A Love To Killer

A Love To Killer
BABAK 2 : Akhir dari perang


__ADS_3

Setelah berhasil melarikan diri dari anak buah Martin, Ardiaz meminta mereka segera menuju ke rumah sakit untuk menolong Evangeline.


“Sejak kapan dia seperti ini?” tanya Malcolm.


Ardiaz diam sejenak mengingat perlakuan kasar Morgan pada istrinya.


“Ini semua karena ayahmu. Dia memukulnya hingga terjatuh, dan tiba-tiba saja Eva berdarah,” jawab Ardiaz.


Dokter itu pun meraih lengan Evangeline dan memeriksa denyut nadinya yang sudah sangat lemah.


“Eva, apa kau bisa mendengarku? Cukup anggukkan kepala jika iya,” serunya.


Evangeline pun mengangguk.


“Apa perutmu sangat sakit sekarang?” tanya Malcolm lagi.


Evangeline kembali mengangguk.


“Apa darah ini seperti saat kau sedang datang bulan?” tanya Malcolm.


Lagi-lagi wanita itu mengangguk lemah.


Malcolm tak lagi bertanya. Dia sepertinya bisa menebak apa yang sedang terjadi pada istri temannya.


“Bisa percepat lagi laju mobilnya? Kita tidak punya banyak waktu. Dia sudah kehilangan banyak darah,” seru Malcolm pada Damian.


Hacker muda itu pun menginjak pedal gas lebih dalam lagi, mengingat jarak gudang kayu dan pusat kota sangat jauh.


...❄❄❄❄❄...


Di tempat lain, terlihat pertempuran terjadi di area gudang kayu di hutan selatan Kota Orchid.


Joker yang datang memimpin pasukan, menyerang markas Martin yang juga digunakannya untuk menyelap Ardiaz, Mac duff dan juga Evangeline.


Baku tembak tak bisa dielakkan. Pasukan Joker yang hampir seluruhnya disenjatai dengan senapan pun berhasil menumbangkan sebagian besar anak buah Martin yang berada di dalam gedung.


Sementara sniper di luar, membutuhkan usaha yang lebih untuk bisa membereskan mereka semua.


Morgan yang saat itu masih berada di sana, panik melihat pertempuran tersebut.


Martin pun mencoba kabur dari situasi ini, dan tak menghiraukan nasib bosnya.


Morgan yang menyadari bahwa dirinya akan ditinggal pun tak mau diam. Dia terus mengekor kemanapun Martin pergi hingga membuat sang King kerepotan.


“Kau jangan coba-coba meninggalkanku sendiri, Martin. Ingat, aku ini bosmu,” ucap Morgan.


“Aku tahu, tapi lihatlah. Keadaan sudah berbalik. Kita harus selamatkan diri masing-masing terlebih dulu,” sahut Martin.


“Itu tugasmu untuk membuatkan jalan pelarian untuk ku,” timpal Morgan.


Martin merasa tak senang dengan sikap Morgan yang selalu menuntut itu. Sejak awal, pria paruh baya tersebut selalu mengancam Martin dengan kedudukannya dan juga karena keterlibatannya dengan penyerangan Lucifer di dermaga.


“Baiklah. Tapi aku butuh akses untuk bisa keluar dari kota ini. Apa kau bisa memberinya?” tanya Martin.

__ADS_1


Morgan pun lalu meraih sesuatu yang ada di balik jas yang dipakainya. Nampak sebuah kunci dengan gantungan kuda laut muncul dari sana.


Pria tersebut kemudian melempar benda itu ke arah Martin dan langsung di tangkap oleh King tersebut.


“Itu kunci loker yang ada di stasiun bawah tanah Kota Orchid. Di sana ada telepon prabayar yang terhubung dengan seorang nahkoda kapal. Kau bisa pergi dengan kapalnya malam ini juga,” ucap Morgan.


Mendengar hal tersebut, Martin nampak tersenyum tipis. Namun tanpa di sadari, dia menyembunyikan seringainya di balik wajahnya yang tertunduk memandangi kunci itu.


“Baiklah. Mari ikuti aku keluar, Bos,” seru Martin.


Dia pun kemudian berbalik dan berjalan ke arah pintu lain, yang mengarah ke hutan pinus.


Sementara Morgan terus mengikutinya agar bisa keluar dari sana. Dia harus segera menemukan sang supir dan meminta untuk membawanya pergi dari sana, sebelum seseorang menemukan keberadaannya di tempat tersebut.


Martin terus berjalan di depan, namun ekor matanya selalu memperhatikan bagian belakangnya.


Sampai dia tiba di dekat pintu gudang, tiba-tiba saja King itu berguling dan berjongkok di sudut ruangan.


Sementara Morgan yag tak sempat mengikutinya, terkejut dengan kehadiran seseorang yang tiba-tiba muncul di depannya.


