A Love To Killer

A Love To Killer
BABAK 2 :Berbincang


__ADS_3

“Apa kau tak akan pergi kuliah?” tanya Ardiaz.


Keduanya kini tengah duduk di ruang tengah sambil menikmati buah potong segar yang sebelumnya disiapkan oleh Ardiaz untuk pencuci mulut.


“Aku sudah mengajukan cuti saat akan pergi waktu itu,” jawab Evangeline enteng.


Matanya terus menatap ke layar kaca di depannya, sementara Ardiaz justru menoleh ke arahnya.


Tangannya terulur dan seketika menyentil kening gadis di sampingnya.


"AAAWWWWW!” pekik Evangeline.


Gadis itu mengusap keningnya yang terasa nyeri dan menatap kesal ke arah sang suami.


“Kenapa kau menyakitiku? Ini namanya KDRT,” tanya Evangeline cemberut.


Bukannya menjawab, Ardiaz justru mencondongkan wajahnya ke arah sang istri dengan mata yang memicing. Hal itu sontak membuat Evangeline mengerutkan kening sembari memundurkan dirinya.


“Ada apa?” tanya Evangeline gugup.


“Kau belum memberitahuku kenapa hari tiba-tiba akan pergi, bukan,” ucap Ardiaz.


Evangeline seketika mengendurkan kerutan di kening dan membelalakkan matanya. Dia bahkan memalingkan wajah kesamping, membuang pandangannya ke sembarang arah, mencoba menghindari tatapan maut suaminya yang mengintimidasi.


“Eva...,” panggil Ardiaz.


“Apa?” tanya Evangeline balik sambil sekilas menatap mata suaminya, meski sedetik kemudian kembali memalingkan wajah.


“Apa yang terjadi sebenarnya? Apa kau tak tahan menungguku bangun dan ingin kabur dengan pria lain, hah?” ucapnya menerka.

__ADS_1


Evangeline tak terima dengan perkataan sang suami, dan seketika menoleh menatap lurus ke rah Ardiaz.


“Hei, Tuan. Justru karena pria lain aku jadi harus kabur darinya,” sahut Evangeline cepat.


Ardiaz semakin memicingkan mata, sementara Evangeline justru menutup mulutnya karena sudah keceplosan.


“Apa maksudmu? Siapa pria lain yang mencoba menganggumu, hah?” tanya Ardiaz menginterogasi.


Evangeline kembali membuang pandangannya dan mencoba mengalihkan perhatian.


“Ah... Melon ini sangat segar dan manis,” ucapnya sambil memakan sepotong kecil Melon dari atas piring.


“Eva, jangan alihkan pembicaraan. Apa pria itu Malcolm?” terka Ardiaz.


Sontak Evangeline tersedak Melon, dan terbatuk. Ardiaz semakin yakin bahwa terkaannya benar.


Dia meraih gelas berisi air minum dan memberikannya kepada sang istri. Evangeline segera meneguk habis air dan membuat tenggorokan membaik.


Sementara Ardiaz, dia terus menatap tajam sang istri dan menunggu penjelasan Evangeline.


“Dia melamar ku, dan ayahku bahkan menyetujuinya. Dia melakukan itu karena percaya bahwa kau sudah mati. Tapi aku yakin itu semua kebohongan yang dibuat Malcolm. Benar bukan? Dia mengambil keuntungan dari kondisimu yang tak bisa muncul di depan kami?” tanya Evangeline.


Gadis itu menoleh dan balas menatap sang suami.


“Apa kau selama ini berpikir begitu?” tanya Ardiaz balik.


Evangeline mengangguk.


Helaan nafas panjang terdengar dari pria itu. Dia bahkan mengalihkan pandangan dan menyandarkan punggungnya di sofa.

__ADS_1


“Sepertinya aku sudah sangat bersalah padanya,” ucapnya kemudian.


Evangeline mengerutkan keningnya mendengar perkataan sang suami.


Ardiaz kembali menoleh dan melihat sorot mata penuh tanya dari Evangeline.


“Dia tidak seperti yang kau pikirkan. Ini semua salahku. Memang tidak sepenuhnya, tapi karena aku, dia mulai dekat denganmu,” lanjutnya.


Ardiaz pun menceritakan semuanya dari awal. Hubungan seperti apa yang dijalin antara Ardiaz, Malcolm dan dua pria lainnya, sejak sebelum dia memutuskan pergi dan pesan yang dia tinggalkan kepada Malcolm, untuk mengantisipasi kejadian terburuk yang mungkin terjadi ditengah perjalanannya.


“Apa kau tahu, apa julukan yang mereka berikan padaku?” tanya Ardiaz.


Evangeline menggeleng pelan.


“Ahli taktik jenius. Aku sering memimpin misi, dan hampir semuanya berhasil. Jika pun tidak, aku telah memikirkan jalan keluar dan solusinya terlebih dahulu.”


“Kabar kematianku, surat untuk kakakku, dan kalung bermata biru yang kau terima, itu semua aku yang telah mengaturnya. Malcolm hanya menjalankan perintah ku saja.”


“Tapi rupanya, ada satu hal yang tidak bisa diprediksi, yaitu perasannya padamu. Aku sama sekali tak pernah menyangka bahwa dia akan bersimpati padamu dan jatuh hati padamu sampai sekarang,” ungkap Ardiaz.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya

__ADS_1


terimakasih


__ADS_2