A Love To Killer

A Love To Killer
BABAK 2 : Targetnya adalah...


__ADS_3

Keesokan harinya, Evangeline yang merasa sudah lebih baik, kini terlihat tengah membersihkan diri di kamar mandi.


Saat ini, dia sendirian di apartemennya karena pada sore hari kemarin, Joy berkata bahwa Samuel menghubunginya karena ada hal penting yang harus mereka bahas.


Hal ini membuat Evangeline harus melakukannya seorang diri. Beruntung, kondisi tubuhnya yang memang sudah lebih baik, membuat gadis itu tak terlalu khawatir saat ditinggalkan.


Dia bahkan sudah melepas selang infus dari lengannya dengan susah patah, karena menahan sakit saat jarumnya tercabut dari pembuluh darah.


Apartemen itu terasa sepi, terlebih setelah Ardiaz kembali pergi meninggalkannya. Namun, dia percaya jika kali ini pria itu pasti akan menepati janji, dan tak akan meninggalkan dirinya lagi.


Mengingat hal itu, membuat wajah Evangeline tersipu, terlebih saat mengingat kecupan lembut Ardiaz di bibirnya.


Gadis itu tanpa sadar menyentuh bibirnya, seraya merasakan jejak sentuhan suaminya di sana.


Merasakan wajahnya semakin panas, Evangeline pun menggeleng cepat sambil menepuk-nepuk kesu pipinya sedikit keras.


"Gila. Apa ya h sedang kau pikirkan, Eva?" gumamnya pada diri sendiri.


Selesai mencuci wajah dan menggosok gigi, Evangeline lalu berjalan ke arah dapur. Gadis ini ingin membuat sesuatu untuk ia makan.


Perutnya terasa lapar karena dia sudah melewatkan sarapan. Dia bangun menjelang siang, karena obat penenang yang di minum membuat tidurnya benar-benar nyenyak.


Saat masakannya hampir matang, tiba-tiba Joy terlihat datang dari pintu depan. Evangeline yang melihatnya pun menyapa gadis berambut pendek itu.


"Hai, Joy. Apa kau ingin makan sesuatu? Biar aku buatkan," ucap Evangeline.


Namun, Joy tak menyahut. Dia justru menatap sahabatnya itu dengan ekspresi aneh.


Joy memilih duduk di sofa dan menanggalkan tasnya. Dia terus memperhatikan Evangeline yang nampak begitu ceria.


Dia yakin, jika perubahan mood sahabat, dikarenakan oleh kedatangan sang suami kemarin.


Evangeline kembali menoleh ke arah Joy, dan merasakan ada hal aneh pada sahabatnya itu.


"Joy, apa kau baik-baik saja?" tanya Evangeline.


"Eva, apa suamimu datang semalam? Atau apa dia datang pagi ini?" tanya Joy.


Evangeline yang saat itu sedang menyalakan kompor, seketika mematikan benda tersebut. Dia kembali menoleh ke arah sahabatnya, karena merasakan pertanyaan itu begitu aneh.


Dia pun berjalan ke arah Joy dan duduk di dekatnya. Dengan tatapan menyelidik dan penuh tanya, Evangeline membuat Joy tertunduk, dan memainkan jemarinya.


"Ada apa, Joy? Kenapa kau menanyakan Ardiaz? Apa terjadi sesuatu?" tanya Evangeline bertubi.

__ADS_1


Joy ragu untuk mengatakannya, karena merasa hal ini pasti akan membuat tawa di wajah Evangeline kembali menghilang.


namun, melihat sahabatnya yang terus diam, justru membuat istri Ardiaz itu semakin tak tenang.


"Joy," panggil Evangeline lagi.


Akhirnya, Joy pun menatap sahabatnya. Dia meraih kedua tangan gadis itu dan menggenggamnya.


"Semalam terjadi pertempuran antara Lucifer dengan kelompok mafia luar negeri di pelabuhan kecil dekat pesisir timur," ungkap Joy.


Evangeline nampak memicing dengan kening yang berkerut. Dia masih belum bisa menangkap maksud dari perkataan sahabatnya itu.


"Mereka menang, hanya saja banyak pasukan mereka yang terluka dan tak sedikit pula yang mati di tempat. Bahkan kabarnya, salah satu King mereka sekarat," lanjut Joy.


