A Love To Killer

A Love To Killer
BABAK 2 : Sebuah kecupan


__ADS_3

Suami istri itu saling tatap tanpa adanya kata yang terucap. Hingga Evangeline merasa kakinya hampir tak bisa lagi menopang tubuhnya dan berusaha untuk duduk.


Namun rupanya, kondisi badan yang masih benar-benar lemas membuat keseimbangan tubuhnya tak bisa dikendalikan, dan akhirnya limbung.


Beruntung reaksi cepat Ardiaz membuatnya bisa menangkap tubuh ringkih Evangeline sebelum benar-benar terjatuh ke lantai. Dia bahkan langsung meraih botol infus yang hampir saja ikut jatuh.


Dengan sigap, dia mendudukkan sang istri, sambil mengangkat tinggi-tinggi infusnya.


“Kau tak apa? Apa masih lemas? Kenapa kau turun dulu?” tanya Ardiaz khawatir.


Sementara Evangeline, gadis itu masih tertunduk, dengan kedua tangan yang memegangi lengan sang suami dengan kuat.


Guncangan kecil terasa di pundak gadis itu, membuat Ardiaz mencoba melihat dengan jelas wajah sang istri.


“Eva, kau...,” ucap Ardiaz terpotong.


“Maaf...,” sela Evangeline.


Dia mengangkat wajahnya dan jelas jika lelehan bening sudah meluncur jatuh di pipinya.


Melihat hal itu, Ardiaz pun menghela nafas panjang sambil mengerjapkan matanya yang terasa panas.


"Apa yang kau lakukan di tempat itu, hem? Kenapa kau malam-malam berada di sana? Ini bukan kebetulan bukan?" cecar Ardiaz.


Evangeline diam. Jemarinya saling bertaut tanpa menjawab sedikitpun. Hal ini semakin menguatkan dugaan Ardiaz akan perbuatan sang istri.


“Kenapa kau begitu bod*h sampai harus menunggu ku di tempat seperti itu seorang diri? Bagaimana jika bukan orangku yang melihatmu, hah?” ucap Ardiaz kesal, namun dengan suara yang terdengar lembut.


Hati evangeline kembali terasa sakit dan dadanya sesak mendengar pertanyaan itu dari suaminya.


Isaknya pun semakin jelas terdengar, membuta Ardiaz kembali terlihat panik dan membawa gadis itu ke dalam dekapannya.


Namun, Evangeline seketika mendorong tubuh Ardiaz agar menjauh darinya.


“Kau bilang aku bod*h? Istri mana yang akan waras ketika melihat suami yang selama ini dianggap sudah mati, ternyata masih hidup, dan berada tepat di depan matanya sendiri?” cecar Evangeline di tengah isaknya.


Ardiaz diam, karena percuma menanggapi Evangeline yang saat ini sedang tidak stabil.


Gadis itu mengusap lelehan dari pipinya, namun sia-sia, karena air mata seolah tak mau berhenti keluar.


“Kenapa? Kenapa kau harus berbuat sampai sejauh ini? Kenapa kau harus berbohong dan mengatakan bahwa kau sudah mati? Dan kenapa sekarang kau bahkan terlibat dengan mafia? Apa sebenarnya yang sudah terjadi padamu, Diaz?”


“Apa tak bisa kau bagi bebanmu padaku, seperti aku membagi bebanku padamu?” Evangeline melontarkan semua pertanyaan yang selama ini hanya tersimpan di benaknya.

__ADS_1


Sementara kini giliran Ardiaz yang terlihat menunduk tanpa menjawab. Mereka pun saling diam.


Setelah beberapa saat, hanya ada suara detik jam dan isak yang keluar dari mulut Evangeline. Keduanya saling diam, tenggelam dalam pikiran masing.


Helaan nafas dalam Ardiaz akhirnya menyudahi keheningan ini. Tangannya meraih kedua tangan Evangeline yang sudah basah karena berkali-kali menyeka wajahnya.


“Maaf...,” ucap gadis itu mendahului Ardiaz.


Sang suami pun menoleh menatap wajah istrinya yang sejak tadi terus menatap ke arah lain dan kini menoleh ke arahnya.


“Aku minta maaf karena sudah salah paham padamu. Maaf karena sudah menamparmu. Maaf...,” ucap Evangeline.


Mendengar semua permintaan maaf yang tak seharusnya itu, membuat Ardiaz cepat-cepat membungkam mulut gadis itu dengan bibirnya.


