A Love To Killer

A Love To Killer
BABAK 2 : Aku bukan janda


__ADS_3

FLASHBACK ON


Evangeline tak menyangka jika Malcolm akan melangkah lebih jauh lagi, mengenai hubungan mereka yang bahkan Evangeline sudah mencoba mengindari sejak awal.


Gadis itu pun telah mengatakan dengan tegas, bahwa mereka hanya bisa sebatas teman.


Sebelum kepergiannya ke Kota Orchid, Evangeline bahkan telah mengkonfirmasinya langsung kepada dokter muda itu.


Namun sepertinya, Malcolm masih belum mau menyerah, terlebih karena sang dokter pun belum mengetahui bahwa Ardiaz benar-benar masih hidup, dan kini suami istri itu telah bertemu kembali.


Malcolm bahkan sampai memperkenalkan ayahnya dengan Evangeline, bahkan tanpa berbicara terlebih dahulu dengan gadis itu, mereka membahas mengenai hubungan mereka ke depan.


Evangeline jelas mendengar dengan kedua telinga, bahwa Malcolm telah meminta ijin kepada Hemachandra untuk menikahi putrinya. Benar-benar tak habis pikir.


Malcolm bahkan kini membuat Evangeline tak bisa berkata-kata. Sepanjang makan malam, gadis itu terus diam. Dia sama sekali tak menikmati hidangan yang begitu lezat, yang tersaji dan sengaja dipesan sesuai kesukaannya.


Ditambah, Morgan Andara, ayah Malcolm seolah tak menentang sama sekali dan justru mengatakan, bahwa dia akan merestui keduanya, dan menginginkan pernikahan segera disegerakan.


Setelah makan malam tak terduga itu, sepanjang perjalanan pulang, Evangeline terus diam. Dia sudah tak mau lagi berdebat dengan Malcolm.


Gadis itu benar-benar marah karena sikap sang dokter yang begitu kurang ajar, tanpa meminta persetujuannya, memutuskan sesuatu hal yang begitu penting ini.


Malcolm nampak kecewa dengan sikap Evangeline yang terus menolaknya. Namun, dia juga tak mau memaksa gadis itu dan mencoba meredakan emosinya.


Dia meminta Evangeline agar tak lantas menjauhinya, dan tetap menjalin pertemanan dengannya.


Namun sepertinya akan sulit untuk Evangeline. Terlebih hal ini sudah melibatkan orang tua kedua belah pihak.


Satu-satunya penolak terakhir yang bisa dia lakukan yaitu memberontak.


Sesampainya di apartemen, Evangeline langsung menelpon ayahnya yang berada di Kota Wisteria.


Dia tahu saat itu sudah larut, dan ayahnya bisa saja sudah pergi tidur. Tapi kekesalannya membuat gadis tersebut tak peduli dan langsung menekan nomor kontak Hemachandra.

__ADS_1


“Halo, Nak. Ada apa menelpon malam-malam?” sapa Hemachandra langsung pada deringan pertama.


Evangeline nampak tersenyum sinis, tak menyangka jika ayahnya seolah sudah menunggu telepon darinya.


Dia mengusap kening, dan menyingkirkan poni yang menutupi di sana.


Gadis itu menghirup nafas dalam-dalan dan menghembuskannya sekaligus, demi meredam emosinya agar tak sampai berkata kasar pada sang ayah.


“Sepertinya ayah sedang menunggu ku menghubungimu?” terka Evangeline.


“Hahahaha... Apa se terlihat itu?” tanya Hemachandra balik.


Senyum Evangeline menghilang seketika. Tatapannya benar-benar dingin dengan wajah datar yang begitu suram.


“Kenapa ayah lakukan ini padaku? Apa tak cukup yang ayah lakukan dulu padaku dan Ardiaz?” cecar Evangeline.


Mendengar perkataan sang putri, Hemachandra seolah tahu kemana arah pembicaraan ini nantinya.


“Biarkan Ardiaz tenang di sana, Eva. Ayah yakin dia sudah lebih bahagia sekarang. Kau juga harus melanjutkan hidupmu,” ucap Hemachandra.


Evangeline nampak memejamkan matanya sambil berkacak pinggang, dan sesekali mengusap wajahnya kasar.


Matanya kembali berkaca-kaca setiap kali semua orang mengatakan bahwa Ardiaz sudah mati.


Rasanya Evangeline ingin sekali berteriak di depan semua orang, bahwa suaminya masih hidup.


Tapi dia sadar kalau hal itu tak bisa dilakukan. Dia tak ingin semua orang ikut terlibat dengan kekacauan ini, sehingga mau tak mau Evangeline pun melakukan hal sama, seperti yang sudah dilakukan oleh Ardiaz selama ini.


Karena tak mendengar jawaban dari seberang, Hemachandra pun memanggil-manggil nama putrinya.


“Eva, kau masih di sana, Nak?” tanya Hemachandra.


“Ayah, tolong kali ini biarkan aku putuskan sendiri tentang hidupku. Jangan lagi ayah putuskan masa depanku seperti pertunangan ku dengan Ardiaz dulu. Aku mohon,” pinta Evangeline.

__ADS_1


“Tapi, Eva...,” sanggah Hemachandra.


“Ayah, aku bukan lagi Evangeline, gadis manja yang selalu mengandalkan ayah. Aku bisa nekad dan pergi semakin jauh lagi darimu. Aku bahkan bisa pergi ke tempat yang paling tersembunyi, jika ayah masih ingin memaksa untuk mengatur hidupku,” ancam Evangeline.


“Eva, tapi kau juga berhak bahagia? Apa kurangnya Malcolm? Dia pria baik, mapan dan juga sangat mencintaimu. Dia mau menerimamu yang seorang janda,” timpal Hemachandra.


“Aku bukan janda, Ayah. Aku masih istri suamiku. Aku masih istri Ardiaz, dan sampai kapanpun akan seperti itu. Aku hanya ingin mengatakan itu semua kepada ayah. Ku mohon ayah, jangan paksa aku pergi lebih jauh lagi. Selamat malam,” pungkas Evangeline.


“Eva...,” panggil Hemachandra, namun panggilan langsung dimatikan oleh sang putri.


Gadis itu kemudian membanting ponselnya ke atas sofa, sementara dirinya terduduk di lantai dengan punggung yang bersandar di dinding.


Dia menyeka rambut yang menutupi wajahnya, sembari terus bersembunyi di antara kedua lutut dan dadanya.


Kenapa ayah melakukan ini lagi padaku? Andai ayah tau bahwa suamiku masih hidup, dan sedang berjuang. Istri macam apa yang menikah lagi saat suaminya berada di antara hidup dan mati, batin Evangeline.


Air matanya kembali  mengalir di pipi gadis itu. Dia tak bisa memikirkan cara lain selain kabur dari ayahnya, jika perjodohannya dengan Malcolm tak segera dibatalkan.


Tak ada cara lain bagi Evangeline, selain pemberontakan semacam itu. Hal ini lah yang mendasari perkataan Evangeline, bahwa dia akan pergi dan esoknya adalah hari terakhir dia mengunjungi Ardiaz, karena dia harus bersiap menghilang saat orang-orang ayahnya tiba-tiba datang dan memenjarakannya.


FLASHBACK OFF


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih

__ADS_1


__ADS_2