
Keesokan harinya, dia kembali mencari Joy di kampusnya, dan meminta gadis berambut pendek itu berganti peran lagi dengannya.
Keduanya pun memutuskan untuk kembali bertemu di sebuah toko pakaian berbeda dan bertukar posisi di sana.
“Aku akan kembali di jam yang sama,” ucap Evangeline.
“Aku tahu. Berhati-hatilah,” sahut Joy.
“Kau juga,” timpal Evangeline.
Joy pun mengangguk. Keduanya kembali berpisah dan mulai mengecoh anak buah ayah Evangeline.
Istri Ardiaz itu seperti biasa akan menemui Mac duff di sky night dan ke rumah sakit bersama dengan pria itu.
Sesampainya di sana, gadis tersebut mulai menyamar menjadi perawat dan menemui Ardiaz di dalam ruang rawatnya.
“Syukurlah, lukamu semakin membaik. Kapan kau berencana akan keluar dari sini?” tanya Evangeline.
“Apa ini pertanyaan yang ingin kau ajukan?” tanya Ardiaz balik.
Evangeline seketika menoleh dan memicing ke arah suaminya.
“Apa aku sama sekali tak boleh mengajukan pertanyaan basa basi seperti ini? Keterlaluan,” keluh Evangeline.
“Ah... Jadi ini pertanyaan basa basi. Jadi, kalau begitu aku bisa menjawab dengan asal,” jawab Ardiaz.
“Tidak perlu. Aku sudah tidak butuh,” sahut Evangeline ketus.
Ardiaz kembali terkekeh melihat wajah kesal sang istri. Bukannya meminta maaf, Ardiaz justru kembali mencubit hidung mancung Evangeline dan membuat gadis itu memukul lengan Ardiaz sedikit keras.
Namun bukannya merasa sakit, Ardiaz justru semakin terkekeh. Sementara Evangeline masih terlihat memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
Tiba-tiba, dia berpikir sesuatu dan menatap tajam ke arah Ardiaz.
“Baiklah. Aku akan tanya satu pertanyaan dan kau harus jawab dengan tuntas,” ucapnya.
Ardiaz diam, dan bersiap mendengar pertanyaan dari Evangeline, dengan sisa kekehan yang masih keluar dari mulutnya.
“Apa yang terjadi setelah kau tiba di kota ini hingga kau jadi seperti sekarang?” tanya Evangeline langsung.
“Hei, Nona. Aku keberatan. Bukankah ini pertanyaan jebakan,” keluh Ardiaz.
“Bukankah kau sendiri yang mengatakan bahwa aku hanya bisa mengajukan satu pertanyaan, dan kau akan menjawabnya dengan jujur? Ini bahkan satu pertanyaan, tidak lebih,” sanggah Evangeline.
“Tapi ini seperti pertanyaan dengan jawaban esai. Terlalu panjang,” timpal Ardiaz.
“Aku tak mau tahu. Kau harus jelaskan sekarang juga,” seru Evangeline.
Melihat kekeraskepalaan Evangeline yang sangat dia kenal, membuat Ardiaz diam dan memilih untuk tak berdebat.
Itulah sebabnya, setiap kali sikap keras kepala gadis itu muncul, Ardiaz selalu pergi begitu saja tanpa mendengarkan rengekan Evangeline.
“Baiklah... Baiklah... Seperti yang kau sudah tahu, aku bergabung dengan kelompok mafia besar Kota Orchid. Cukup bukan,” jawab Ardiaz.
“Apa kau paham yang ku tanyakan? Aku mau tahu semuanya. Apa yang sebenarnya terjadi padamu selama di kota ini,” tepis Evangeline.
Gadis itu tak Terima dengan jawaban sang suami yang terdengar enggan mengatakan kebenarannya.
Evangeline kecewa karena sepertinya Ardiaz tak mau menepati ucapannya, yang mengatakan bahwa dia akan menjelaskan semuanya.
“Jadi seperti ini pria yang ku nikahi? Kata-katanya tak bisa dipegang sama sekali,” ucap Evangeline dingin.
“Apa kau sedang merengek? Ayolah. Bukankah kita sudah berjanji akan membahas ini pelan-pelan,” bujuk Ardiaz.
__ADS_1
Evangeline terdiam. Namun, tangannya tiba-tiba terangkat dan mengusap bagian di bawah matanya.
Hal itu membuat Ardiaz mendekat dan meraih wajah sang istri. Pria tersebut menangkup kedua pipi Evangeline dan mengarahkan pandangannya kepada sang suami.
Lelehan bening kembali meluncur dari pelupuk mata gadis itu, yang membuat dada Ardiaz terasa nyeri.
“Aku hanya ingin tahu bagaimana kau hidup selama ini di sini. Aku hanya ingin tahu bagaimana hari-harimu. Apa ini berat? Apa ini menyakitkan? Apa kau ingin kembali? Semuanya. Apa aku tak berhak tahu,” ucap Evangeline ditengah linangan air mata.
Ardiaz menghela nafas panjang untuk mengurai dadanya yang terasa sesak melihat sang istri kembali menangis.
Namun, baru saja dia hendak membuka suara, tiba-tiba dering ponsel mengalihkan fokus keduanya.
Evangeline menoleh ke samping di mana stroller berada. Dering itu berasal dari ponselnya.
Dia pun melihat nama Mac duff di sana dan membuat gadis itu segera menerima panggilan tersebut.
“Halo, ada apa?” jawabnya terisak.
Tangannya sibuk menyeka lelehan di wajahnya.
“Cepat pergi dari sana. Seseorang sedang menuju kemari,” seru Mac duff.
Evangeline seketika menegang. Dia mematung karena gugup. Tiba-tiba logikanya tak berjalan sama sekali.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
__ADS_1
terimakasih