A Love To Killer

A Love To Killer
BABAK 2 : Memikirkan pria lain


__ADS_3

Di apartemen, Evangeline yang sudah kembali, kini terlihat tengah berbaring di tempat tidur. Sementara Ardiaz, pria itu sibuk memasak bubur di dapur untuk makan istrinya.


Evangeline masih memikirkan tentang perkataan Malcolm. Dia seolah merasakan kekecewaan di dalam kata-kata dokter itu atas sikap Ardiaz saat ini.


Dia merasa jika Ardiaz sengaja menjauhi Malcolm, meski dokter itu masih mau membantu mereka.


Ada apa sebenarnya dengan kalian berdua? Tanya Evangeline dalam hati.


Tanpa sadar, Ardiaz kini sudah masuk ke dalam kamarnya, sambil membawa semangkuk bubur panas.


“Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Ardiaz yang melihat istrinya melamun.


“Kalau kukatakan sedang memikirkan pria lain, bagaimana?” tanya Evangeline balik.


“Apa orang itu Malcolm?” tanya Ardiaz.


Pria itu meletakkan mangkuk bubur di atas nakas, dan kemudian duduk di tepi ranjang.


Melihat Evangeline yang tak menyahut, Ardiaz merasa tebakannya benar.


Pria itu pun mendekatkan wajahnya dengan tangan yang terulur, mencoba menyentuh kening sang istri untuk mengecek suhu tubuh wanita itu.


“Apa kau marah?” tanya Evangeline melihat suaminya juga diam.


“Tidak. Untuk apa aku marah dengan pria menyedihkan yang sudah gagal merebut istriku,” sahut Ardiaz.


Dia mengusap lembut surai kemerahan Evangeline, dan mengecup puncak kelas istrinya.


Dia menatap mata wanita itu yang masih nampak merah karena demamnya yang memang belum turun.


“Aku tak peduli pada orang itu. Yang aku peduli adalah perasaan mu padaku. Jika hanya ada aku di hatimu, itu sudah cukup. Aku tak perlu lagi mengkhawatirkan apapun,” ucap Ardiaz.


Dia lalu menjauhkan diri dan mencoba membantu Evangeline untuk duduk. Ardiaz meletakkan bantal di belakang punggung untuk sang istri bersandar.


“Kau makan dulu, aku akan suapi,” ucap Ardiaz.


Dia pun mengambil mangkuk bubur dan mulai menyuapi Evangeline. Perlahan-lahan, bubur itu masuk ke dalam mulut hingga habis tak bersisa.


“Sekarang minum, lalu minum obatmu,” ucap Ardiaz.

__ADS_1


Pria itu begitu telaten mengurus sang istri. Setelah selesai, dia meminta Evangeline untuk duduk beberapa saat hingga makanannya berhasil dicerna.


Sementara itu, dia pergi ke bawah untuk mencuci mangkuk kotor, lalu kembali lagi setelah beberala saat.


Dia melihat Evangeline masih di posisi yang sama dengan kedua mata yang terpejam. Perlahan, Ardiaz mendekat dan naik ke atas ranjang.


“Apa kau mengantuk?” tanya Ardiaz.


Evangeline membuka matanya dan tersenyum ke arah sang suami.


“Apa aku terlihat sangat payah bagimu?” tanya Evangeline tiba-tiba.


“Apa maksudmu, hem? Siapa yang payah?” tanya Ardiaz balik


Pria itu duduk bersandar di samping Evangeline, dan mengarahkan wanita itu untuk bersandar di bahunya.


“Baru sekali melakukannya, tapi aku sudah seperti ini. Kau pasti kecewa kan?” ucap Evangeline.


Ardiaz tersenyum tipis mendengar keluhannya dari sang istri atas dirinya sendiri. Dia pun mengecup puncak kepala Evangeline dengan lembut, membuat perasaan wanita itu begitu nyaman.


“Wajar jika kau seperti ini. Apa lagi ini pertama untuk mu. Pasti tubuhmu yang lemah belum mampu menyesuaikan diri. Aku sama sekali tak kecewa. Aku justru khawatir padamu,” ucap Ardiaz.


“Selanjutnya?” tanya Ardiaz balik.


“Ehm... Selanjutnya. Apa kau tak akan memintanya lagi?” tanya Evangeline.


Ardiaz kembali mengecup puncak kepala sang istri, dan menggenggam tangan lentik berjari mungil istrinya.


“Itu tergantung dirimu. Aku tak akan memaksa jika kau tak ingin. Bagaimana?” jawab Ardiaz.


“Jika begitu, aku terkesan seperti seorang maniak bukan,” keluh Evangeline.


Ardiaz terkekeh mendengar tanggapan dari istrinya.


“Lalu, bagaimana menurut mu? Apa kau punya ide yang lebih baik?” tanya Ardiaz.


“Bagaimana kalau kita bertukar sinyal melalui ciuman?” ujar Evangeline.


Ardiaz menoleh mencoba melihat wajah istrinya. Evangeline merasa sang suami menatapnya, dan membuat wanita itu mendongak.

__ADS_1


“Jadi, ketika salah satu dari kita ingin, cukup berikan ciuman yang dalam dan menuntut. Bukan sekedar kecupan,” ucap Evangeline.


“Ehm... Apa maksudmu begini?” tanya Ardiaz.


Pria itu seketika mendekat dan ******* bibir Evangeline hingga wanita itu terkejut dengan gerakan tiba-tiba dari suaminya.


Ardiaz membuat bibir Evangeline basah oleh liur. Dia bahkan menerobos deretan gigi Evangeline, dan mengajak lidah wanita itu menari di dalam rongga mulut.


Evangeline meremas pundak Ardiaz kuat karena kepayahan mengimbangi permainan dari pria tersebut.


Setelah beberapa saat, Evangeline yang sudah tak kuat, nampak memukuli dada Ardiaz, seraya meminta untuk berhenti.


Ardiaz pun menyudahi aksinya dan memperhatikan sang istri yang susah payah menghirup udara untuk menormalkan pernafasan.


“Apa kau gila? Kau hampir membuatku kehabisan nafas,” gerutu Evangeline.


“Aku hanya memastikan jenis ciuman apa yang kau maksud,” sanggah Ardiaz.


Evangeline pun seketika memicing ke arah pria itu.


“Jangan katakan bahwa kau saat ini sedang berhasr*t,” terka Evangeline.


Ardiaz terkekeh mendengar terkaan dari sang istri. Dia pun turun dan berbaring di sana, sambil menepuk-nepuk tempat di sampingnya.


“Istirahatlah. Makanannya juga pasti sudah dicerna,” seru Ardiaz mengalihkan pembicaraan.


Evangeline pun mengerutkan kening dan menurut untuk berbaring di samping Ardiaz.


Pria itu lalu menarik sang istri masuk ke dalam dekapannya. Dengan lembut, dia mengusap surai kemerahan Evangeline hingga wanita itu tertidur dalam kenyamanan.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya

__ADS_1


terimakasih


__ADS_2