A Love To Killer

A Love To Killer
BABAK 2 : Karena kau suamiku


__ADS_3

Mac duff membawa ardiaz kembali ke kamar rawatnya. King palsu itu nampak mencoba berjalan dengan normal, sambil menahan sakitnya untuk mengelabui penjaga. Sesampainya di kamar, dia segera berganti pakaian membaringkan tubuhnya di tempat tidur.


Nampak darah kembali merembes disertai cairan dari luka yang dideritanya.


Mac duff kemudian memanggil seorang perawat untuk melihat luka Ardiaz sekaligus mengobatinya.


Sementara itu, Evangeline yang tak bisa naik ke atas karena diperingati oleh Mac duff, hanya bisa menunggu dengan cemas di dalam mobil bos sky night itu.


“Eva, tenanglah. Suamimu pasti akan baik-baik saja,” bujuk Joy.


Dia melihat sahabatnya itu terus menggigiti kuku jarinya. Evangeline benar-benar khawatir dengan kondisi Ardiaz.


Dia melihat luka di perutnya kembali mengeluarkan cairan yang merembes hingga mengenai bajunya.


“Ini salahku. Bagaimana ini?” gumam Evangeline.


Dia berkali-kali ingin pergi ke luar, namun selalu dicegah oleh Joy. Gadis berambut pendek itu tak mau jika sahabatnya sampai tertangkap oleh orang-orang Lucifer, dan hal itu pasti akan mendatangkan Kekacauan nantinya.


Saat ini, Ardiaz baru saja bangun dari koma dan masih harus memulihkan diri. Mereka harus fokus pada kesembuhan sang King palsu itu.


Setelah cukup lama mereka menunggu, Mac duff akhirnya menghubungi Evangeline. Gadis itu secepat kilat menerima panggilan tersebut.


“Halo, bagaimana Diaz? Apa dia tak apa?” tanya Evangeline langsung.

__ADS_1


“Eva, ini aku. Aku sudah tak apa,” sahut suara di seberang yang ternyata adalah Ardiaz.


Mendengar suara sang suami, membuat Evangeline bisa sedikit bernafas lega. Bahunya seketika turun dan punggungnya pun bersandar di kursi.


“Syukurlah. Maafkan aku. Ini semua salahku. Lukamu kembali terbuka karena aku,” ucap Evangeline menyalahkan diri.


“Tidak. Ini bukan salahmu. Lagipula, hanya masalah kecil. Kau tidak perlu khawatir, hem. Sekarang, kau pulanglah. Ini sudah sangat larut,” seru Ardiaz.


“Tapi...,” sanggah Evangeline.


“Eva, saat ini kita belum bisa bertemu. Aku dan Delta akan cari cara agar kita bisa bertemu lagi. Sekarang, kau pulang dan istirahatlah,” sela Ardiaz.


Evangeline terdiam. Dalam hati dia sangat ingin menjawab, tapi sepertinya yang terbaik saat ini memang dia kembali ke apartemen.


“Eva,” panggil Ardiaz.


“Hem... Baiklah. Aku janji...,” sahut Ardiaz.


“Tidak. Aku tidak mau janji, aku ingin kau membuktikannya. Aku tidak mau termakan janjimu lagi, Diaz,” sela Evangeline.


Terdengar helaan nafas panjang dari seberang panggilan. Sepertinya Ardiaz merasa bersalah dengan kejadian terakhir kali, yang membuatnya harus membiarkan Evangeline dalam kesulitan seorang diri.


“Baiklah. Kita akan segera bertemu. Aku pastikan itu,” jawab Ardiaz.

__ADS_1


Mendengar perkataan Ardiaz, Evangeline tersenyum tipis dengan sudut mata yang turun dan sedikit berkaca-kaca.


“Oke, kalau sampai kau bohong lagi, aku akan datang dan menerobos pengawal kalian. Aku tak peduli lagi dengan kelompok mafia itu. Kau ingat,” ancam Evangeline.


Ardiaz terkekeh kecil mendengar ancaman dari gadis manja dan cengeng seperti Evangeline.


“Kenapa tertawa? Kau tak percaya aku bisa melakukan semua itu, hah?” keluh Evangeline.


“Aku percaya. Aku sangat percaya. Aku hanya masih belum menyangka, jika gadis cengeng dan manja seperti mu bisa senekad itu demi bertemu denganku. Bukankah kita selalu bertengkar setiap kali bertemu,” sindir Ardiaz.


“Itu karena kau adalah suamiku. Apa kau masih belum paham juga?” sahut Evangeline cepat dan bersungut-sungut.


Seketika, Ardiaz terdiam. Kakehannya terhenti saat gadis itu dengan sadar mengakuinya sebagai suami, dan menjadikan hal itu untuk terus berjuang menemukannya.


Ada rasa hangat yang muncul di dadanya. Seketika, sebuah lengkung menghiasi bibirnya. Senyum tulus dan lembut yang dilihat Mac duff juga Jordan untuk pertama kali dari seorang Ardiaz.


.


.


.


.

__ADS_1


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih


__ADS_2