A Love To Killer

A Love To Killer
BABAK 2 : POV MALCOLM 2


__ADS_3

Sejak hari itu, entah kenapa takdir kami seolah terikat. Tak lebih dari sebulan, kami sudah kembali bertemu dengan cara yang sama.


Bahkan diperjalanan pulang dari berbelanja bahan makanan pun, aku bisa bertemu dengan pemuda itu kembali dengan wajah yang babak belur.


Aku sampai heran apa yang sebenarnya dilakukan anak muda seusianya, sampai selalu berhubungan dengan luka.


“Aku sedang menyelidik sesuatu,” ungkapnya.


Aku yang saat itu sedang mengobatinya pun tak banyak bereaksi karena fokus ku hanya pada luka pemuda tersebut.


“Apa kau polisi? Detektif?” tanya ku asal.


“Apa terlihat seperti itu? Hehehe... Tapi aku bukan keduanya,” jawabnya ringan.


Aku hanya tersenyum remeh, karena sebenarnya aku pun sudah bisa menembaknya.


“Lalu?” tanyaku lagi asal.


“Tapi, jika kau tahu masalahku, maka kau juga akan berada dalam bahaya,” ucapnya.


“Benarkah?” tanyaku lagi.


“Sebaiknya, kau tak perlu tahu. Tapi, aku sepertinya akan membutuhkan bantuanmu mulai sekarang,” ucapnya.


Aku tak menyahut sama sekali karena ku kira kami hanya kebetulan saja bertemu kembali. Tanpa ku tahu, rupanya takdir benar-benar membuat kami bersatu.


Satu hal yang membuatku geleng kepala, setiap kali kami bertemu dia pasti selalu terluka parah. Setelah dia memutuskan menginginkan bantuanku, dia bahkan mencariku langusng ke rumah sakit tempatku bekerja.


Dia membuat ulah karena tak mau ditangani siapapun kecuali aku. Suatu ketika, saat itu aku baru saja kembali ke tempat tinggal ku, setelah hampir sepekan tak pulang dan terus berjaga di unit gawat darurat.


Karena keributan yang dilakukan oleh pemuda tersebut, aku pun terpaksa kembali ke rumah sakit dengan perasaan kesal.


Saat melihat dia terbaring di atas tempat tidur dengan darah yang begitu banyak, aku melupakan kekesalan ku dan segera melakukan tindakan.

__ADS_1


“Kau sudah datang,” ucapnya sambil tersenyum lemah kepadaku.


“Apa kau gila? Banyak tenaga medis di sini yang bisa langsung menolongmu, tapi kenapa kau justru membahayakan nyawamu seperti ini?” keluhku.


“Hehehe... Bukankah sudah ku katakan, bahwa aku akan membutuhkan bantuanmu, bukan bantuan orang lain,” ucapnya.


Aku hampir tak bisa lagi berkata-kata melihat sikap pemuda ini. Entah apa yang dilakukannya sampai selalu berakhir seperti itu.


Beberapa luka sayatan yang cukup dalam membutuhkan beberapa jahitan. Aku menyarankannya untuk menjalani rawat inap di rumah sakit, akan tetapi dia hanya meminta resep obat.


“Apa sebenarnya yang kau lakukan sampai seperti ini? Apa kau tak punya keluarga yang mencemaskanmu?” tanyaku penasaran.


“Tentu saja Aku punya keluarga. Aku melakukan semua ini juga untuk keluargaku. Aku diam-diam memintamu mengobati ku juga demi keluargaku,” jawabnya enteng.


Dengan wajah pucatnya, dia berusaha bangun dan memakai pakaiannya lagi yang sudah penuh dengan noda darah.


“Sebagai dokter mu, aku melarang kau keluar. Jika kau tak menurut, jangan cari aku lagi untuk mengobati luka mu itu,” ancamku.


“Tidak mungkin. Kau sendiri yang mengatakan bahwa seorang dokter tak akan meninggalkan pasien yang sedang terluka,” sahutnya terkekeh.


“Berikan aku kartu Identitas mu. Aku harus memastikan kondisimu tiga hari sekali. Jika kamu tak datang padaku, maka aku yang akan mendatangimu,” seruku.


Dia nampak mengulurkan tangannya ke padaku. Aku mengernyit bingung dengan apa yang diinginkan olehnya.


“Kemarikan ponselmu,” serunya.


Aku pun dengan ragu menyerahkan ponselku padanya, dan segera di raih oleh si pemuda.


Dia nampak mengetik sesuatu di layar ponsel sambil berucap.


“Namaku Ardiaz, tapi kau bisa panggil aku Alpha. Itu code name ku yang sering ku pakai di luar,” ucapnya.


"Kenapa kau mempercayai ku?

__ADS_1


Dia pun lalu menyerahkan kembali ponselku dan beranjak dari tempat tidur. Langkahnya gontai karena lemas akibat kehilangan banyak darah.


Namun sikap keras kepala membuatnya enggan untuk terlihat lemah dan memilih segera pergi dari sana.


Berbekal resep obat yang ku berikan, dia pun menghilang dari pandangan. Itulah awal mulai keterlibatan ku dengannya. Pemuda bernama Ardiaz, si ahli taktik sekaligus kepala pengawal Keluarga Hemachandra.


...❄❄❄❄❄...


Seiring berjalannya waktu, aku mulai terbiasa dengan keberadaan pemuda itu. Ardiaz, aku pun mulai tahu siapa dia dan apa pekerjaannya yang sebenarnya.


Aku bersimpati padanya, setelah mendengar alasan kenapa dia selalu saja datang dengan tubuh penuh luka. Rupanya, dia tengah mencari tahu pembunuh orang tuanya beberapa tahun yang lalu.


Di dalam penyelidikannya, pemuda itu bertemu dengan beberapa pemuda lain yang juga dikenalkan padaku.


Mereka tak lain adalah si hacker dan pedagang serba ada, Jordan alias Charlie, dan juga seorang eksekutor berdarah dingin, Mac duff atau yang sering kami panggil dengan nama Delta.


Ketiga pemuda itu selalu hidup dalam dunia hitam. Hanya aku saja yang memiliki kehidupan normal dan nama baik di masyarakat.


Kami berempat berteman baik. Bahkan semua rencana mereka yang menyangkut tindakan ilegal pun aku tahu.


Hingga suatu ketika, tiga pemuda itu memutuskan untuk pergi ke suatu tempat, setelah menemukan titik terang tentang siapa pembunuh orang tua Ardiaz.


Hanya aku satu-satunya yang tak bisa ikut, dan diberikan amanah untuk menyampaikan pesan darurat, apabila tak ada kabar dari mereka selama waktu yang ditetapkan.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya

__ADS_1


terimakasih


__ADS_2