
Beberapa Saat kemudian, Evangeline terlihat menuruni anak tangga dengan sudah berganti pakaian. Rambutnya belum sepenuhnya kering karena tak ia keringkan dengan benar.
Ardiaz yang saat itu sedang memotong-motong sesuatu di atas piring, melihat sang istri mendekat, dan memperhatikan cara berjalannya.
Ada rasa bersalah di dalam hati ketika melihat betapa anehnya Evangeline berjalan. Namun sebagai seorang pria, dia pun merasa bangga pada dirinya.
Dia bangun dan menyambut kedatangan sang istri. Dengan penuh perhatian, dia menaikkan kursi dan mempersilakan Evangeline untuk duduk.
Evangeline menatap wajah Ardiaz yang nampak sedikit berbeda malam ini.
“Kau terlihat begitu senang?” tanya Evangeline.
“Apa jelas sekali?” tanya Ardiaz balik.
“Ehm... Biasanya auramu selalu suram, tapi kali ini benar-benar cerah,” sindir Evangeline.
Ardiaz terkekeh. Dia lalu mengecup puncak kepala sang istri dan memeluknya dari belakang.
“Tentu saja aku senang, bisa berdua bersama istri ku yang menggemaskan ini,” sahut Ardiaz.
Tangan nakalnya mencubit gemas hidung Evangeline, hingga wanita itu mengaduh kesakitan.
Dia pun memukul lengan sang suami dan membuat Ardiaz melepas pelukannya.
Pria tersebut kembali terkekeh dan berjalan ke arah kursi di seberang. Dia melanjutkan memotong steak miliknya menjadi ukuran suapan, dan menukarnya dengan milik Evangeline yang masih utuh.
“Makanlah. Kau pasti lapar kan,” serunya.
__ADS_1
Evangeline tak bisa menyembunyikan senyum malu-malunya, atas perhatian kecil yang didapat dari sang suami.
“Aku tak pernah tau kau punya sisi seperti ini. Ku kira, kau akan selamanya kaku seperti boneka jerami,” ledek Evangeline.
“Kau akan semakin terkejut setelah hari ini, dengan semua sisi ku yang belum pernah kau lihat,” sahut Ardiaz.
Dia menyeringai dengan mengedipkan sebelah matanya, membuat Evangeline memicingkan mata, dan menahan senyumnya.
Mereka berdua pun menikmati makan malam pertama sebagai pasangan.
Setelah selesai, Evangeline bermaksud membereskan bekas makan mereka, namun segera dicegah oleh Ardiaz.
“Kau duduk saja. Biar aku yang urus semuanya. Kau pasti masih merasa kurang enak badan kan?” ucap Ardiaz.
“Tidak apa. Aku hanya belum terbiasa saja,” sahut Evangeline.
Dia pun membawa semua piring dan alat makan yang kotor menuju dapur, meninggalkan Evangeline yang masih terdiam sambil terus menatap punggung suaminya.
Ardiaz terlihat langsung mencuci bekas makan mereka, dan tiba-tiba dia merasakan ada tangan yang melingkar di pinggangnya.
Pria itu sedikit menoleh dan mendapati sang istri tengah bersandar di balik punggungnya.
“Apa kau benar-benar akan selalu ada di sini, bersamaku?” tanya wanita itu tiba-tiba.
Ardiaz seketika menghentikan kegiatannya. Dia pun lalu mematikan kran air dan kemudian mengurai pelukan sang istri.
Pria itu berbalik dan menangkup wajah kecil Evangeline yang terlihat pias tanpa sapuan make up.
__ADS_1
Dengan lembut dan penuh rasa sayang, Ardiaz mengecup bibir pucat itu, kemudian kembali memandangi wajah cantik istrinya.
“Percayalah, semua akan baik-baik saja. Kau tak perlu mencemaskan apapun lagi sekarang. Aku akan selalu ada di sampingmu. Mengerti?” ucap Ardiaz mencoba menenangkan hati Evangeline.
“Tapi, bukankah kau bilang masih ada yang perlu kau urus?” tanya Evangeline.
“Ehm... Hanya tingga satu masalah lagi. Aku hanya perlu bertemu dan membuat perhitungan dengan pembunuh orang tuaku, dan setelah itu aku berjanji akan melepaskan semuanya yang berkaitan dengan kota ini, dan juga Lucifer. Kita akan kembali hidup nyaman seperti dulu. Kau mau menungguku sebentar lagi bukan?” sahut Ardiaz.
Evangeline mengangguk meski ada keraguan dihatinya, dan rasa takut akan kehilangan sosok Ardiaz lagi.
Melihat kecemasan yang jelas terpancar dari sorot mata sang istri, membuat Ardiaz kembali merasa bersalah pada wanita itu.
Dia pun membawa Evangeline ke dalam pelukan, mendekap erat tubuh kecil itu seakan tak ingin lagi melepaskan orang yang berharga untuknya.
Ardiaz memang telah menceritakan semuanya pada Evangeline. Namun, dia masih menyisakan satu kenyataan, tentang siapa dalang di balik pembantaian keluarganya, serta hubungannya dengan penyerangan Aaron atas Hemachandra.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih
__ADS_1