A Love To Killer

A Love To Killer
BABAK 2 : Keputusan Jordan


__ADS_3

Setelah mendengar semua penjelasan itu, Jordan merasa marah kepada semua orang, karena tak memberitahukan tentang kondisi sang ayah sejak awal.


Dia sampai berteriak dan menendang meja kayu yang ada di depannya, hingga terguling dan patah pada kakinya.


Joker dan Devonshire tak bereaksi sama sekali atas apa yang dilakukan oleh Jordan. Bagaimana pun, semua sudah terjadi dan tak bisa diulang kembali.


“Kalian semua brengs*k!” maki Jordan.


Dia menghampiri sang kakak, dan langsung mencengkeram kerah jasnya. Namun, Devonshire masih tak bereaksi dan membiarkan sang adik melakukan sesukanya.


“Ini semua salahmu. Kau tetap menjadi penyebab kematian ayah. Kau pembunuh... Pembunuh...,” pekik Jordan.


BUG!


Sebuah pukulan keras mendarat di wajah Devonshire. Jordan yang masih kesal, terus menyerang sang kakak, dan kembali memukul Emperor yang sudah jatuh tersungkur ke lantai.


“Kau pembunuh... Pembunuh... Aku tak akan pernah memaafkanmu... Brengs*k...,” ucap Jordan.


Joker tetap diam dan tak melerai kedua kakak beradik terserah. Begitu pun Devonshire yang sama sekali tak membalas atau menangkis pukulan adiknya, meski sangat mungkin baginya untuk membalik keadaan.


Pria itu terus memukul kakaknya sambil memaki, namun air mata justru turun membasahi wajah penuh emosi Jordan.


Dia pun perlahan melemah, dan akhirnya berhenti memukul Devonshire.

__ADS_1


Mereka berdua terduduk saling berhadapan, dengan sang emperor yang sudah babak belur, sementara adiknya menangis menyesali keputusannya untuk kabur saat itu.


“Kau sangat tau, bahwa Aku tak akan pernah menghindar dari setiap yang kau tuduhkan. Tapi satu hal, semua yang terjadi, adalah atas sepengetahuan dan persetujuan ayah."


"Baik aku maupun papa bear, kami hanya melakukan apa yang ayah perintahkan. Jika kau ingin marah, marah lah. Tapi setelah itu, kembali lah pada kenyataan, bahwa kau adalah putra dari Emperor Lucifer. Jadilah King, dan jika kau bisa, ambillah tahta Emperor dari ku suatu hari nanti,” tutur Devonshire.


Jordan nampak mengepalkan tangan. Meski dia masih marah akan keadaan, akan tetapi dia sudah tak berminat untuk memukul sang kakak lagi.


Dia sadar bahwa apa yang dikatakan Devonshire adalah benar. Tidak semua kesalahan harus dilimpahkan pada pria tersebut.


Akhirnya, setelah kejadian itu, Jordan memilih menenangkan diri di rumah panggung pemukiman nelayan, yang sekarang ditempati oleh Malcolm.


Setelah mengetahui kebenaran dibalik kecelakaan sang ayah, Jordan pun terlihat marah saat bertemu kembali dengan dokter tersebut.


Jika saja saat itu Mac duff dan Damian tak ada di sana, mungkin adik Devonshire itu sudah menghajar Malcolm habis-habisan.


Keduanya berjalan ke arah pantai berbatu, dengan terpaan angin laut yang cukup kuat di malam tersebut.


“Bukan dia yang salah, tapi ayahnya. Kau dan Alpha sama. Tapi lihat Alpha, dia sama sekali tak melimpahkan kesalahan pada Betha.”


“Aku tau kau marah. Tapi saat ini, penjahatnya sudah tertangkap. Bahkan Betha memutuskan untuk membuang dirinya sendiri jauh dari negara ini. Apa itu tidak cukup menyedihkan untuknya?” ucap Mac duff.


Jordan nampak terdiam. Dia mencoba meredam emosi yang sempat memuncak, saat melihat kehadiran Malcolm sebelumnya.

__ADS_1


Namun dari perkataan Mac duff, Jordan menyadari sesuatu hal penting, yang harus segera ia bereskan.


Setelah berpikir dan mempertimbangkan banyak hal, Jordan pun lalu mendatangi Devonshire kembali, dan mengatakan bahwa dia bersedia untuk menggantikan posisi Ardiaz sebagai salah satu King Lucifer.


“Sebagai gantinya, kau harus lepaskan Alpha. Dia tidak bisa selamanya berada di kelompok kita. Biarkan dia kembali ke rumahnya,” pinta Jordan.


Dia tahu, jika dirinya tak mau mengambil alih posisi Ardiaz, bisa saja Devonshire akan terus mengikat adik Aaron tersebut, dengan istrinya sebagai sandra.


Walaupun sang Emperor tak mengatakan hal itu, akan tetapi melihat sifatnya dan cara kerja Lucifer, sudah pasti posisi Ardiaz belum aman sepenuhnya.


Hanya inilah yang bisa dilakukan agar suami Evangeline itu bisa kembali pulang, dan dirinya pun bisa kembali ke tempatnya berasal.


Ditambah lagi, masalahnya di Kota Orchid hampir selesai, tinggal menunggu pengadilan yang akan menghukum Morgan, atas apa yang telah diperbuatnya pada keluarga Danurendra.


FLASHBACK END


.


.


.


.

__ADS_1


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih


__ADS_2