
Martin benar-benar sudah gila. Dia memperlakukan Evangeline seperti tawanannya yang selalu habis di saat diinterogasi oleh King Interogator ini.
Melihat Evangeline yang terus menutup matanya sejak tadi, dengan linangan air mata yang membanjiri wajahnya, dia pun mengangkat tangannya dan mengapit kedua pipi gadis itu dengan kuat.
Dia kembali mendekati wajah Evangeline, dan melanjutkan kata-katanya.
"Ah... Apa kau tau siapa yang ku maksud? Orang yang sekarat itu, dialah penyebab semua ini. JADI KALAU MAU SALAHKAN, SALAHKAN MEREKA SAJA YA,” ungkap Martin dengan seringainya.
Dia bahkan menghempaskan wajah Evangeline hingga gadis itu membentur dinding di sampingnya.
Mendengar semua perkataan itu, Evangeline seketika menatap nyalang ke arah pria kurang ajar di depannya. Dia seolah tak peduli dengan keningnya yang memar akibat terhantuk tembok.
Namun, Martin tak peduli tatapan mata Evangeline, dan kembali mulai mencumbunya. Kali ini, gadis itu terlihat berhenti menangis dan kemarahan jelas terlihat di matanya.
Saat Martin mendekatkan wajahnya, Evangeline mundur sedikit dan kemudian,
BUG!
Gadis itu membenturkan kepalanya ke pria itu, hingga Martin mengerang kesakitan.
PLAK!
King arogan itu seketika melayangkan pukulan tepat mengenai wajah cantik Evangeline, membuat gadis itu terhuyung ke samping.
Beruntung kedua tangannya terikat sehingga dia pun tetap berdiri dan tak terjatuh.
“Brengs*k! Beraninya kau melawan. Baiklah, aku tidak akan lembut lagi padamu,” ucap Martin kesal.
Tangannya terangkat dan meraih kerah kaus Evangeline. Pria itu bersiap merobek pakai gadis itu.
__ADS_1
Istri Ardiaz tersebut pun menutup mata. Dia hanya bisa pasrah. Itu usaha terakhirnya, tapi sepertinya dia sudah tak bisa lagi menghindar dari kesialan ini.
Baru saja kaus itu robek hingga dadanya nyaris terlihat, tiba-tiba, pintu terdobrak dari luar hingga Martin pun menoleh dan Evangeline seketika membuka mata.
“Brengs*k!” teriak orang itu yang ternyata adalah Mac duff.
Rupanya, suara yang didengar oleh sang Duke sebelumnya adalah erangan Martin saat Evangeline menanduknya.
Bos sky night tersebut pun merangsek maju dan langsung menyerang Martin yang masih terkejut dengan kehadirannya yang tiba-tiba di sana.
Mac duff memukul Martin membabi buta, tak peduli siapa dan apa posisinya di dalam Lucifer. Amarahnya memuncak saat melihat istri temannya itu terikat dengan pakaian yang sudah tak utuh lagi.
Martin yang memang kalah tenaga dari Mac duff tak bisa berkutik, dan hanya bisa menerima serangan bertubi.
Evangeline yang melihat hal itu berusaha berteriak, namun suaranya tak bisa keluar. Badannya terus bergerak berusaha membebaskan diri dari ikatan, namun sayang, Martin benar-benar erat melilitkan selotip pada tangan dan kakinya.
Dia menoleh ke arah Evangeline. Gadis itu benar-benar terlihat kacau. Mac duff pun segera melepaskan ikatan dari istri Ardiaz dan membuka penutup mulutnya.
Evangeline kembali menangis. Mac duff yang melihat hal itu pun begitu sakit hati. Tangannya tanpa sadar meraih tubuh gadis itu dan membawanya ke dalam pelukan.
“Tenanglah. Kau sudah tak apa-apa,” ucapnya menenangkan gadis yang masih syok itu.
Tak bisa dibayangkan berapa takutnya Evangeline beberapa saat yang lalu, ketika Martin hampir saja menjamahnya.
Dia merasa jijik dengan dirinya, karena pria tersebut sudah berhasil menyentuh bagian tubuhnya.
Mac duff kembali menendang pria yang sudah tak bisa bergerak itu dan melangkah pergi dari sana.
Mac duff berhenti dan membuka jaketnya. Dia memasangkan benda itu ke tubuh Evangeline, untuk menutupi pakaiannya yang telah koyak.
__ADS_1
Evangeline masih sesenggukan. Wajahnya tertunduk dengan pundak yang bergetar.
Mac duff meraih wajah istri Ardiaz itu dan mengusap lelehan bening di wajah gadis tersebut dengan kedua ibu jari.
“Apa dia sudah menyakitimu?” tanya Mac duff dengan suara datar.
Evangeline hanya mengangguk. Dia seolah tak bisa lagi berkata-kata. Tenaganya tiba-tiba habis terkuras saat melawan pria itu.
Mac duff melihat lebam di pipi kiri Evangeline. Jelas ini bekas pukulan yang diberikan oleh Martin. Bos sky night itu pun dengan lembut mengusap memar di wajah gadis tersebut.
“Apa ada lagi yang dia sentuh lagi?” tanya Mac duff.
Evangeline diam. Namun, tangisnya seketika pecah, saat mengingat Martin yang telah menyentuh tubuhnya.
Mac duff pun seolah mengerti arti tangisan Evangeline kali ini. Dia kembali memeluk istri sahabatnya itu, mencoba menenangkan.
Meski tak bisa ditutupi, matanya memerah dengan rahang yang mengeras. Ekor matanya melirik ke arah di mana Martin berada, seolah semua pukulan itu belum cukup untuk mengganti apa yang sudah dilakukan King interogator itu pada Evangeline.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih
__ADS_1