Sebuah kecupan lembut mendarat di bibir tipis Evangeline, membuat gadis itu terdiam seketika. Matanya sempat membelalak karena gerakan Ardiaz yang tiba-tiba ini.


Namun, dia kemudian menutup matanya, dengan sebulir bening yang menetes di wajah sang suami.


Pria itu lalu menarik dirinya, dan menjauhkan wajahnya dari Evangeline. Dia tak mau memperdalam kecupan dan merubahnya menjadi ciuman.


Dia sendiri masih belum tahu sebenarnya perasaan apa yang dirasakannya terhadap gadis ini. Hanya saja, dorongan dari dalam dirinya lah yang membuatnya berani melakukan hal itu dua kali.


Ardiaz menatap wajah sang istri dengan sendu. Wajah tegas dan dinginnya, begitu kontras dengan sorot mata yang saat ini diperlihatkan olehnya.


Evangeline membuka mata, dan tak lagi berkata apapun. Dia hanya mampu menatap lekat-lekat pria di depannya.


“Apa kau mau percaya padaku?” ucap Ardiaz akhirnya.


Evangeline sempat mengernyitkan keningnya sekilas, dan kemudian mengangguk perlahan.


Ardiaz tersenyum menatap sang istri.


“Ada banyak hal yang terjadi padaku, bahkan sebelum aku masuk ke dalam keluargamu. Aku akan katakan padamu semuanya, tapi tidak sekarang. Aku masih perlu memastikan sesuatu terlebih dulu,” ucap Ardiaz.


“Apa kali ini kau akan menepati ucapanmu?” tanya Evangeline.


“Kau bilang akan percaya padaku, bukan? Apa sekarang kau berubah pikiran? Belum terlambat jika kau ingin membatalkannya,” sahut Ardiaz.


Evangeline menggeleng cepat. Dia mengacungkan jari kelingkingnya ke depan wajah sang suami.


“Kali ini harus begini,” pinta Evangeline.


Ardiaz hanya bisa menghela nafas sambil tersenyum tipis, melihat tingkah manja sang istri.

__ADS_1


Dia pun menautkan kelingkingnya di milik Evangeline, dan menempelkan ibu jari mereka, lalu memutar telapak tangan, kemudian menggeseknya, dan berakhir dengan bersalaman.


“Kali ini kau harus menepati janjimu. Mengerti?” ucap Evangeline.


Ardiaz hanya mengangguk dengan senyum tipis yang terulas di bibirnya. Dia membawa Evangeline ke dalam dekapannya, dan kali ini gadis itu tak melawan.


Dia bahkan balas melingkarkan lengannya di pinggang Ardiaz, dan memeluk pria itu begitu erat, seolah takut jika dia akan pergi lagi dari sisinya.


Setelah cukup lama berpelukan, Ardiaz menggendong Evangeline kembali ke kamarnya, dan menyuapi gadis itu dengan bubur buatan Joy.


Dia pun membantu istrinya meminum obat, lalu memintanya untuk beristirahat lagi.


Saat Ardiaz sedang membetulkan selimut Evangeline, gadis itu tiba-tiba meraih tangan Ardiaz, dan membuat pria itu kembali terdiam menatap sang istri.


“Tinggallah di sini, hem. Jangan pergi lagi. Bisa kan?” pinta Evangeline.


Ardiaz menepuk pelan punggung tangan gadis itu, dan tersenyum lembut.


“Aku akan di sini sampai kau tidur. Aku janji akan menemui lagi nanti. Untuk saat ini, lebih baik kita tidak saling kenal saat berada di luar. Ini demi keamananmu,” sahut Ardiaz.


Seketika, wajah Evangeline berubah sedih mendengar perkataan dari suaminya. Setelah susah payah, akhirnya kini dia bisa lagi mendekap pria yang sudah hampir membuatnya gila.


Tapi, dia justru melarangnya untuk selalu bersama.


Melihat wajah sedih sang istri, Ardiaz pun menunduk dan mengecup kening Evangeline dan menghirupnya dalam-dalam.


Pria itu mengusap lembut surai istrinya dan mencoba membuat gadis itu tenang kembali.


“Bukankah kau akan percaya padaku? Kali ini aku tidak akan menghilang lagi. Kita akan sering bertemu mulai sekarang. Tapi, kau jangan lagi mencariku. Biarkan aku yang datang padamu. Apa kau mengerti?” seru Ardiaz.


Meski hatinya masih bimbang, namun seutas senyum tipis muncul di bibir Evangeline, dengan sebuah anggukan pelan.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih

__ADS_1


__ADS_2