Seketika Evangeline pun membola. Dia melepas tangannya dari genggaman Joy dan menutup mulutnya rapat.


Pikirannya langsung tertuju pada Ardiaz. Matanya seketika kembali berair dan satu lelehan bening menerobos pelupuk matanya.


"A... apa kau yakin? Ba... bagaimana kau bisa tahu hal ini? Bisa saja informasi mu salah bukan," elak Evangeline.


"Apa kau ingat semalam aku pergi ke mana?" tanya Joy.


Evangeline hanya mengangguk dengan tatapan yang menuntut penjelasan lebih.


"Tapi, bisa saja informasi itu bukan terjadi semalam. Mungkin saja untuk nanti. Aku masih bisa membujuknya agar tak terlibat," sanggah Evangeline.


"Aku ada di sana, Eva. Aku melihat sendiri bagaimana mengerikannya pertempuran itu," sahut Joy cepat.


Evangeline seketika diam.


"Aku dan senior memutuskan untuk pergi ke tempat itu. Tapi, kami tak bisa mendekat karena di luar sudah banyak pasukan Lucifer yang berjaga. Kami hanya bisa melihat dari kejauhan, dengan teropongku."


"Suasananya benar-benar mencekam. Saat kami tengah memantau, tiba-tiba terdengar ledakan besar dari arah dalam, dan setelahnya diikuti suara tembakan senjata api beruntun. Keadaannya benar-benar mengerikan," lanjut Joy.


Evangeline nampak terus mendengarkan, meski matanya terus tertutup menahan air mata yang seolah ingin kembali membanjiri wajahnya.


Dadanya kembali sesak saat memikirkan sang suami yang bisa saja menjadi salah satu korbannya.


...❄❄❄❄❄...


Malam tadi, Ardiaz yang hendak menyusul Mac duff dan juga Martin, justru terjebak dalam pertempuran yang tak seimbang.


Ketika dia meninggalkan semua pasukannya di belakang, tiba-tiba ledakan dari buritan kapal merembet hingga ke depan, dan memuaskan sebagian besar pasukan Martin yang tengah menggeledah kapal tersebut.

__ADS_1


Mac duff dan Martin yang ada di atas kapal bahkan harus melompat ke dalam air dingin untuk menghindari ledakan yang terjadi.


Tidak sampai di situ, sesuai prediksi Ardiaz, kapal itu memanglah sebuah jebakan. Saat ledakan terjadi, tiba-tiba pasukan Martin yang tersisa bersamanya satu persatu tumbang oleh tembakan sniper lawan.


Ditengah kepanikan, muncul sekelompok orang menghadang Ardiaz dan sisa pasukan Martin yang saat ini bersamanya.


Seseorang dari dalam kelompok lawan yang sepertinya adalah pemimpin mereka, maju dan berhadapan dengan Ardiaz.


"Halo, King Jordan. Akhirnya kita bisa bertemu," ucapnya.


Mendengar hal tersebut, Ardiaz semakin yakin bahwa mereka sudah masuk ke dalam jebakan.


Martin sialan. Semua ini gara-gara dia, kakinya dalam hati.


Ardiaz pun mencoba bersikap setenang mungkin.


"Kenapa kalian mengganggu kami? Bukankah selama ini kita sudah memiliki teritori sendiri?" tanya Ardiaz.


Orang itu tertawa, dan merasa lucu dengan pertanyaan dari Ardiaz.


"Kita memang memiliki teritori masing-masing. Tapi, saat klien memberi tugas, menyerang sarang sekutu pun akan kami lakukan. Bukan begitu cara kerja di dunia kita," ucap pimpinan lawan.


Ardiaz diam tak menyahut sama sekali. Tatapannya benar-benar tajam dan terasa dingin. Namun, lawan bicaranya justru tergelak melihat wajah serius Ardiaz.


"Hahahaha... apa kau tidak penasaran apa tugas kami?" tanyanya pada Ardiaz.


Suami Evangeline itu masih diam. Dia seolah tak ingin tahu, meski dia juga ingin tahu alasan sebenarnya lawan dikabarkan mengincar Lucifer.


Pimpinan musuh itu menghentikan tawanya, dan kembali menatap lurus ke dalam manik hitam Ardiaz, dengan seringai yang merendahkan.


"Tujuan kami adalah dirimu, hidup atau mati," ungkap musuh.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih

__ADS_1


__ADS_2