A Love To Killer

A Love To Killer
BABAK 2 : Diam berarti ya


__ADS_3

Petang itu, Evangeline terlihat masih tertidur di atas ranjangnya. Dia nampak bersembunyi di balik selimut tebal, dan begitu lelap.


Dari arah pintu, nampak Ardiaz yang baru saja dari bawah. Dia tersenyum melihat sang istri yang masih terpejam.


Dia dengan perlahan mendekati Evangeline, dan duduk di tepi ranjang. Dengan lembut, pria itu mengusap pelipis sang istri, menyingkirkan anak rambut yang mengganggu.


Sentuhan itu tak pelak mengusik ketenangan  tidur Evangeline, hingga wanita itu menggeliat.


Tangannya terentang, dan bisa terlihat jelas bahwa dia tak mengenakan baju atasan. Baju dan tulang selangkanya nampak terbuka, dan banyak tanda merah di sana.


Evangeline mengerjapkan mata, karena merasa kantuk masih merajai. Akhirnya, dengan susah payah dia bisa membuka mata, dan melihat sang suami yang sudah berada di dekatnya.


Ardiaz tersenyum lembut kepada Evangeline, begitu pun wanita tersebut. Namun, tiba-tiba terbersit sesuatu di benaknya, dan membuat putri Hemachandra itu cepat-cepat menarik selimutnya lagi untuk menutupi seluruh tubuhnya.


Dia bahkan bersembunyi di balik selimut, karena tiba-tiba merasa malu bertemu dengan Ardiaz.


“Kau kenapa?” tanya Ardiaz.


Evangeline menggeleng cepat dari balik selimut.


“Lalu, kenapa sembunyi?” tanya Ardiaz.


Lagi-lagi, Evangeline tak menjawab dan hanya menggeleng cepat dari balik selimutnya.


“Apa kau yakin?” tanya Ardiaz.


Evangeline mengangguk cepat.


Kemudian, Ardiaz teringat apa yang terjadi antara mereka berdua siang itu, dan membuat pipinya merona saat memikirkan hal tersebut.


“Apa kau malu?” tanya Ardiaz kemudian.


Evangeline pun mengangguk cepat mengiyakan. Sebuah senyum gemas muncul di wajah Ardiaz saat mengetahui bahwa istrinya sedang merasa malu, akan apa yang sudah mereka lalui beberapa waktu yang lalu.


“Baiklah. Kalau begitu aku akan keluar. Kau bisa bangun sendiri dan pergi ke kamar mandi?” tanya Ardiaz.

__ADS_1


Evangeline pun segera mengangguk cepat.


Mendapat jawab dari istrinya, Ardiaz pun lalu meraih puncak kepala Evangeline, dan lalu mengecup singkat kening wanita itu.


“Cepatlah bangun. Aku sudah menyiapkan makan malam. Kita melewatkan itu tadi siang,” seru Ardiaz.


Evangeline pun kembali mengangguk.


Ardiaz bangun dan meninggalkan Evangeline di sana.


Setelah mendengar suara pintu tertutup, Evangeline perlahan membuka selimutnya, dan mengintip dari sana.


Dia pun seketika menarik nafas lega, karena akhirnya sang suami pergi. Evangeline memejamkan matanya sambil menelan saliva yang sejak tadi seolah sulit untuk ia telan.


Wanita itu lalu mencoba menyingkap selimut dan melihat ke dalam. Tak ada sehelai benang pun yang menempel di tubuhnya kala itu.


Karena masih tak percaya, dia pun cepat-cepat kembali menutupnya, dan menepuk-nepuk kening saat mengingat apa yang sudah terjadi.


“Ah... Eva. Sekarang bagaimana? Bagaimana aku bisa berhadapan dengan pria itu lagi setelah semua ini?” rutuk Evangeline pada dirinya sendiri.


Wanita itu merasa bersalah kepada sang suami, karena selama ini telah salah menduga sifatnya.


Melihat sang istri menangis, Ardiaz justru berkata bahwa dia tak akan menceritakannya jika tahu Evangeline akan menangis seperti itu.


Namun, jawaban Evangeline justru membuat hati Ardiaz menghangat. Dan dengan lembut, pria itu mendaratkan sebuah kecupan di bibir Evangeline.


Gadis itu masih sesenggukan namun tak menolak apa yang dilakukan Ardiaz padanya. Saat pria tersebut memagut bibir sang istri, Evangeline pun membalasnya dengan membuka mulut.


Lidah saling berbelit di dalam sana, mengabsen deretan gigi yang tersusun rapi. Hembusan nafas menerpa wajah masing-masing, membuat intensitas ciuman mereka meningkat.


Evangeline melingkarkan lengannya di leher sang suami, dengan jemarinya meremat rambut belakang pria itu.


Sementara Ardiaz, dia terus memandu sang istri untuk membalas setiap gerakan yang ia ciptakan di area bibirnya.


Satu tangannya menahan tengkuk Evangeline, agar gadis itu tetap di posisi, sementara tangan lainnya merambat ke bawah, mengusap punggung gadis itu, menyalurkan geleyar-geleyar aneh pada diri Evangeline.

__ADS_1


Erangan lirih Evangeline di sela pagutannya membuat Ardiaz menggila. Dia turun menyusuri leher jenjang Evangeline, memberikan sebuah kecupan yang meninggalkan jejak merah di sana.


Evangeline semakin meremat rambut belakang Ardiaz, setiap kali pria itu membuat jejak-jejak kepemilikannya di atas kulit sang istri.


Dia semakin turun hingga tiba di ceruk tulang selangka. Ardiaz mendongak melihat wajah sang istri yang nampak memerah.


Matanya terlihat sayu, akibat semua sentuhan dan perlakuan Ardiaz padanya. Dengan lembut, dia mengecup tulang yang menonjol itu, dan membuat Evangeline merasakan sesuatu perasaan yang aneh.


Dia lalu kembali ke atas, menghadap ke depan wajah istrinya. Dengan ibu jari, dia menyeka basah di bibir bawah sang istri, membuat Evangeline menutup mata.


“Kau bilang aku suamimu kan?” tanya Ardiaz.


Sambil menatap sang istri. Evangeline masih kehilangan kata-kata dan hanya bisa menatap lekat wajah sang suami sembari mengangguk.


Ardiaz mengulurkan tangannya dan menyentuh lembut pipi Evangeline. Gadis itu kembali meremang, dan menutup mata seakan tengah meresapi hangatnya sentuhan sang suami.


“Bolehkan aku mendapatkan peran itu sekarang?” tanya Ardiaz.


Evangeline membuka mata, menatap ke dalam bola mata Ardiaz. Melihat sang istri hanya diam, pria itu kembali mendekatkan wajahnya, dan mengecup lembut bibir mungil sang istri.


Gadis itu lagi-lagi tak menolak, membuat Ardiaz merasa bahwa diamnya adalah jawaban ya.


Tangannya menelusup ke tengkuk Evangeline dan menekannya, seraya kembali ******* bibir ranum itu.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih

__ADS_1


__ADS_2