
Beberapa hari berlalu sejak kejadian itu. Evangeline masih berusaha bersikap tenang di depan Joy dan melanjutkan aktifitasnya seperti sebelumnya.
Dia harus menyelesaikan tugasnya di Merciful, meski tujuan awal dia pergi ke perusahaan tersebut adalah untuk mencari tau keberadaan Ardiaz.
Namun setelah kedatangan sang suami yang tiba-tiba tempo hari, membuat Evangeline enggan dan bahkan tak mau peduli lagi dengan hal yang berkaitan dengan pria tersebut.
Perkataan Ardiaz yang melarangnya untuk dekat dengan pria lain, membuatnya semakin kesal. Evangeline menganggap sikap Ardiaz benar-benar egois.
Dia pergi dengan Malcolm hanya karena mengetahui dokter itu baru saja tiba di ibu kota memberitahukan perihal pemindahan tugasnya ke rumah sakit pusat Kota Orchid.
Namun, Ardiaz justru berpikir berlebihan dan langsung datang dan marah, sementara perbuatannya dengan Alexa lebih menyakitkan menurut Evangeline.
Kini, gadis itu tak ingin mencari tahu apapun keterkaitan antara perusahaan tersebut dengan sang suami.
Dia hanya memfokuskan diri pada tugas dan pekerjaannya sebagai mahasiswa magang di sana.
Evangeline masih memerankan seorang mahasiswa magang yang culun seperti sebelumnya.
Meskipun demikian, kepintarannya di bidang marketing membuat karyawan lain yang awalnya meremehkan gadis itu, kini terlihat lebih menghargainya, terlebih setelah Evangeline menunjukkan kinerjanya dalam bidang tersebut.
Akan tetapi, persaingan antar rekan kerja tetap ada. Karena kemampuannya, Evangeline sering dimintai tolong atau lebih tepatnya dimanfaatkan untuk mengerjakan tugas karyawan lain.
Jika saja dia menjadi dirinya sendiri, sudah pasti dia akan menolak dengan gaya savage-nya. Namun, saat ini dia harus tetap menjadi seorang gadis bod*h di depan semua orang, sampai masa magangnya selesai.
Dia tak ingin sampai orang-orang Lucifer menyadari keberadaannya di sana. Bukan tanpa alasan dia berpikir demikian, hal ini dikarenakan sudah beberapa kali dia terus berurusan dengan orang-orang mereka diantaranya Mac duff dan bahkan Ardiaz, suaminya sendiri.
Entah siapa lagi yang sudah pernah mengenalinya, karena orang-orang Lucifer benar-benar bersembunyi di tengah masyarakat umum kota ini, dan tak ada yang menyadari kecuali jika melihat tanda di tubuh mereka.
Meskipun dia sudah tak tertarik dengan Ardiaz, akan tetapi Joy dan Samuel berharap gadis itu bisa mendapatkan informasi yang berkaitan dengan ketua mereka, Damian.
Ketua klub Criminal Hunter itu benar-benar menghilang tanpa kabar. Informasi terakhir yang mereka dapat adalah dari Evangeline yang melihat hacker muda tersebut terlihat berada di gedung Merciful.
Beberapa hari ini, Evangeline mencoba berkeliling gedung, sembari mengerjakan tugasnya yang begitu banyak.
Akan tetapi tugas-tugas ini justru yang membuatnya bisa bergerak bebas ke sana kemari tanpa dicurigai sedikitpun.
Hampir semua divisi telah ia periksa dalam waktu kurang dari dua minggu. Tinggal divisi keamanan dan personalia yang belum dia periksa dengan detail.
Malam tadi, Joy dan Samuel mengajak Evangeline untuk bertemu di luar. Semenjak Damian tak ada, Linda pun sudah jarang mengurus klub.
Tinggal Samuel dan Joy saja yang masih bertahan. Kedua anggota yang tersisa itu lalu meminta bantuan Evangeline untuk terus mencari tahu kaitan antara Damian dengan perusahaan tersebut.
Samuel bahkan membekali istri Ardiaz itu dengan sebuah alat. Benda itu seperti sebuah flashdisk.
Namun begitu alat tersebut terpasang, ia akan langsung mengirim virus ke perangkat dan terkoneksi dengan komputer Samuel.
Sebelumnya, Evangeline sudah lebih dulu memberitahukan kepada Joy bahwa tinggal dua divisi di atas yang belum bisa ditembusnya.
__ADS_1
Karena alasan inilah, flashdisk hantu itu diberikan kepada Evangeline.
Samuel berharap gadis tersebut bisa mencari waktu yang tepat untuk menancapkan benda itu ke perangkat keras mereka.
Hanya butuh waktu lima menit untuk bisa meretas seluruh sistem, dan semua akan selesai.
Kembali ke waktu sekarang dimana Evangeline tengah menjalankan tugasnya.
Hari ini dia mendapatkan sebuah tugas untuk mengantarkan rencana pemasaran untuk produk terbaru mereka yang akan diluncurkan bulan depan.
