
Beberapa saat berlalu, pintu tiba-tiba terbuka dan muncullah seseorang dari sana. Nampaknya dia tak datang seorang diri, melainkan ada orang lain di belakangnya.
Dia bahkan mempersilakan orang tersebut untuk berjalan terlebih dulu di depan. Ardiaz yang sejak tadi terus fokus pada Evangeline, kini menatap lurus ke arah sosok yang belum terlihat jelas di ke gelagapan itu.
Sementara Evangeline, terlihat semakin panik melihat ada orang yang masuk ke dalam ruangan tersebut.
Sosok itu semakin mendekat dan akhirnya, wajahnya pun terlihat oleh semua orang. Dengan senyum yang terlihat begitu ramah, terdapat sebuah wajah mengerikan di baliknya.
Evangeline yang mengenal wajah itu pun semakin ketakutan, karena dia sudah tahu siapa orang tersebut.
“Kita bertemu lagi, Nona. Apa kau masih mengingatku?” sapa orang tersebut yang tak lain adalah Morgan Andara, ayah Dokter Malcolm.
Evangeline terdiam dengan bola mata yang gemetar. Tangannya bahkan terus bergerak mencoba lepas dari ikatan, karena merasa dirinya terancam dengan kehadiran pria paruh baya di depannya.
Sementara Ardiaz dan juga Mac duff nampak lebih tenang, namun siapa pun bisa melihat betapa mengerikan tatapan keduanya ke arah Morgan.
“Mari kuperkenalkan pada Anda, Tuan. Wanita ini adalah istri dan kekasih pura-pura dari kedua pria ini,” ucap Martin yang tiba-tiba muncul di samping Morgan, sambil menunjuk ke arah Ardiaz dan juga Mac duff.
Morgan pun mengalihkan pandangannya ke arah dua orang pria yang terikat dan nyaris tergantung, tak jauh dari posisinya berada.
“Ah... Jadi begitu. Kau bahkan sudah punya suami, dan kekasih pura-pura...,” ulang Morgan.
Dia kembali menatap Evangeline dan sedikit membungkuk, lalu meraih kedua pipi wanita itu dengan satu cengkeraman tangan.
Dengan kasarnya, dia membolak balikkan wajah Evangeline, hingga membuat wanita tersebut semakin ketakutan.
“... Aku heran, kenapa putra ku begitu b*doh? Meski sudah tahu semuanya, dia masih mau menikahi wanita seperti mu? Tapi, kau dengan sombongnya menolak...” lanjutnya.
Dia menghempaskan pipi Evangeline hingga membuat kepala wanita itu terhuyung ke belakang.
“... dan sekarang dia akan pergi. Semua karena kau,” pungkas Morgan.
PLAK!
“EVA!” pekik Ardiaz.
__ADS_1
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Evangeline, membuat wanita itu sampai terjatuh ke samping, dengan masih terikat di kursinya.
Melihat sang istri diperlakukan kasar seperti itu, Ardiaz pun tak bisa tinggal diam. Dia terus berontak mencoba melepaskan diri dari ikatan kita yang menahan gerakannya.
“Kurang ajar. Beraninya kau menyentuh dia. Masalahmu adalah denganku, bukan? Lepaskan Eva dan Delta. Ayo kita selesaikan masalah lama kita tanpa melibatkan mereka,” ucap Ardiaz menahan emosi.
Morgan berdiri menghadap Ardiaz. Sebelah sudut bibirnya terangkat, dan terlihat begitu sinis.
“Benar. Kita punya masalah lama. Aku ingat, bukankah kau dan kakakmu pergi saat aku berkunjung ke rumahmu sepuluh tahun lalu? Harusnya kalian berdua juga ikut bersama dengan kedua orang tua kalian ke akhirat. Tapi... Ah, aku benar-benar menyesal tak langsung mencari dan membunuh kalian,” ucap Morgan.
