A Love To Killer

A Love To Killer
BABAK 2 : Kekecewaan Malcolm


__ADS_3

Di tempat lain, Malcolm yang baru saja mendapatkan pesan dari nomor anonim, berisikan foto-foto Evangeline yang terikat di sebuah kursi, langsung berlari menemui ayahnya yang saat itu sedang berada di kantornya.


Dia yang harusnya hari ini bersiap untuk keberangkatan ke negara konflik, menunaikan tugasnya sebagai dokter perang, harus menundanya karena masalah ini.


Sesampainya di kantor Andara Corporation, Malcolm terus berjalan lurus, tanpa peduli dengan karyawan yang menunduk memberi hormat padanya.


Matanya tajam dengan ekspresi yang begitu serius, membuat semua yang melihat saling tatap dan bertanya-tanya.


Pasalnya, Malcolm yang mereka kenal adalah sosok yang hangat, dokter yang ramah pada semua orang dan selalu tersenyum.


Namun kali ini, dia datang dengan aura yang sangat berbeda jauh. Dia langsung masuk ke dalam lift eksekutif dan menuju ke lantai dimana ruangan sang ayah berada.


Sesampainya di sana, dia langsung menerobos masuk dan membuat ayahnya yang sedang rapat dengan beberapa orang, terpaksa meminta semuanya untuk keluar.


Malcolm nampak diam sembari mengatur nafasnya yang memburu akibat emosi. Dia melirik semua orang yang berjalan melaluinya untuk keluar dari sana.


Setelah semua pergi, Malcolm menutup pintu rapat dan berjalan menghampiri sang ayah.


“Apa yang sudah ayah lakukan? Kenapa Eva sampai harus terlibat?” tanya Malcolm langsung.


Morgan terlihat tenang dan duduk di kursi kebesarannya, bersandar di sana dengan santai sambil bertopang kaki.


“Bukankah hanya ini yang bisa ayah lakukan untuk membuatmu tetap tinggal?” ucap Morgan.


Malcolm semakin kesal dengan jawaban sang ayah.

__ADS_1


“Aku melakukan itu semua karena ayah. Aku ingin ayah berhenti melakukan kejahatan, tapi kenapa ayah justru kembali menyakiti orang lain? Apa tidak cukup ayah membunuh keluarga Danurendra dan membuat kedua anaknya menderita? Tolong ayah, lepaskan Eva,” pinta Malcolm.


“Jadi, kau tak akan mau menarik keputusanmu, walaupun dia sudah ayah sekap? Jadi, tidak apa-apa jika ayah membunuhnya juga kan?” ancam Morgan.


“Ayah, aku dan Eva sudah tak memiliki kaitan apapun lagi. Kami sudah memutuskan untuk hanya berteman. Dia tak mencintaiku, jadi lepaskan lah dia, ku mohon. Jangan libatkan dia,” bujuk Malcolm.


“Ah... Benar. Putra ayah ini telah dicampakan oleh gadis itu. Tapi, bukankah itu karena pria lain? Benar... Setahu ayah, dia adalah seorang wanita bersuami. Dan kebetulan, suaminya adalah salah satu anak Danurendra."


"Ditambah, dia adalah putri Hemachandra. Bukankah membunuhnya sama dengan membunuh dua burung dengan satu batu. Ayah bisa melenyapkan anak Danurendra, sekaligus memutus keturunan Hemachandra. Hahahaha...,” ucap Morgan terbahak.


“Ayah!” pekik Malcolm.


Dia tak menyangka pria yang selama ini menjadi panutannya, bersikap sekejam itu.


“Kenapa? Kau kira ayah tak tahu semua itu hah? Sejak awal ayah sudah tahu bahwa dia adalah putri Hemachandra, dan ayah sengaja menyetujui pernikahan kalian, dengan tujuan mengambil alih perusahaan Hemachandra, serta mengambil alih aset peninggalan Danurendra yang dipegang oleh orang itu."


“Ayah benar-benar keterlaluan. Jadi sejak awal, ayah sudah merencanakan semua ini? Aku benar-benar kecewa pada ayah. Lebih baik jika ayah segera bertobat sebelum hukuman Tuhan menimpamu,” ucap Malcolm.


Dia tak tahan jika harus berlama-lama di sana. Ayahnya sudah bukan ayah yang dia kenal sebelumnya.


Morgan sudah menunjukkan wajah aslinya pada sang putra, hingga membuat Malcolm tak mau lagi melihat wajah ayahnya yang mengerikan.


Dokter muda itu pergi dari sana dengan hati hancur, menyaksikan sifat asli ayahnya yang benar-benar kejam.


AAAARRRGGGHHH!

__ADS_1


Dia memukul setang mobilnya dengan keras, seraya berteriak meluapkan emosi yang membuncah di dadanya.


Malcolm bahkan sampai menitikkan air mata karena rasa kecewanya terhadap sang ayah.


“Aku tak menyangka ayah adalah orang seperti itu. Kenapa ayah berbuat sejauh ini demi bisnisnya,” gumamnya.


Dia terdiam sembari menyandarkan punggungnya di kursi. Dokter muda itu mencoba menormalkan nafasnya yang memburu akibat amarah yang sejak tadi menguasainya.


Beberapa saat kemudian, dia yang masih berada di area parkir halaman depan gedung Andara Corporation, melihat mobil sang ayah keluar.


Dia mengernyitkan keningnya karena merasa ada yang aneh.


Dimana supir ayah? Kenapa hanya ada asisten pribadinya saja di dalam mobil itu? batinnya.


Dia pun segera menghapus air mata yang sempat menetes tadi, dan menyalakan mesin mobil. Dokter itu kemudian melajukan mobilnya mengikuti kemana ayahnya pergi.


Dia merasa curiga bahwa Morgan akan pergi ke suatu tempat yang tak berhubungan dengan perusahaan. Pasalnya, dia selalu bersama supirnya jika hendak melakukan perjalanan bisnis, dan hanya mengajak asisten pribadinya saat ada hal lain yang berkaitan dengan urusan pribadi.


.


.


.


.

__ADS_1


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih


__ADS_2