Proposal tersebut mengandung jenis produk yang masih bersifat rahasia karena jika sampai bocor, maka perusahaan saingan akan mencuri ide mereka, dan bahkan bisa jadi justru lebih dulu mempublikasikan dan mengambil alih hak patennya.
Di samping itu, dia juga membawa prototype-nya untuk dikembalikan ke bagian pengembang produk.
Ini benar-benar hari yang panjang untuk Evangeline. Sejak pagi dia hanya terlihat beberapa kali duduk, dengan durasi kurang dari lima belas menit.
Untuk makan siang, dia pun hanya makan nasi kepal dan memakannya sambil berjalan ke sana kemari di sela kesibukannya.
Beruntung dia hanya mengenakan sepatu ber heels rendah, sehingga tak membuat kakinya semakin sakit.
Jam menunjukkan pukul lima petang dan ini merupakan tugas terakhirnya di hari ini.
Setelah menyerahkan proposal iklan ke bagian pendanaan yang berada di lantai lima.
kini dia sedang berjalan ke arah ruangan tim pengembang produk yang berada di lantai tujuh gedung tersebut.
Evangeline pun harus keluar masuk lift untuk bisa sampai ke tempat tujuannya.
Jam kerja sudah selesai, dan dia pun akan segera pulang setelah selesai dengan tugas terakhirnya ini.
Dia naik ke atas seorang diri, karena sebagian besar mereka justru naik lift untuk turun ke bawah.
Setibanya di lantai tujuh, Evangeline bergegas berjalan menuju ke ruangan tim perencana.
Disepanjang lorong, tak ada satupun karawang yang terlihat.
Lantai itu seakan sudah benar-benar sepi.
Biasanya masih ada yang belum pulang. Bukankan seharusnya mereka menungguku mengembalikan ini dulu, gumamnya dalam hati.
Namun, dia tak peduli dan terus berjalan ke tujuannya.
Akhirnya, kini dia sudah tiba di depan ruangan divisi pengembang produk. Evangeline pun mengangkat tangannya hendak mengetuk pintu ruangan staff, namun tiba-tiba sebuah bunyi benda jatuh terdengar dari ruangan yang berada di ujung lorong.
Seketika gadis itu pun tersentak kaget dan segera menoleh ke arah sumber suara.
“Apa masih ada orang?” tanyanya pada diri sendiri.
__ADS_1
Evangeline lalu melangkah ke sana, dan memanggil-manggil orang itu.
“Apa ada orang? Maaf mengganggu, aku hanya ingin mengembalikan sesuatu pada kalian,” ucap Evangeline seraya berjalan semakin mendekat.
Dia melihat pintu ruangan ujung yang merupakan tempat penyimpan sampel produk itu sedikit terbuka.
“Halo, apa ada orang di dalam?” panggilnya lagi.
Karena tak mendapat sahutan, akhirnya Evangeline pun memutuskan untuk masuk dan memeriksanya sendiri ke dalam.
Namun, baru saja dia mendorong sedikit daun pintu itu, seseorang mendorongnya dari dalam hingga Evangeline terjungkal ke belakang, dan jatuh ke lantai.
Seseorang berpakaian hitam dengan memakai jaket bertudung keluar dari dalam sana, dan berlari begitu saja tanpa peduli Evangeline yang kesakitan akibat punggungnya membentur dinding.
“Hei, tunggu! Berhenti!” pekik gadis itu
Dengan susah payah, Evangeline pun bangunan dan berlari mengejar si orang asing.
“Hei, berhenti kau! Jangan lari!” teriaknya.
Dia melihat orang tadi keluar lewat tangga darurat. Tak mau kehilangannya, Evangeline pun ikut berlarian di sepanjang anak tangga sambil berteriak.
Tiba-tiba, orang tadi keluar di salah satu pintu, dan ketika Evangeline keluar, dia kehilangan orang tadi.
Ini adalah lantai dua dimana divisinya berada. Dia melihat ke sekeliling, namun dia tak melihat orang tadi.
Nampak seorang penjaga berada tak jauh dari tempatnya, dan Evangeline pun menghampirinya.
Dia melaporkan apa yang terjadi padanya di lantai tujuh tadi, sambil terengah-engah karena sempat berlarian di tangga darurat.
“Apa kau yakin?” tanya petugas itu.
Evangeline hanya mengangguk sambil memegangi lututnya yang masih gemetar karena terlalu lelah.
Si petugas lalu menghubungi seseorang dengan interkomnya.
Melihat petugas itu berkomunikasi dengan rekannya, tiba-tiba terbersit sebuah ide di kepala Evangeline.
“Pak, apa tidak sebaiknya Anda meminta mereka untuk menutup semua akses keluar? Anda bisa membawaku ke ruang kontrol, dan saya bisa langsung menunjukkan tempat kejadian, atau bahkan membantu menemukan orang aneh itu,” ucap Evangeline.
.
.
.
.
__ADS_1
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih