
Di sepanjang jalan, Evangeline hanya bisa diam, sambil mencoba mencari cara untuk kabur.
Sepanjang perjalanan, dia terus mencoba meraih gagang pintu, namun selalu kedapatan oleh orang-orang itu.
Hingga tibalah mereka di rumah sakit pusat Kota Orchid.
Evangeline memicingkan mata, tatkala melihat bangunan besar di depannya.
Kenapa mereka membawaku kemari? Apa mungkin mereka ini..., batin Evangeline menerka-nerka.
Sesampainya di parkiran basement, para pria itu kembali menyeret Evangeline dan membawanya ke sebuah lantai yang berada di top five gedung tersebut.
Evangeline berjalan terseok-seok karena mengikuti langkah kaki orang-orang itu yang berjalan dengan sangat cepat.
Dari kejauhan, dia melihat beberapa pria berpakaian serba hitam tengah menjaga sebuah ruangan.
Ditambah dua orang pria dan wanita yang saling diam, dimana si pria berdiri dengan tegap, sementara si wanita duduk dengan melipat tangannya di depan dada, bahkan kakinya juga menyilang ke atas.
Evangeline seperti mengenal siapa wanita itu, dan mencoba mengingatnya.
Namun, saat semakin mendekat, fokusnya justru pada pria yang yang tak lain adalah Mac duff, atau yang dia kenal bernama Mike.
Jantungnya kembali berdegup kencang saat melihat teman Ardiaz itu, seolah tahu bahwa sang suami ada di dekat sini.
Akan tetapi, belum juga dia berhasil memanggil namanya, Alexa yang melihat kedatangan gadis itu, lebih dulu berdiri dan menghadang tepat di depannya.
“Kalian bisa lepaskan dia sekarang,” seru Alexa.
Kini kedua wanita itu saling berhadapan. Evangeline pun seketika mengingat wanita di depannya.
Bukankah dia wanita yang waktu itu, batinnya.
Alexa menoleh ke belakang melihat Mac duff, diikuti oleh Evangeline yang juga menatap pria tersebut.
“Aku membawamu kemari untuk mengobati lukanya,” ucap Alexa.
Evangeline diam. Dia tak mengerti maksud dari perkataan wanita itu.
Melihat Evangeline yang hanya diam, ditambah Mac duff yang hanya menatap lurus ke arah gadis tersebut, membuat Alexa kesal.
“Apa kau tak paham maksudku? Cepat rawat luka kekasihmu itu, atau dia akan sekarat, sama seperti orang yang ada di dalam,” ucap Alexa kesal.
Evangeline semakin tak paham dan menautkan kedua alisnya.
Melihat gadis itu kebingungan, Mac duff pun maju dan menarik tangan Evangeline, lalu menyembunyikan gadis itu di balik punggungnya.
“Sudah cukup. Bukankah kau sudah membawanya kemari untuk mengobati luka? Sekarang pergilah,” usir Mac duff pada Alexa.
__ADS_1
Wanita seksi itu semakin kesal, dan melepas lipatan tangannya. Dia menghentakkan kaki dan berbalik pergi dari sana.
Setelah Alexa sudah menghilang di kejauhan, Mac duff baru melepas tangannya dari lengan Evangeline.
“Maaf atas sikapku tadi,” ucap Mac duff.
Evangeline nampak menoleh ke samping. Matanya terasa panas, saat melihat sosok pria yang tengah terbaring seorang diri di dalam ruangan yang dijaga ketat itu.
Mac duff berbalik dan melihat hal itu. Dia pun segera membawa Evangeline pergi dari sana.
“Kalian tetap di sini dan pastikan King aman. Aku akan segera kembali,” serunya pada semua anak buahnya yang berjaga di sana.
Dia lalu menarik Evangeline pergi dari tempat tersebut, membawanya ke ujung lorong di mana terdapat pintu yang menuju ke atap rumah sakit.
Tempat itu penuh dengan pipa-pipa saluran pembuangan udara dari seluruh gedung, ada juga mesin-mesin penyaring udara raksasa.
Mac duff memastikan tak ada siapapun di sana, sementara Evangeline masih terdiam.
“Apa itu dia?” tanya Evangeline kemudian.
Mac duff lalu kembali menghampiri gadis itu yang masih tertunduk.
“Untuk sementara, Mari kita bermain seperti ini saja. Kita lakukan seperti apa yang wanita itu pikirkan,” ucap Mac duff.
Evangeline mengangkat wajahnya dengan mata yang telah basah. Bahkan beberapa tetes air mata telah meluncur ke pipinya.
