A Love To Killer

A Love To Killer
BABAK 2 : Aku masih payah


__ADS_3

Kembali ke masa sekarang. Ardiaz terlihat sedang mendorong kursi roda sang istri. Seperti yang diketahui sebelumnya, bahwa wanita itu tengah menjalani perawatan di rumah sakit, pasca penculikan yang dialaminya.


Evangeline merasa bosan karena terus berada di dalam kamar rawatnya, atas perintah sang suami.


Ardiaz hanya ingin agar istrinya tetap aman, disaat banyaknya wartawan yang terus mencoba bertemu dan menanyakan perihal kejadian tersebut.


Namun kali ini, dia memutuskan untuk mengajak istrinya pergi ke taman atap, setelah memerintahkan anak buah Mac duff untuk mengamankan tempat tersebut.


Pria itu membawa sang istri ke sebuah bangku yang berada di taman, yang dikelilingi oleh berbagai pot bunga yang sengaja diletakkan di sana.


Dari tempat tersebut, mereka bisa melihat pemandangan Kota Orchid yang begitu besar, dengan segala aktivitasnya yang komplek.


Sekilas terlihat sama dengan kota lainnya di belahan dunia mana pun, tanpa ada yang menyadari bahwa ada aktivitas lain yang berjalan di bawahnya, yang mengendalikan aktivitas di permukaan.


Dunia mengerikan yang dihuni oleh kaum berdarah dingin dengan segala bisnis ilegalnya.


Ardiaz menghentikan kursi roda sang istri, dan memasang tuas rem agar benda tersebut tak pergi kemana-mana.


Dia lalu meraih selimut yang sejak tadi tersampir di belakang kursi roda, dan menyelimuti sang istri dengan benda tersebut.


Evangeline menoleh melihat wajah suaminya, sembari mengulas senyum tipis yang begitu manis.


“Terimakasih, sayang,” ucapnya.


Ardiaz mengecup sekilas pelipis sang istri dan memeluknya dari belakang, sembari merapatkan selimut yang tadi ia pakaikan.


“Apa di sini cukup baik?” tanya Ardiaz.


Evangeline mengangguk. Dia merasa begitu nyaman berada di dalam dekapan hangat suaminya.

__ADS_1


Wanita tersebut terlihat menghela nafas dalam, sembari menatap lurus ke depan.


“Rasanya benar-benar tenang sekarang. Ini nyata bukan? Aku hanya ingin hidup seperti ini bersama mu. Bisakah?” tanya Evangeline.


“Ehm... Kita akan hidup seperti ini mulai sekarang,” sahut Ardiaz.


“Diaz, berjanjilah kita akan pulang ke Wisteria. Ayo kita mulai lagi dari awal di sana,” pinta Evangeline.


Ardiaz mengurai pelukannya. Pria tersebut bangun dan memutar, agar bisa berhadapan dengan sang istri.


Dia kini berjongkok di depan Evangeline, sembari menggenggam tangan sang istri yang terasa dingin.


Dengan penuh kelembutan, dia mengecup punggung tangan Evangeline, dan menempelkannya di pipi.


Satu tangannya terulur, dan membelai pipi Evangeline, menyingkirkan rambut yang menganggu di wajahnya.


“Aku berjanji. Setelah ini selesai, kita akan pulang bersama-sama,” ucap Ardiaz.


“Terimakasih sudah bertahan selama ini untuk ku,” lanjut Ardiaz.


Evangeline menggeleng cepat.


“Tidak. Aku yang berterimakasih karena kau sudah mau kembali padaku,” sahut Evangeline.


Keduanya saling melempar senyum, dengan tatapan yang seolah tak mau berpaling satu sama lain.


Ardiaz yang sejak tadi berjongkok di depan  sang istri, kini berdiri dengan bertumpu pada lututnya.


Wajahnya mendekat ke arah sang istri, hingga semakin mengikis jarak. Terpaan nafas hangat di kulit Evangeline, membuat wanita itu seketika meremang.

__ADS_1


Hingga sentuhan lembut di bibirnya, membuat Evangeline menutup mata dengan sendirinya, merasakan kecupan dari sang suami.


Tangannya mengepal, meremas selimut yang sejak tadi menyampir di bahunya.


Perlahan, Ardiaz memagut bibir bawah sang istri, dan memberikan gigitan kecil di sana, membuat Evangeline membuka mulut dengan sendirinya.


Pria itu pun lalu memainkan lidahnya, dan mengajak Evangeline menari di rongga mulut mereka. Keduanya saling menyesap, dan saling bertaut, menyapu kehangatan di dalam sana.


Tangan Evangeline sudah melingkar di leher sang suami, begitu pun Ardiaz yang sejak tadi menahan tengkuk sang istri, dengan satu tangan lagi mengusap lembut punggung wanita tersebut.


Cukup lama bibir mereka beradu, hingga Evangeline merasa nafasnya sesak dan membuatnya tak nyaman. Ardiaz pun melepaskan pagutannya dan memeriksa kondisi sang istri.


“Apa kau baik-baik saja? Apa ada yang sakit?” tanya Ardiaz cemas saat melihat nafas istrinya tersengal.


Namun, Evangeline menggeleng cepat, sembari mengangkat wajahnya dan mencoba tersenyum.


“Aku masih payah soal berciuman,” ucapnya.


Hal itu sontak membuat bahu Ardiaz yang sejak tadi tegang, seketika turun dengan helaan nafas lega.


Dia hanya bisa tersenyum tipis mendengar penuturan dari sang istri. Pria itu pun lalu kembali bangun dan mengecup kening Evangeline, dan membuat sekujur tubuh wanita itu menghangat.


.


.


.


.

__ADS_1


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih


__ADS_2