A Love To Killer

A Love To Killer
BABAK 2 : Jahil


__ADS_3

Evangeline berusaha bangun dari tempat tidur, namun rasa nyeri di pangkal paha benar-benar membuatnya tak bisa berbuat apa-apa.


Dia mendesis karena badannya terasa remuk akibat ulah Ardiaz siang tadi.


Evangeline mencoba duduk di tepi ranjang, sambil meraih bathrobe yang sepertinya sudah disiapkan sang suami sebelum pergi keluar.


Dia pun mengenakan benda itu dan menutupi tubuhnya yang polos, tanpa ada apapun yang melekat di sana.


Wanita itu tak langsung pergi ke kamar mandi, karena perlu menyesuaikan dengan rasa tak nyaman yang masih tertinggal di bawah sana.


Hingga tiba-tiba, Ardiaz kembali lagi ke dalam kamar, karena sang istri yang tak kunjung turun ke bawah, setelah cukup lama dia tinggalkan.


“Apa kau belum ke kamar mandi?” tanya Ardiaz.


Pria itu melihat sang istri yang duduk di tepi ranjang dengan rambut yang masih acak-acakan, serta wajah yang masih lesu.


Evangeline kembali merona setiap kali melihat suaminya, terlebih jika mengingat apa yang sudah terjadi pada mereka.


Diapun menunduk malu karena belum siap berhadapan dengan orang yang telah menggagahinya.


Ardiaz berjalan mendekat dan melihat sesuatu di balik selimut. Bercak darah yang membuat senyum muncul di wajah pria yang selalu dingin dengan wanita itu.


Ada rasa bangga dan bahagia di dalam hatinya, saat melihat noda di atas tempat tidur tersebut.


Tangannya terulur, dan mengusap lembut surai kemerahan sang istri.


“Apa masih sakit?” tanya Ardiaz.


Evangeline tak menjawab dan hanya mengangguk saja.


Tiba-tiba, Ardiaz mengangkat tubuhnya dan membuat wanita itu memekik karena begitu terkejut.


“Apa yang kau lakukan?” tanya Evangeline bingung.


“Aku hanya membantu mu untuk pergi ke kamar mandi. Bukankah masih sakit?” jawab Ardiaz.


Mendengar jawaban itu, seketika Evangeline kembali menunduk malu, membuat lengkung di bibir Ardiaz semakin naik ke atas.


Dia terus menggendong sang istri hingga sampai di kamar mandi. Dia kemudian mendudukkan wanita itu di atas kloset.


Ardiaz lalu menyiapkan air hangat di bak mandi untuk membersihkan tubuh istrinya. Dia mengukur suhunya dengan mencelupkan tangannya sendiri.

__ADS_1


“Airnya sudah siap. Apa mau kubantu membersihkan tubuhmu?” tawar Ardiaz.


Evangeline membola dan langsung menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Dia menggeleng cepat, dan membuat Ardiaz hampir terkekeh.


Pria itu pun hanya bisa mengul*m senyumnya, demi tak membuat kesal sang istri.


“Baiklah. Aku akan tunggu di luar. Kalau sudah selesai, panggil aku. Mengerti?” seru Ardiaz.


Evangeline pun mengangguk pelan.


Ardiaz keluar dari kamar mandi dan menutup pintunya, dan menunggu sang istri selesai membersihkan diri.


Dia berjalan ke arah tempat tidur dan melepas seprei yang telah ternoda, dan menggantinya dengan yang baru. Dia tak menyangka jika akhirnya dia bisa melakukan hal itu dengan sang istri, meski hubungan mereka tak berawal baik, tapi setidaknya kini hati mereka telah bersatu.


Sementara Ardiaz sibuk membereskan sisa kekacauan yang dibuatnya, Evangeline terlihat berdiri di depan cermin, dan masih mengenakan bathrobe-nya.


Dia melihat banyaknya jejak merah di tubuh, terutama bagian leher, dada serta perut. Dia memeriksa seriap jengkal tubuhnya, dan mendapatkan jejak Ardiaz di sana.


Yang membuatnya terkejut, di bagian paha pun rupanya tertinggal jejak kemerahan itu, yang membuat Evangeline tak habis pikir dengan betapa buasnya sang suami saat di ranjang.


Dia lalu membuka bathrobe-nya dan mulai masuk ke dalam bak mandi. Air hangat membuat saraf di tubuh Evangeline menjadi sedikit rileks dan rasa pegal berangsur menghilang.


Dia menuangkan sabun di atas air dan membiarkan bisanya menutupi seluruh tubuh. Dia kembali tersenyum malu saat mengingat keperkasaan Ardiaz yang telah mengambil mahkota miliknya yang berharga.


Dia cepat-cepat menggelengkan kepala, dan melanjutkan mandinya.


Kenapa aku mendadak jadi seperti ini? batin Evangeline.


Setelah sekitar setengah jam berada di kamar mandi, Evangeline kini telah mengenakan bathrobe-nya dan hendak keluar dari sana.


Ardiaz yang melihatnya pun bergegas menghampiri karena khawatir dengan kondisi wanita itu.


“Kenapa tak memanggilku?” tanya Ardiaz.


Dia segera menggendong Evangeline dan mendudukkan di kursi rias.


“Aku sudah tak apa. Nyerinya sudah sedikit membaik,” sahut Evangeline tertunduk.


“Syukurlah. Aku sangat khawatir kalau kau akan tersiksa karenaku,” ucap Ardiaz.


“Ehm... Kau memang sangat buas. Tubuhku sampai merah semua,” gerutu Evangeline lirih.

__ADS_1


Namun, Ardiaz masih bisa mendengar itu semua dan membuatnya tersenyum jahil. Dia melihat sang istri yang dari tadi terus menunduk malu, dan membuat dia tergoda untuk mengerjainya.


Dia mendekatkan wajahnya, dan membuat Evangeline berpaling, hingga membuat Ardiaz tepat berada di depan telinga sang istri.


“Tapi kau menyukainya, bukan? Aku yakin kau masih mengingatnya dan menginginkannya lagi,” goda Ardiaz.


Hal itu sontak membuat Evangeline membola dan menoleh seketika.


CUP!


HIK!


HIK!


Sebuah serangan mendadak mendarat di bibir Evangeline, membuat gadis itu kembali mengalami cegukan.


Sontak Ardiaz pun tertawa melihat wajah kesal istrinya. Evangeline memukul dada Ardiaz dengan keras, namun tak membuat pria itu kesakitan, dan justru semakin keras tertawa.


Evangeline tak bisa bicara karena cegukan yang begitu mengganggu ini. Melihat sang istri yang kesal, Ardiaz lalu menangkap kedua tangan Evangeline yang sejak tadi terus memukulnya, lalu menangkup pipi wanita itu.


Dia kembali mencium bibir Evangeline dan membelitkan lidah mereka, hingga saling bertukar saliva.


Setelah merasa cegukan Evangeline menghilang, Ardiaz pun melepaskan pagutannya.


Dia mengusap lembut bibir bawah sang istri yang basah dengan ibu jari, lalu mengecup kening Evangeline lembut.


“Apa kau bisa ganti pakaian sendiri?” tanya Ardiaz.


“Ehm...,” Evangeline mengangguk pelan.


“Baguslah. Cepat ganti baju dan kita makan. Aku sudah menyiapkan di bawah,” seru Ardiaz.


Dia lalu berdiri dan mengusap puncak rambut Evangeline yang masih basah, kemudian berjalan keluar meninggalkan wanita itu dengan wajah yang kembali memerah.


.


.


.


.

__ADS_1


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih


__ADS_2