“Berpura-puralah menjadi kekasihku,” jawab Mac duff.
“Apa kau gila? Suamiku sedang sekarat di sana dan kau malah meminta ku menjadi kekasih mu?” cecar Evangeline.
“Hanya ini cara yang bisa kita lakukan sekarang. Alexa sudah melihatmu, tapi dia belum tahu hubunganmu dengan Alpha. Eva, mengertilah. Selama ini dia berusaha menjauh dari kalian semua demi menjaga keluarganya tetap aman. Situasi menjadi sangat sulit saat ini. Ku mohon mengertilah, Eva,” bujuk Mac duff.
Evangeline mengusap air matanya dan menatap tajam ke arah Mac duff.
“Sebenarnya apa yang terjadi pada dia? Bagaimana dia bisa terlibat dengan kalian semua? Kenapa kehidupanku yang damai, tiba-tiba berubah seperti film action yang penuh teka teki dan menegangkan seperti ini?” cecar gadis itu lagi.
Dia benar-benar tak tahu lagi dengan semua keadaan ini. Semuanya berubah dalam sekejap mata. Hidupnya, suaminya, dan kini bahkan dia juga harus menyembunyikan identitasnya sebagai seorang istri dan menjadi kekasih orang lain.
Mac duff meraih pundak Evangeline, dan mencoba menyelam ke dalam bola mata hitam gadis itu.
“Eva, mari kita fokus pada Alpha. Dia lebih membutuhkanmu di sini, dan hanya dengan cara seperti ini kau bisa sering kemari dan menemuinya. Apa kau mengerti?” bujuk Mac duff.
Evangeline masih diam dengan semua perkataan dari bos sky night tersebut.
Rupanya, alasan Mac duff tetap diam dan membiarkan Alexa menyeret Evangeline, karena dia merasa bahwa cara ini bisa membawa gadis tersebut untuk datang dan melihat kondisi suaminya.
Beberapa menit mereka hening dalam posisi sama, tiba-tiba Evangeline kembali bersuara.
__ADS_1
“Aku ingin melihat suamiku,” pinta Evangeline.
Mac duff pun melepaskan rengkuhannya dari pundak Evangeline.
“Ikut aku,” sahutnya.
Dia berbalik dan berjalan di depan, mendahului Evangeline.
Gadis itu melihat punggung pria tersebut yang berjalan semakin menjauh.
Maafkan aku, Diaz. Aku yakin kau pasti mengerti keputusanku ini, batin Evangeline.
Meski tak langsung mengiyakan, tetapi rupanya dia setuju dengan ide dari Mac duff untuk berpura-pura menjadi kekasihnya.
Dia pun berjalan menyusul bos sky night tersebut yang telah lebih dulu keluar dari tempat itu.
Rupanya, Mac duff menunggunya di balik pintu, dan kembali berjalan saat melihat Evangeline sudah keluar.
Keduanya kembali ke ruangan steril di mana Ardiaz berada. Sesampainya di depan pintu, Mac duff meminta Evangeline untuk masuk ke dalam.
“Masuklah. Aku akan berjaga di disini,” seru Mac duff.
Evangeline pun masuk ke dalam. Dia melapisi tubuhnya dengan pakaian APD steril untuk menjaga pasien tetap aman tanpa terkontaminasi zat bahaya dari luar.
Gadis itu nampak berhenti di depan pintu ruang isolasi. Dia menarik nafas dalam dan menghembuskannya sekaligus. Hal itu dia lakukan beberapa kali, hingga akhirnya tangannya terangkat dan menarik gagang pintu.
Aroma disinfektan benar-benar terasa menusuk lubang hidungnya, membuat Evangeline sempat mengernyit sesaat.
Kemudian, fokusnya kembali pada sosok pria yang terbaring lemah di atas tempat tidur itu.
langkahnya terasa berat dan sulit untuk sampai di sana. Dadanya kembali sesak, dan membuat bulir bening kembali turun ke pipi.
Dia membekap mulutnya dengan telapak tangan kuat-kuat. Namun, sekuat apapun dia menahan, tangisnya tak bisa ia bendung tatkala melihat kondisi sang suami yang begitu menyedihkan saat ini.
Dia jatuh terduduk di lantai, dengan isak yang sekuat hati ia tahan, meski bahunya berguncang begitu kuat.
Kenapa jadi seperti ini? Kenapa kau harus mengalami ini semua, Diaz? Batin Evangeline meratapi nasib sang suami.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
__ADS_1
terimakasih