“Angkat tangan Anda, Tuan Andara,” seru orang tersebut yang tak lain adalah Joker.


King bertubuh besar itu rupanya telah menyisir kawasan sekitar hutan pinus, dan sudah mengepung area tersebut.


Martin yang sudah tau akan pola serangan Joker, rupanya sengaja menggiring Morgan agar tertangkap oleh King tersebut, sekaligus sebagai pengalihan atas pelariannya sendiri.


Sementara dirinya, melarikan diri dari jendela yang ada di sisi lain gudang, meninggalkan Morgan.


Morgan kini hanya bisa pasrah karena sudah tertangkap oleh Joker, dan dikhianati Martin begitu saja.


King bertubuh besar itu memerintahkan anak buahnya untuk menangkap Morgan dan membawanya pergi dari sana.


“Tangkap orang ini, dan bawa dia ke markas. Aku masih harus mengurus pengkhianat itu,” serunya.


Sementara dirinya pergi ke arah Martin berlari.


Dia masih memiliki urusan lain dengan King interogator yang kabur itu.


...❄❄❄❄❄...


Di hutan pinus, Martin nampak berlari dengan cepat menjauh dari gudang kayu yang kini telah menjadi medan pertempuran, atau lebih tepatnya kuburan masal untuk pasukannya.


Dia terus berlari hingga tak tau sudah sampai mana dia berada.


Ketika merasa sudah berjarak cukup jauh dari gudang kayu, Martin terlihat berhenti untuk mengambil nafas yang sejak tadi sudah hampir habis.


Kondisi hutan selatan yang selalu berkabut dengan tekanan udara tinggi, membuat kadar oksigen pun terbatas.


Ditambah dia sudah berlari sejak tadi. Dia terus berlari demi bisa menghindari pertempuran dengan Joker, yang sudah pasti akan dimenangkan oleh King bertubuh besar itu.


Namun, saat dia baru saja duduk bersandar di bawah pohon, sebuah kilau dari atas pohon, mengusik matanya.


Dia pun menutup sebagian mata dengan tangan, dan mencoba melihat apa yang berkilau itu.

__ADS_1


Matanya seketika membola saat tahu apa yang ada di atasnya.


Dia pun segera bangun dan kembali berlari seolah melihat hantu. Wajahnya benar-benar terlihat ketakutan dan terus menoleh ke belakang.


Tiba-tiba...


BUG!


Sebuah pukulan keras mendarat tepat di wajah King interogator itu, dan membuatnya terpental kebelakang dan jatuh ke tanah.


Belum sempat dia bangun, kepalanya sudah lebih dulu dimasukkan ke dalam kantung dan kedua tangan terikat ke belakang, sementara kakinya pun tak luput dari ikatan.


“Apa yang kalian lakukan? Lepaskan aku. Aku adalah King Lucifer. Apa kalian tak tau itu, hah!” teriak Martin mencoba meminta dilepaskan.


Namun, orang-orang yang menangkapnya tak peduli sama sekali dan memanggul pria itu, lalu membawanya ke suatu tempat.


“Kerja bagus. Target sudah kita tangkap. Sekarang, bawa mereka dari sini,” seru Joker kepada anak buahnya.


Semua orang pun pergi meninggalkan gudang kayu yang kini menjadi kuburan massal anak buah Martin yang telah terbunuh seluruhnya.


Tim sapu bersih dutinggalkan untuk mengurus mayat semua orang dan menghapus jejak dari tempat tersebut.


Sementara Martin dan Morgan, dibawa pergi dengan menggunakan dua mobil berbeda.


“Apa semua sudah selesai?” tanya seorang wanita yang sejak tadi menunggu di luar hutan, bersama beberapa anak buahnya yang membawa armada.


“Semua sudah dibersihkan. Bawalah Tuan Andara. Kau tau harus membawanya kemana, bukan?” ucap Joker kepada wanita yang tak lain adalah Alexa


“Baiklah,” sahut Alexa.


Dia kemudian memerintahkan anak buahnya membuka pintu belakang dan memasukkan Morgan yang sudah terikat ke dalam kursi belakang.


Sementara dia nampak berjalan ke arah Martin yang masih di panggul oleh dua orang anak buah Joker yang bertubuh hampir sama dengan sang King.


“Pria bod*h. Sekarang, permainan busukmu itu sudah selesai,” ucap Alexa di depa Martin.


“Wanita murahan. Lepaskan aku. Kalian tidak bisa membuatku seperti ini,” maki Martin dengan terus menggeliat mencoba melarikan diri.


Namun, Alexa tak peduli sama sekali dan berbalik menuju mobilnya. Sementara Joker memerintahkan anak buahnya untuk segera memasukkan Martin ke dalam mobil.


Kedua King itu lalu berpencar dan masing-masing membawa tawanan menuju ke tempat yang berbeda.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih

__ADS_1


__ADS_2