A Love To Killer

A Love To Killer
BABAK 2 : Suara tembakan


__ADS_3

Beberapa saat yang lalu di tempat Joker, King bertubuh besar dan pasukannya mendapatkan tugas dari Ardiaz, untuk memeriksa tempat pembongkaran kontainer.


Mereka nampak berjaga di sekitar boks besar yang sudah diberi tanda oleh Ardiaz sebelumnya.


Namun, tiba-tiba sebuah ledakan mengagetkan semua orang. Tak sampai disitu, setelah bunyi ledakan yang sangat keras, pintu-pintu kontainer saling berdebat, dan terbuka dari dalam.


Begitu banyak pasukan musuh yang bersembunyi di sana, dan mereka semua muncul seketika secara bersamaan setelah ledakan terjadi, seolah hal itu merupakan suatu tanda untuk kelompok mereka.


Tak pelak, pertempuran pun terjadi antara pasukan lawan dan Joker. Adu senjata dimulai. letupan pistol terdengar di mana-mana, memekakkan telinga siapapun yang berada di radius itu.


Sementara di bagian depan pelabuhan, Alexa yang diperintahkan oleh Ardiaz untuk mengepung bagian luar, terkejut dengan suara dentuman keras dari arah dalam.


Dia pun bergegas membawa sebagian pasukannya dan juga milik Ardiaz untuk membantu.


Mereka lebih dulu sampai di tempat pembongkaran kontainer seperti yang diarahkan oleh King palsu itu.


Wanita itu melihat bahwa pertempuran sudah berlangsung dan sudah banyak yang terkapar di tanah.


Melihat kedatangan Alexa dan pasukannya, membuat Joker terlihat percaya diri dan terus menyerang semua lawannya.


Alexa dengan sigap segera meraih pistol dari balik jaketnya dan mulai menumbangkan satu persatu musuh yang menyerang.


Dengan cekatan, dia sangat cepat mengisi ulang proyektil ke dalam senjata dan kembali bertempur bersama.


"Apa ada kabar dari Alpha?" tanya Joker.


"Tidak ada. Terakhir kali dia memerintahkan ku untuk mengepung jalan keluar dan membantumu," sahut Alexa.


Keduanya kini terlihat saling melindungi punggung masing-masing, dari serangan musuh.


"Sebaiknya kau lihat kondisinya di sana. Aku khawatir dengan ledakan tadi. Itu seperti tanda bagi mereka memulai penyerangan," seru Joker.


"Baiklah. Kutinggalkan separuh pasukan ku di sini," sahut Alexa.


"Berhati-hatilah," titah Joker.


Alexa pun memberikan tanda anak buahnya untuk pergi mengikutinya ke dermaga, di mana Ardiaz berada.


...❄❄❄❄❄...


Sementara itu di depan dermaga, Ardiaz terlihat sedang bertarung melawan musuh yang jumlahnya jauh lebih banyak darinya.


Dia tak bisa menghubungi siapapun, karena alat komunikasi rusak, saat seseorang berhasil memukul punggungnya.

__ADS_1


Ardiaz bahkan sudah tak memiliki peluru untuk mengisi senjatanya, hingga dia pun harus bertarung dengan tangan dan senjata seadanya.


Meski musuh tidak terlalu tangguh, akan tetapi karena jumlah yang tak seimbang, membuat Ardiaz kepayahan.


Walaupun demikian, pria itu sama sekali tak terlihat menyerah, meskipun tubuhnya sudah penuh dengan luka.


Lebam sudah memenuhi wajahnya, bahkan pelipisnya mengeluarkan darah akibat hantaman benda keras yang dilayangkan oleh musuh.


Lengan dan bagian tubuh lainnya berkali-kali mendapatkan sayatan dari senjata tajam musuh yang berhasil melukainya, membuat suami Evangeline bermandi darahnya sendiri.


Akibat kehilangan cukup banyak darah dan kelelahan, pandangannya mulai kabur. Namun, insting bertarungnya tak mau kalah dengan kondisi tubuhnya saat ini.


Dia terus mencoba mendorong tubuhnya untuk tetap bertahan, disaat pasukan Martin yang bersamanya sudah hampir tumbang seluruhnya.


