
Keesokan harinya, Evangeline terlihat sudah berada di dalam ruang perawatan sang suami.
Dia nampak lama terdiam di dalam sana. Helaan nafas panjang terus terdengar dari mulut gadis itu.
Tangannya terus menggenggam tangan Ardiaz, seolah dirinya tengah dilanda sesuatu yang membuatnya galau.
“Apa kau masih tak mau bangun, hem?” ucapnya kemudian.
Sejak tadi dia terus diam, rupanya menahan agar matanya tak kembali berair. Sejak tadi dadanya terasa sesak, dan matanya sudah panas.
Saat dia berbicara, seketika genangan mulai terkumpul di pelupuk mata.
Evangeline bahkan sampai mengatupkan bibir rapat-rapat untuk menahan isaknya. Namun sepertinya, apa yang tengah dirasakan gadis ini begitu berat, sampai dia tertunduk dengan bahu yang mulai berguncang.
Dia menangis dalam diam di samping sang suami. Tangannya memukul-mukul dada, berharap rasa sesak itu segera hilang. Namun, dia justru semakin merasa sakit.
“Mungkin ini terakhir kali aku kemari. Jika kau tak bangun juga, maka aku akan pergi jauh dari sini,” ucap Evangeline di sela tangisnya.
Dia tak bisa lagi berlama-lama di sana, karena rasanya oksigen seolah habis dan membuat dadanya semakin terasa sesak.
Dia pun memutuskan untuk keluar. Setelah melewati pintu, Evangeline berdiri di sana, bersandar di balik pintu.
Tubuhnya merosot ke bawah hingga berjongkok di depan ruangan tersebut.
__ADS_1
Mac duff yang melihatnya pun khawatir dan segera menghampiri Evangeline.
“Ada apa? Kenapa kau menangis? Apa ada yang salah?” tanya pria itu cemas.
Seketika, tangis Evangeline pun pecah. Gadis itu menangis sejadinya di sana. Dia tak peduli lagi dengan semua pengawal yang melihatnya seperti itu.
Mac duff semakin bingung dan tak tau harus berbuat apa. Dia hanya bisa menatap istri temanya yang saat ini sedang kacau.
Sejak awal, Evangeline selalu terlihat tegar. Namun entah kenapa, hari ini seolah dia sudah mencapai batas dan tak bisa lagi menahan semuanya.
Suara tangisan itu benar-benar memilukan hati. Mac duff merasa iba melihat gadis ini harus mengalami semua kemalangan yang saat ini dihadapinya.
Sekitar hampir satu jam, Evangeline terus menerus menangis tanpa mengucapkan sepatah katapun, dan selama itu pula Mac duff terus berada di sampingnya.
Kini, tangisannya mulia reda dan tersisa isak kecil. Di kanan dan kirinya penuh dengan tisu bekas, yang digunakan untuk menyeka air mata dan cairan yang keluar dari hidungnya.
Wajahnya bengkak karena terlalu lama menangis. Nafasnya pun masih tersengal dan belum kembali normal.
“Minumlah,” seru Mac duff, sambil mengulirkan sebotol air minum kepada Evangeline.
Gadis itu menoleh dan menatap Mac duff yang sama sekali tak menoleh saat tangannya terulur.
“Terimakasih,” ucap Evangeline dengan suara serak, seraya menerima air minum.
__ADS_1
Dia pun meneguk isinya hingga tersisa separuh, dan kembali terdiam.
“Aku tak tahu apa yang terjadi padamu. Tapi, aku ada nasihat untuk mu. Seorang pelari pun akan beristirahat jika lelah. Setelah siap, dia akan mulai berlari lagi."
"Kau pun harus begitu. Setiap manusia pasti merasa dimana dirinya merasa lelah dalam hidup. Jika sudah seperti itu, berhentilah sejenak dan tenangkan dirimu. Baru setelah itu, bangkitlah dan berjuang hingga akhir,” ucap Mac duff.
Evangeline terlihat kembali menyeka lelehan di wajahnya, dan mengambil lagi tisu yang masih bersih.
“Ini bukan soal lelah. Aku tak tahu apa aku harus menceritakannya padamu atau tidak, tapi mungkin ini hari terakhirku kemari,” ungkap Evangeline.
Malcolm seketika menoleh dan menatap wajah gadis yang terlihat begitu menyedihkan itu.
Evangeline semakin erat memeluk kedua lututnya. Ingatannya kembali kepada apa yang terjadi tadi malam.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
__ADS_1
terimakasih