Duduklah. Ayo kita makan bersama,” seru Mac duff sambil menarik tangan Evangeline untuk duduk di sampingnya.
Saat Evangeline hendak duduk, dia melihat bungkusan yang sama berada di atas kursi tunggu. Gadis itu menduga bahwa itu sengaja dibawakan oleh Alexa, namun Mac duff tak mau menerimanya.
Evangeline pun menoleh ke samping, melihat raut wajah Alexa yang begitu jelas sedang kesal.
__ADS_1
Tiba-tiba, wanita itu bangun dengan kedua tangan yang terlipat di depan dada. Dia melirik sekilas ke arah dua orang di sampingnya dengan geram.
“Syukurlah karena sudah ada yang mengurusmu. Aku tak perlu lagi khawatir dengan nasib mu,” ucapnya ketus.
Dia lalu berbalik dan berjalan pergi.
Evangeline terus melihat kepergian alexa hingga menghilang di kejauhan. Dia lalu menoleh ke arah Mac duff dan menatap pria itu.
“Sepertinya wanita itu menyukaimu? Dia tidak berusaha menggodamu, seperti yang dilakukan pada Ardiaz. Tapi, dia justru memberikan perhatian khusus padamu. Dia bahkan khawatir pada kondisimu. Kenapa kau menyakitinya dengan cara seperti ini?” tanya Evangeline.
Namun, Mac duff tak menjawab dan terus menyiapkan makanan ke mulutnya.
Evangeline pun lalu mengambilkan air minum yang ada di dalam bungkusan dan membukakannya untuk Mac duff.
“Minumlah. Jangan makan terlalu cepat. Pencernaanmu bisa terganggu,” ucap Evangeline sembari menyodorkan botol minuman kepada Mac duff.
Pria itu membeku sejenak, dan lalu meraih minuman itu dari Evangeline. Dia meneguknya beberapa kali dan meletakkan di lantai.
Evangeline hanya menghela nafas melihat pria itu, sebelum akhirnya dia bangun dari duduknya.
Mac duff yang melihat gadis tersebut bangun pun mengangkat wajahnya dan melihat kemana gadis itu akan pergi.
“Aku akan masuk. Tolong berjaga di sini untukku, oke,” ucap Evangeline sembari tersenyum manis ke arah Mac duff.
Dia pun lalu masuk ke dalam meninggalkan Mac duff di sana seorang diri.
.
.
.
.
__ADS_1
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih