
Beberapa waktu berlalu, dan Evangeline masih betah berlama-lama di ruang rawat Ardiaz.
Setelah sebelumnya keduanya saling berpelukan dengan Evangeline yang terisak di sana, kini gadis itu terlihat tengah memegangi gunting dan plester luka.
“Selesai. Apa masih ada luka lagi yang belum ku periksa?” tanya Evangeline setelah selesai mengobati suaminya.
“Tidak ada. Kau sudah mengobati semuanya,” sahut Ardiaz.
“Baiklah. Kalau begitu tugasku merawatmu sudah selesai. Sepertinya aku sudah terlalu lama di sini. Orang-orang bisa curiga nanti,” ucap Evangeline.
“Kau bahkan sudah bisa membatasi diri dan mau memahami situasiku,” timpal Ardiaz.
“Tentu saja. Selama kau koma, aku selalu kemari dan merawatmu. Mike selalu mengingatkan ku bahwa aku tak bisa berlama-lama di sini karena akan sangat berbahaya, dan aku tak bisa datang lagi menemuimu jika sampai mereka curiga,” sahut Evangeline.
Ardiaz kembali mengulurkan tangan dan mengusap lembut puncak kepala sang istri.
“Kalau begitu, sebaiknya sekarang pulanglah. Kuharap, kau bisa kemari lagi besok,” seru Ardiaz.
Evangeline sudah merapikan semua alat medis yang ada di atas stroller, dan kembali menghadap ke arah Ardiaz.
“Apa kau tak mau mengatakan apapun padaku?” tanya Evangeline.
Ardiaz paham apa maksud dari perkataan sang istri. Dia berhutang penjelasan akan semua yang sudah terjadi. Hanya saja, dia sadar waktu mereka bersama tak banyak.
Evangeline harus segera pergi karena bisa saja ada yang datang, atau mungkin mata-mata Vermont mulai curiga.
Akhirnya dengan senyum tipis, dia membuat suatu kesepakatan dengan istrinya.
“Bagaimana kalau satu hari satu pertanyaan?” ucap Ardiaz.
“Kenapa begitu?” tanya Evangeline tak paham.
Ardiaz semakin mengembangkan senyumnya dan dengan gemas menarik hidung sang istri.
AAARRRRGHHH!
Evangeline memekik, namun Ardiaz segera menempelkan telunjuknya di bibir gadis itu. Evangeline pun seketika diam.
__ADS_1
Dengan kesal, dia memukul lengan Ardiaz dan membuat pria itu terkekeh melihat wajah kesal istrinya.
“Kenapa kau selalu saja menyebalkan? Kenapa tak menjawab tapi malah menarik hidungku,” gerutu Evangeline sambil mengusap hidungnya yang memerah.
Melihat Evangeline yang cemberut, Ardiaz pun menghentikan kekehannya dan mencoba meraih hidung istrinya.
“Apa sakit?” tanyanya.
“Tentu saja. Apa kau tak lihat sampai merah seperti ini, hah?” gerutu Evangeline.
“Hehehe... Maafkan aku. Kau terlalu menggemaskan seperti biasa,” ucap Ardiaz.
Evangeline masih terlihat kesal karena pria itu terus menggodanya. Namun, tiba-tiba dia menyadari bahwa selama ini Ardiaz belum pernah tertawakan seperti ini di depannya.
“Tadi kau bilang, satu hari satu pertanyaan bukan?” tanya Evangeline tiba-tiba.
Ardiaz berhenti terkekeh dengan sudut mata yang nampak berair karena kelucuan Evangeline.
“Ehm... Apa sudah kau putuskan akan bertanya apa?” tanya Ardiaz balik.
Ardiaz mendadak diam dengan wajah yang terlihat sedikit terkejut. Dia tak menyangka jika pertanyaan pertama sang istri bukan tentang kepergiannya ke Kota Orchid.
“Jawablah. Kau tau, kau sudah berjanji padaku untuk mengatakan semuanya padaku,” ucap Evangeline kemudian.
Helaan nafas panjang mendahului jawaban pria itu.
“Ehm... Benar. Aku selalu tertawa setiap kali berhasil mengerjaimu,” jawab Ardiaz.
“Tapi, ke...,” timpal Evangeline.
“Sstt! Bukankah kita sudah sepakat, satu hari satu pertanyaan. Ini sudah cukup lama kau di sini. Jika ingin tahu lebih banyak lagi, datanglah lagi besok,” sela Ardiaz.
Evangeline kesal karena perkataannya disela begitu saja oleh sang suami.
“Baiklah... Baiklah... Aku akan pergi sekarang. Besok, bersiaplah untuk menjawab pertanyaan selanjutnya,” ucap Evangeline.
“Aku tahu,” sahut Ardiaz.
__ADS_1
Evangeline pun bangun dan bersiap mendorong stroller-nya.
“Aku pergi,” ucap Evangeline.
“Berhati-hatilah saat pulang,” seru Ardiaz.
Keduanya pun dengan berat hari berpisah. Evangeline membuka pintu, dan berjalan ke arah konter yang sebelumnya ditunjukkan oleh perawat palsu itu.
Sesampainya di sana, dia disambut oleh Mac duff yang sejak tadi terus berjaga di area tersebut, memastikan bahwa tak ada orang lain yang datang.
“Aku sudah selesai. Sebaiknya aku segera pergi,” ucap Evangeline.
“Ikut aku,” seru Mac duff.
Pria itu pun lalu berjalan lebih dulu dan diikuti oleh Evangeline di belakang. Mereka menuju ke sebuah toilet dengan tulisan “dalam perbaikan”
“Masuk dan bergantilah. Aku akan mengantarkan kau setelahnya,” seru Mac duff.
Evangeline tak bertanya lagi dan segera menuruti perkataan sang Duke. Rupanya, di sana sudah ada sebuah paper bag yang dibawa Evangeline sebelumnya.
Toilet itu sengaja dipasang tulisan agar tak ada yang masuk dan melihat Evangeline melepas penyamarannya.
Setelah selesai berganti, dia pun kembali berjalan mengikuti Mac duff ke arah parkiran, di mana mobil pria itu berada.
Akhirnya, mereka bisa dengan mulus keluar dari rumah sakit tanpa diketahui siapapun.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih
__ADS_1