Ardiaz mengeraskan rahangnya, mendengar semua penuturan ayah temannya, akan kekejamannya yang sudah membantai keluarga Danurendra di masa lalu.
“Bos, jadi rupanya kau...,” tanya Martin, yang terkejut karena mengira kedua pria itu sedang membicarakan kematian Emperor sebelumnya.
“Brengs*k. Sebaiknya kau lepaskan mereka sekarang dan mari kita selesaikan masalah kita berdua,” sela Ardiaz sambil mengatupkan rahangnya kuat-kuat.
“Hahahaha... Hahahaha... Kau bercanda? Hahahaha... Apa kau tidak lihat posisi kita sekarang? Bukan kau yang memutuskan... Tapi aku,” sahut Morgan menekankan posisinya.
Dia lalu menoleh ke arah Martin dan memintanya membetulkan posisi duduk Evangeline.
Rambutnya pun kotor terkena air genangan yang mengenainya saat terjatuh. Sebagian wajahnya bahkan ikut kotor terkena tanah basah.
“Lihatlah. Wanita cantik ini jadi begitu kotor. Anakku bisa marah jika sampai melihat hal ini,” ucap Morgan.
Pria itu pun lalu meraih sebuah sapu tangan dari saku jasnya, kemudian mengusap wajah cantik Evangeline yang kotor.
Awalnya gerakan pria itu sangat hati-hati, namun lambat laun semakin kasar dan berakhir dengan dia melempar sapu tangan itu ke wajah Evangeline, membuat wanita tersebut kembali mengerutkan bahunya semakin ketakutan.
“Brengs*k!” maki Ardiaz semakin tak tenang, melihat sang istri kembali diperlakukan kasar.
Morgan tak peduli dengan kemarahan Ardiaz. Dia mengantungkan tangannya ke dalam saku jas, dan berdiri dengan tatapan merendahkan ke arah Evangeline.
“Aku akan beri kau satu kesempatan, Nona. Bujuk putraku agar tidak pergi, bagaimana pun caranya. Aku tak peduli jika kalian harus menikah agar dia mau untuk tetap tinggal...,” ucap Morgan.
“Apa kau gila? Aku sudah...,” sela Evangeline.
__ADS_1
“... Tapi... Jika kau gagal, maka mereka berdua pun akan pergi dari dunia ini... selamanya,” tepis Morgan cepat.
Evangeline membelalak tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh pria paruh baya itu. Dia seketika menoleh ke arah suaminya, dan juga Mac duff yang masih terikat di depan sana.
“Jangan dengarkan dia. Dia hanya orang gila. Kau tidak perlu takut. Kami akan baik-baik saja...,” ucap Ardiaz terpotong.
DOR!!!!
AAAARRRRGGHHH!!!
“DIAZ!!!” teriak Evangeline histeris.
Ardiaz tiba-tiba berteriak, saat sebuah peluru berhasil mengenai pundak kirinya. Rupanya, Morgan dengan cepat meraih pistol yang ada di tangan Martin, dan langsung mengarahkannya kepada Ardiaz, agar dia segera diam.
“Alpha, kau tak apa?” tanya Mac duff yang terlihat panik melihat rekannya terluka.
Sementara Ardiaz, tampak meringis karena luka tembak itu. Ditambah, posisi lengannya yang menggantung membuatnya semakin merasa kesakitan.
“Aku tak apa. Jangan panik,” ucapnya lirih menahan rasa sakitnya.
Dia lalu menatap Evangeline dan mencoba tersenyum, agar wanita itu tenang. Namun, istri mana yang bisa tenang saat melihat suaminya sedang kesakitan, meski dia menutupi dengan senyuman.
“Kau lihat. Aku bisa melakukan apapun demi putraku, meski melenyapkan nyawa orang lain. Aku beri kau waktu sampai matahari terbenam. Pilihan ada di tanganmu,” ucap Morgan.
Dia pun lalu meninggalkan ruangan tersebut, menyisakan tiga tawanannya.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
__ADS_1
terimakasih