
Malam itu, saat aku baru saja pulang dari rumah sakit setelah beberapa hari tidur di sana, aku melihat ruang baca ayahku sedikit terbuka dan membuat cahaya lampu di dalamnya menyemburat keluar.
Aku juga sudah lama tak menyapanya, sehingga aku bermaksud menemui dan melihat kondisi ayahku.
Namun siapa sangka, bau busuk yang paling sulit diendus adalah yang berada paling dekat dengan hidung kita.
Hanya orang lain yang bisa menyadarinya, hingga mereka menjauh dari kita, sementara kita tak tahu kenapa kita dijauhi karena tak sadar akan bau busuk itu.
Betapa terkejutnya aku mendengar pembicaraan ayah dengan seseorang melalui sambungan telepon.
Awalnya kukira hanya pembicaraan rencana bisnis baru yang cukup serius, sampai ayahku terdengar begitu berapi-api.
Namun setelah ku dengarkan baik-baik, aku merasa bahwa apa yang dikatakannya mirip dengan apa yang pernah diceritakan oleh Ardiaz tentang tragedi yang menimpa keluarganya.
βKalau saja kalian tak melewatkan kedua anak itu, maka hari ini dia tak akan pernah menjadi teror untuk ku. Kau bilang mereka dari Wisteria bukan? Bisa saja salah satu dari mereka adalah anak itu,β ucap ayahku.
Aku tak mendengar jawaban di seberang. Namun mendengar perkataan ayah selanjutnya, aku semakin yakin bahwa apa yang kupikirkan benar adanya.
βAku tak mau tahu, kau harus segera menjalankan rencanamu itu. Mereka sudah menghilang, dan kini ada yang mencoba bermain-main denganku. Aku tak mau tahu. Tragedi keluarga Danurendra harus terkubur bersama anak-anak sialan itu,β pungkasnya.
Aku tak sanggup lagi mendengar perkataan ayah selanjutnya. Aku benar-benar tak menyangka bahwa takdirku dengan Ardiaz bukanlah suatu kebetulan. Ini adalah karma, dan semua itu dimulai dari tragedi mengerikan yang dibuat oleh ayahku sendiri.
__ADS_1
Hal ini pun secara tak langsung memberi tahu ku, bahwa ayah juga lah yang menyebabkan Hemachandra koma, dengan memanfaatkan Aaron.
Setelah mengetahui hal tersebut, aku tak bisa lagi fokus pada pekerjaan. Setiap hari aku mencoba mencari solusi, apakah aku harus membujuk Ardiaz agar memaafkan ayahku atau lebih dulu memperingatinya agar jangan menyentuhnya.
Namun ingatanku kembali pada suatu hari, aku melihat pemuda itu datang ke ruang sakit bersama Evangeline, gadis yang sangat ku cintai.
Gadis itu nampak pucat, sementara Ardiaz terlihat begitu waspada dengan sekitarnya. Aku teringat akan kata-kata ayahku bahwa saat ini mereka bertiga sedang dalam pelarian entah dari siapa.
Meski saat itu aku belum tahu, tapi dari gerak geriknya jelas terlihat bahwa Ardiaz tengah menghindari sesuatu.
Aku pun mencoba membantu mereka dengan mengajak keduanya ke sebuah ruang pemeriksaan yang selalu ku gunakan setiap kali praktik.
Aku sedih dan kecewa karena gadisku sudah direnggut kesuciannya, meskipun itu oleh suaminya sendiri.
Tapi, kembali lagi aku sadar bahwa semua kemalangan mereka adalah karena ayahku.
Setelah bertemu mereka, aku seolah menemukan jalan keluar atas permasalahan ini.
Aku tak mungkin berada di antara gadis itu dan juga suaminya, yang jelas-jelas masih hidup dan begitu memperhatikannya.
Sama halnya dengan permasalahan antara ayahku dengan Ardiaz. Aku tak seharusnya berada di antara mereka.
__ADS_1
Jadi kuputuskan, aku akan pergi jauh dan meninggalkan predikat putra tunggal Morgan Andara, direktur utama rumah sakit pusat Kota Orchid, atau calon pewaris Andara Corporation.
Aku diam-diam mendaftarkan diri menjadi sukarelawan, untuk menjadi tim medis di daerah konflik dan peperangan.
Hingga waktunya tiba, aku merahasiakan hal ini dari ayah. Barulah setelah waktu keberangkatan ku sudah dekat, aku langsung mengadakan konferensi pers dan memberitakan kabar tersebut.
Aku tahu bahwa ayah pasti kecewa atas keputusan ku itu. Tapi sebagai anak, aku lebih kecewa atas apa yang telah ayahku perbuat, dan apa yang sedang ayahku rencanakan untuk menutupi kesalahannya di masa lalu.
POV MALCOLM END
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like π, komen π, atau beri dukungan lainnya
terimakasih
__ADS_1