A Love To Killer

A Love To Killer
BABAK 2 : Mengejar


__ADS_3

Mac duff terlebih dulu memerintahkan Joy untuk menyusul ke bandara, dan mencari tahu kemana Evangeline akan pergi. Akan lebih baik jika gadis itu bisa membujuk temannya agar tak jadi pergi.


Namun, Joy mengatakan bahwa keputusan Evangeline hanya bisa diubah oleh satu orang, yaitu suaminya.


“Baiklah. Kau pergi dan tunggu kami. Pastikan kau tahu kemana gadis itu akan pergi,” seru Mac duff.


Bos sky night itu pun kemudian meminta Ardiaz dan Jordan bertukar pakaian.


Adik asli Devonshire itu akan menggantikan Ardiaz berbaring di tempat tidur, sedangkan Ardiaz sendiri akan pergi menyelinap keluar dengannya, dengan menggunakan pakaian milik Jordan.


Namun, Ardiaz terlihat ragu dengan cara ini. Pasalnya, dia juga khawatir jika Jordan sampai ketahuan.


“Kau tenanglah. Ini sudah malam, dan tak akan ada pemeriksaan lagi. Di luar, aku akan meninggalkan satu anak buahku untuk berjaga, dan membantu Jordan agar dia bisa segera kabur dari sini saat situasi darurat,” tutur Mac duff.


Mereka pun kemudian mulai menjalankan rencana. Jordan telah berbaring di ranjang, sementara Ardiaz dan juga Mac duff berjalan keluar.


Perawakan Ardiaz dan Jordan hampir sama, ditambah hacker jenius itu yang selalu menutupi kepalanya dengan tudung jaket, membuat Ardiaz dengan mudah mengelabui para pengawal yang berjaga di depan kamarnya.


Saat mereka melewati pos perawat, Mac duff diam-diam mengambil sebuah kursi roda yang berada di luar konter, dan membawa masuk ke dalama lift.


“Naiklah ke atasnya. Kau harus tetap menjaga lukamu agar tak terbuka lagi,” ucap Mac duff.


Ardiaz diam bergeming melihat kursi roda itu.


“Aku benar-benar terlihat menyedihkan sekali,” gerutunya.


“Tidak usah gengsi dan takut tidak terlihat keren lagi. Ayo cepat duduk. Aku tidak mau sampai kena masalah gara-gara membawamu menyelinap keluar,” sahut Mac duff.


Akhirnya, Ardiaz pun menurut dan duduk di sana. Mac duff menekan tombol basement dimana mobilnya berada.


Sesampainya di sana, dia segera membawa Ardiaz masuk ke dalam mobil dan membawa serta kursi roda.

__ADS_1


Saat mobil telah melaju di jalanan, tiba-tiba Joy kembali menelpon, dan mengatakan bahwa Evangeline akan pergi ke luar negeri.


Dia sampai meminta bantuan Samuel untuk meretas sistem komputer bandara, untuk mencari tahu kemana tujuan Evangeline, dan maskapai penerbangan yang digunakan.


“Pesawatnya akan lepas landas empat puluh menit lagi. Cepatlah kemari,” pinta Joy.


Setelah mendengar kabar dari sahabat Evangeline, Mac duff pun seketika menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan ibu kota bersama temannya yang masih nampak pucat, demi mencegah istrinya kabur.


Akhirnya, mereka pun tiba di bandara hampir setengah jam. Masih ada sisa waktu belasan menit dan Mac duff segera mendorong kursi roda Ardiaz ke tempat yang sudah diberitahukan oleh Joy sebelumnya.


Mereka pun bertemu.


“Dia di sana. Pesawatnya hampir berangkat. Kita harus cepat,” seru Joy panik.


“Kenapa kau tak kesana lebih dulu?” gerutu Mac duff.


“Tadinya aku akan melakukan itu kalau sampai akhir kalian tak datang juga,” sahut Joy tak kalah ketus.


“Itu... Itu dia. Dia sudah mau pergi,” pekik Joy.


Ardiaz bisa melihat sang istri dari kejauhan. Dia pun meminta Mac duff mempercepat langkahnya.


Dia semakin panik saat Evangeline sudah bangun dan berjalan menuju gerbang keberangkatan.


“Mau pergi kemana kau, gadis cengeng?” teriak Ardiaz.


Evangeline berhenti sejenak, dan membuat mereka semua berhenti berlari.


Namun, gadis itu kembali berjalan ke depan tanpa menoleh sedikit pun.


Ardiaz hendak bangun dari kursi roda untuk mengejar istrinya, akan tetapi dicegah oleh Mac duff. Hal itu membuat pria tersebut mengunpat kesal.

__ADS_1


“Hei, Eva! Berhenti atau ku seret kau pulang!” pekiknya lagi.


Kali ini, Evangeline berbalik. Dari kejauhan, Ardiaz tak begitu jelas melihat wajah sang istri yang basah oleh air mata, terlebih karena gadis itu mengenakan masker di wajahnya.


Namun, saat melihat istrinya jatuh terduduk ke lantai, seketika dia tak peduli lagi dengan larangan Mac duff, dan segera berjalan cepat menghampiri Evangeline.


Dia memeluk sang istri, dan merasakan guncangan di bahu gadis itu. Tangis Evangeline pecah, seolah tengah meluapkan semua kemelut yang sudah memenuhi dadanya.


"Tenanglah, Eva. Semua sudah tak apa-apa. Aku sudah bangun. Aku akan selalu bersama mu mulai sekarang,” ucap Ardiaz mencoba menenangkan gadis itu.


Namun bukannya berhenti, Evangeline justru semakin keras menangis. Gadis itu masih belum percaya bahwa yang di depannya saat ini benar-benar adalah sang suami, yang selama hampir sebulan ini terbaring koma di rumah sakit.


Ardiaz mengurai pelukannya dan menyeka lelehan bening di wajah sang istri. Dia berusaha meyakinkan Evangeline bahwa semuanya sudah baik-baik saja, dan kini dia sudah bangun dari tidur panjang.


Evangeline mencoba meyakinkan diri dan menyentuh wajah pria itu. Dia pun dengan antusias melingkarkan lengannya di leher Ardiaz, dan menarik pria itu ke dalam pelukannya.


Evangeline tak tahu bahwa hal tadi membuat luka sang suami kembali terasa sakit. Mac duff yang menyadarinya pun bergegas menghampiri keduanya, dan segera membawa Ardiaz kembali ke rumah sakit.


Evangeline meminta untuk ikut ditemani Joy.


FLASH BACK END


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya

__ADS_1


terimakasih


__ADS_2