
Beberapa waktu berlalu, dan Malcolm telah berhasil mengambil semua peluru dari tubuh Ardiaz. Kini, dia tengah menjahit bekas luka tembak yang ada di pundak kiri Ardiaz, setelah sebelumnya dia mengobati yang di bawah.
“Apa kau akan baik-baik saja setelah ini?” tanya Ardiaz tiba-tiba, setelah sejak tadi suasana begitu hening di ruangan tersebut.
“Apa maksudmu?” tanya Malcolm, sambil tangannya terus menjahit luka Ardiaz.
“Aku akan membuat ayahmu membayar kejahatannya. Mungkin kau juga akan terkena imbasnya,” ucap Ardiaz.
Malcolm menghentikan gerakannya sejenak, dan melanjutkan lagi setelah menghela nafas begitu dalam.
“Bukankah aku memang berniat membuang diriku sendiri. Setelah semua orang tahu seberapa buruknya ayahku, pasti mereka tak mau menerima keberadaanku di sini."
"Jadi, memang itu yang terbaik, menjadi orang buangan negaranya sendiri, dan tak pernah kembali lagi,” jawab Malcolm dengan tersenyum getir.
Ada rasa sesak di dalam hati saat memikirkan harus keluar dari tanah airnya, meninggalkan sang ayah yang pasti akan mendapatkan hukuman berat.
Begitu pun Ardiaz, yang merasa bahwa tak seharusnya temannya itu mendapatkan hukuman atas kesalahan yang tak dilakukannya.
Namun, dia tak mau membujuk Malcolm, karena bagi seorang pria, harga dirinya akan hancur saat keputusan yang telah diambilnya, tak dilakukan.
Keduanya kembali hening dan tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Hingga beberapa saat kembali berlalu, Malcolm telah selesai mengobati semua luka yang ada di tubuh Ardiaz.
“Aku sudah selesai. Sebaiknya, kau minta anak buahmu membawakan pakaian ganti kemari sebelum kau keluar,” ucap Malcolm.
Namun, Ardiaz tak peduli dan kembali mengenakan jaketnya yang berlumuran darah, dan membuang kaus dalamnya ke tempat sampah.
Dia berjalan ke arah pintu dengan sebelah celananya yang robek.
__ADS_1
Malcolm tak mempedulikan hal itu, karena menurutnya percuma membujuk Ardiaz, saat pria itu sudah tak mau mendengar ucapan orang tersebut.
Namun, saat Ardiaz sudah memutar handle dan hendak keluar, dia berhenti dan menoleh sekilas ke samping.
“Jaga dirimu... Kawan,” ucap Ardiaz.
Malcolm sampai membelalak mendengar kata-kata terakhir Ardiaz, yang sudah pergi keluar dari ruangannya.
Dia tersenyum, namun dengan mata yang berkaca-kaca. Dadanya semakin sesak mendengar ucapan teman lamanya.
Rasa bersalah atas apa yang sudah diperbuat sang ayah kepada semua orang, membuatnya tak bisa lagi berada di antara orang-orang yang selama ini ia anggap sebagai keluarga.
Pria malang yang tak pernah merasakan kehangatan berada di tengah-tengah keluarga, yang justru mendapatkan perasaan tersebut dari teman dan juga keluarga lain, kini justru harus meninggal mereka karena rasa bersalah yang tak seharusnya ia tanggung.
Malcolm pun hanya bisa memejamkan mata, sembari menarik nafas dalam, meski rasanya sangat sulit karena begitu sesak.
Ardiaz pergi keluar, dan menemui seseorang yang sejak tadi sudah menunggunya di dekat ruangan Malcolm.
“Apa kau sudah selesai?” tanyanya yang tak lain adalah Alexa.
“Apa kau membawanya?” tanya Ardiaz.
Alexa menyerahkan sebuah paper bag kepada pria tersebut, dan segera diraih oleh King palsu tersebut.
“Pergilah. Tugasmu sudah selesai,” seru Ardiaz.
Seketika Alexa melotot dan berkacak pinggang di depan pria itu.
“Apa begini cara berterimakasih mu, hah?” keluh Alexa.
__ADS_1
“Apa aku memintamu melakukan ini semua? Aku meminta Delta kemari, bukan kau. Kenapa justru kau yang datang?” cecar Ardiaz.
Rupanya, Ardiaz lebih dulu menghubungi Mac duff sebelum meminta Malcolm untuk mengobatinya. Namun, justru Alexa yang datang dan mengantarkan pesanan King palsu tersebut.
Alexa memutar bola matanya jengah dengan sikap Ardiaz, dan mendengus kesal.
“Baiklah... Baiklah... Aku akan pergi sekarang. Kau ini benar-benar... Aaarrrggghhh...,” ucap Alexa yang benar-benar kesal dengan ucapan Ardiaz.
Dia berbalik dan berjalan pergi dengan menghentak-hentakkan kaki ke lantai. Melihat hal itu, senyum tipis muncul di bibir Ardiaz.
“Thanks,” ucapnya sedikit keras, membuat Alexa berhenti mendadak dan seketika berbalik.
Namun, Ardiaz sudah berjalan jauh pergi dari sana, dan berbelok di persimpangan lalu menghilang.
“Dasar pria kejam,” gumam Alexa tersenyum mengejek, namun itu berubah menjadi senyum yang begitu cantik, yang jarang terlihat menghiasai wajahnya.
Dia pun kembali berjalan pergi dari sana.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih
__ADS_1