Ditengah keputus-asaan, terdengar sebuah letupan senjata api, yang sontak membuat Ardiaz menoleh ke arah sumber suara.


Saat melihat siapa yang datang, Ardiaz nampak menghela nafas lega.


Baru kali ini Ardiaz merasa bersyukur melihat kedatang King wanita satu-satunya di dalam Lucifer. Dia bahkan kembali bersemangat dan mencoba bertahan dengan sisa tenaganya.


Sementara Alexa yang melihat kondisi Ardiaz, langsung memerintahkan pasukannya untuk maju. Dia mengambil kembali senapan yang masih tersimpan di pinggangnya dan mulai menyerang orang-orang di sana.


Melihat kedatangan Alexa, Ardiaz bahkan tersenyum sekilas kepada wanita itu. Dia kemudian kembali fokus pada lawan yang ada di depannya.


“Di mana Delta dan juga Martin?” tanya Joker di sela pertempurannya.


Suara tembakan terus beradu memekakkan telinga semua orang, seolah menjadi musik malam ini di area tersebut.


“Aku tak melihat mereka berdua di sini,” sahut Alexa.


Meskipun Ardiaz tak memakai alat komunikasi, akan tetapi dia tahu siapa yang Alexa maksud.


“Mereka terjun ke air saat ledakan terjadi. Entah hidup atau mati, aku belum tau,” jawab Ardiaz yang saat itu memang berada di dekat Alexa.


AAAARRRRGGGHH!


Sebuah erangan terdengar dari Ardiaz, saat sebuah pedang kembali menyayat paha kanannya.


“ALPHA!” pekik Alexa.


Wanita itu pun langsung mengarahkan pistol ke orang yang menyerang Ardiaz dan menembak matinya.


King palsu itu terduduk setelah mendapat serangan tadi. Alexa mendekat dengan terus waspada pada sekitar. Tangannya terus membidik sasaran dan tak segan untuk menarik pelatuknya.

__ADS_1


“Kau tak apa?” tanyanya khawatir.


“Ini hanya luka kecil. Aku bisa menahannya. Apa Joker akan mengirim bantuan?” tanya Ardiaz.


“Dia berkata akan segera menyusul kemari setelah menyelesaikan yang di sana. Apa kau masih kuat,” sahut Alexa.


“Ssshhh... hem. Semoga kita bisa bertahan sampai saat itu tiba,” ucap Ardiaz disela desisnya menahan sakit.


Suasana benar-benar mencekam. Harapan seolah tak ada untuk mereka bertahan hidup di situasi ini.


Ardias merobek bajunya untuk membebat luka sayatan di kakinya yang cukup dalam.


Dia sudah kehilangan banyak darah, akan tetapi masih berusaha untuk tetap bertahan di tengah gempuran musuh yang seolah tak ada habisnya.


Dia pun kembali berdiri dan dengan berbekal kepalan tangan dan balik kayu panjang di tangannya, dia kembali ke dalam pertempuran.


Nafasnya sudah sangat pendek karena suplai oksigen semakin berkurang, seiring hilangnya darah dari tubuh.


Pandangannya bahkan sudah semakin kabur, akan tetapi dia terus bergerak ke kanan dan kiri hingga titik terakhir kesadarannya.


Di saat-saat kritis, suara Alexa membuat Ardiaz kembali mencoba tetap tersadar.


“Bantuan datang. Kita bisa selamat,” pekiknya pada Ardiaz.


Sebuah senyum tipis pun muncul di wajah pucat pria itu. Raut wajah Alexa yang sempat begitu lega melihat bala bantuan berdatangan, seketika berubah panik saat melihat Ardiaz yang seperti sudah mencapai batasnya.


“Alpha, kau...,” panggil Alexa.


“AWAS!” pekik Ardiaz kepada wanita itu.


Alexa melengahkan kewaspadaannya, karena khawatir dengan kondisi Ardiaz. Dia sampai tak sadar bahwa ada pasukan musuh yang mengarahkan senjata kepadanya.


Saat Alexa menoleh, semua sudah terlambat. Pelatuk telah ditarik dan Ardiaz melompat tepat di depannya, menjadikan tubuhnya sebagai tameng untuk melindungi satu-satunya King wanita di Lucifer.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya

__ADS_1


terimakasih


__ADS_2