A Love To Killer

A Love To Killer
BABAK 2 : Pria di atas kursi roda


__ADS_3

“Mau pergi kemana kau, gadis cengeng?” panggil seseorang dari belakang.


Evangeline seketika berhenti, setelah mendengar seseorang berteriak begitu keras. Dia merasa bahwa suara itu sangat dikenalnya, hingga membuat jantungnya berdebar.


Tak mungkin. Ini pasti hanya halusinasi ku saja, batin Evangeline.


Gadis itu sampai takut untuk berbalik, karena tak mau kecewa dan menganggap itu hanya halusinasinya saja.


Dia nampak meremas gagang koper kuat, sebelum akhirnya kembali berjalan ke depan.


“Hei, Eva! Berhenti atau ku seret kau pulang!” pekik orang itu lagi.


Kali ini, Evangeline semakin tak bisa menutupi kegugupannya. Dia sampai meremas padding coat-nya, karena jantungnya seakan hampir melompat saat orang itu jelas-jelas memanggil namanya.


Dia tak percaya dengan apa yang didengarnya, dan masih takut untuk menoleh. Akan tetapi, kakinya justru bergerak, membuatnya berbalik dan melihat siapa yang ada di belakang sana.


Matanya membola, dengan kedua tangan yang membekap mulutnya kuat-kuat. Air mata seketika meleleh di wajahnya, melihat siapa yang sejak tadi memanggilnya.


Seorang pria terlihat duduk di atas sebuah kursi roda, yang didorong oleh pria lainnya yang lebih tua dari pria yang duduk.



Di sana bahkan ada seorang gadis berambut pendek, yang tak lain adalah Joy, sahabatnya. Namun fokus Evangeline tertuju pada pria yang duduk di atas kursi roda.


Lututnya lemas dan tak mampu menopang berat tubuhnya sendiri. Evangeline terduduk di atas lantai dengan pandangan yang terus menatap orang di depannya.


Melihat gadis itu ambruk, orang itu pun bangun dari kursi rodanya, dan berjalan cepat menghampiri Evangeline.


Dia berjongkok di depan gadis itu, dan langsung memeluk tubuh kecil Evangeline yang berguncang akibat tangisnya.


Tak kuat menahan sesak di dadanya, Evangeline pun menjerit sekeras-kerasnya. Tangisnya seketika pecah, memekakan telinga siapapun yang mendengarnya.


Banyak orang berlalu lalang, memperhatikan gadis yang menangis di dalam pelukan pria itu. Tangisnya terdengar begitu pilu. Dia meraung-raung, tak peduli lagi dengan pandangan penumpang pesawat lain.


“Tenanglah, Eva. Semua sudah tak apa-apa. Aku sudah bangun. Aku akan selalu bersama mu mulai sekarang,” ucapnya lembut di balik punggung Evangeline.

__ADS_1


Gadis itu semakin mengeraskan tangisnya, mendengar suara yang sangat ia rindukan itu. Ya, dia adalah Ardiaz, sang suami yang ternyata telah bangun dari komanya.


Dia datang bersama dengan Mac duff dan juga Joy menyusulnya ke bandara, demi mencegah agar Evangeline tak jadi pergi.


Ardiaz terus memeluk Evangeline, dan menepuk-nepuk punggung gadis itu dengan lembut, seraya mengusap surai hitam kemerahan sang istri.


“Katakan ini bukan mimpi. Kumohon katakan ini bukan halusinasiku,” ucap Evangeline disela tangisnya.


Ardiaz mengecup pelipis Evangeline dengan mata yang berkaca-kaca. Dia mengurai pelukannya dan menatap wajah sang istri yang sudah dipenuhi air mata, dengan mata bengkak dan hidung memerah.


Kedua tangannya menangkup pipi sang gadis, dengan ibu jari yang lembut menyeka air mata yang masih mengalir dari mata sang istri.


“Maaf, karena aku tak langsung memberitahumu hal ini, Eva. Maafkan aku. Aku benar-benar sudah bangun. Lihatlah,” ucap Ardiaz.


Mata keduanya beradu pandang, seolah saling menyelami ke dalam pikiran masing-masing.


Tangan Evangeline terangkat. Gadis itu menyentuh wajah Ardiaz yang masih tampak pucat, dengan bulu halus yang mulai tumbuh di sana.


Matanya kembali berkaca-kaca, dan isaknya pun kembali terdengar. Evangeline melingkarkan lengannya di leher Ardiaz dan memeluk pria itu sekencangnya.


Evangeline kembali menangis dengan posisi saling berpelukan.


Joy nampak beberapa kali menyeka lelehan yang turun dari matanya, ketika melihat bagaimana sang sahabat yang akhirnya bisa bersama lagi dengan suaminya.


Mac duff yang sedari tadi berdiri di sampingnya, meraih sesuatu dari saku dan mengulurkan kepada Joy, yang langsung di raih oleh gadis itu untuk menyeka air mata serta ingusnya.


Tiba-tiba, Mac duff melihat tangan Ardiaz yang menyangga tubuhnya di lantai, dengan jari-jari yang mengepal kuat seolah sedang menahan sakit.


Dia pun segera menghampiri mereka dan berjongkok di samping Ardiaz.


“Kau tak apa?” tanyanya.


Mendengar suara Mac duff, Evangeline pun mengurai pelukannya dan menoleh ke arah pria itu, lalu kembali melihat sang suami.


Jelas terlihat bahwa Ardiaz mengerutkan keningnya seolah tengah menahan sakit. Ditambah tangannya memegangi perutnya, di mana di sana ada bekas luka tembak yang sempat dioperasi.

__ADS_1


Peluh dingin bahkan mulai terlihat muncul di pelipisnya, membuat wajah pria itu semakin pucat.


“Diaz, ada apa dengan mu? Apa kau sakit?” tanya Evangeline panik.


Ardiaz berusaha tersenyum, meski keningnya kembali berkerut.


“Delta, ambilkan kursi rodaku,” seru Ardiaz disela kesakitannya.


Mac duff pun menoleh ke arah Joy, dan meminta gadis itu mendorong kursi roda.


Dengan segera, gadis berambut pendek itu pun mendekat membawa apa yang diminta.


Mac duff dengan sigap memapah Ardiaz dan mendudukkan pria itu kembali ke atas kursi roda. Sementara Evangeline terus memegangi tangan sang suami dengan raut wajah yang khawatir.


“Diaz, apa yang terjadi? Kak Mike, ada apa dengan suamiku?” tanya Evangeline.


“Kita harus segera kembali ke rumah sakit sekarang juga,” sahut Mac duff.


“Aku... Aku ikut,” pinta Evangeline.


“Terserah. Tapi jangan buat ulah saat di sana,” sahut Mac duff.


Pria itu lalu cepat-cepat mendorong kursi roda Ardiaz, dan segera menuju ke mobil mereka yang sejak tadi berada di luar gerbang masuk.


Sementara Joy dan Evangeline mengikuti di belakang, dengan koper besar yang sempat dibawa Evangeline untuk kabur.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya

__ADS_1


terimakasih


__ADS_2