
Evangeline duduk di samping Ardiaz. Dia meraih tangan sang suami.
“Kenapa kulitmu sangat kering? Apa di sini sangat tidak nyaman? Maka bangunlah dan mari lekas kita pindah dari sini,” ucap Evangeline.
Dia mengusap lembut punggung tangan Ardiaz yang masih terpejam.
“Tanganmu juga terasa dingin,” gumamnya
Dia lalu mengangkat tangan itu, dan menempelkan pada pipinya.
“Apa begini sudah hangat?” tanya Evangeline pada pria yang berbaring di depannya itu.
Dia menatap lekat wajah tampan yang tertutup sebagian oleh masker oksigen. Matanya kembali berkaca-kaca melihat kondisi sang suami yang begitu menyedihkan.
“Apa kau tak mau bangun dan mengejekku lagi, hem? Apa kau tak mau memanggilku cengeng lagi seperti dulu?” ucap Evangeline.
Air mata menetes langsung dari mata gadis itu, membasahi tangan suaminya. Dia memejamkan mata yang terasa panas, sembari mengatur nafasnya yang kembali sesak.
“Kenapa hidup mu bisa jadi seperti ini, hah? Apa yang sebenarnya sedang kau cari? Jika ini karena ayahku, aku sudah tak peduli lagi dengan perbuatan kakakmu."
"Aku lebih memilih kau kembali hidup normal seperti sebelumnya. Seperti saat kita hidup bersama di rumah ayah. Saat kau menjadi pemuda menyebalkan yang selalu membuatku kesal. Aku ingin kita kembali ke masa itu. Kau mau kan?” keluh Evangeline.
Gadis itu mencium punggung tangan sang suami, sembari menyeka air matanya yang terus tumpah.
“Sejak kau pergi, aku selalu menunggumu kembali, meski entah kapan. Apa kau tahu, saat Malcolm mengatakan bahwa kau sudah mati, seketika pikiranku kosong, hati ku sangat sakit. Aku seperti seorang nahkoda yang kehilangan arah di tengah lautan yang begitu luas.”
“Saat aku harus berjuang demi ayahku, kau satu-satunya orang yang bisa kuandalkan, tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Ah... Benar. Kau bahkan tak berpamitan sat pergi. Kau benar-benar brengs*k. Harusnya aku langsung mengurus surat cerai kita saja waktu itu,” ucap Evangeline kesal.
Namun, raut wajahnya kembali sendu. Dia menunduk dan membenamkan wajahnya di antara lipatan lengan yang bertumpu di tepi ranjang.
Pundaknya berguncang seiring isaknya yang terdengar semakin keras.
Di luar ruangan, seorang pria yang sejak tadi berdiri di sana, terus memperhatikan Evangeline yang tengah menangis di samping ranjang suaminya.
__ADS_1
Cukup lama Evangeline berada di dalam, hingga dia memutuskan untuk keluar.
“Aku akan pergi dulu. Kau tahukan, kalau aku mudah kelelahan. Aku yakin kau pasti akan mengomel kalau aku sampai pingsan lagi seperti waktu itu. Besok, aku akan datang lagi sepulang kerja. Aku tak peduli jika kau keberatan. Kalau bisa, bangunlah dan marahi aku,” ucap Evangeline.
Dia lalu mengusap lembut puncak kepala Ardiaz, dan mengecup kening pria itu singkat.
Gadis tersebut pun berjalan keluar, melepas APD yang digunakannya dan kembali menemui Mac duff.
Evangeline menghampiri pria itu dan duduk di kursi tunggu. Dia nampak masih menyeka lelehan yang tersisa di mata dan hidungnya.
“Kenapa nasibku sangat menyedihkan begini? Apa kau tahu, aku selalu bermimpi tentang pernikahan yang indah, dengan pria yang sangat mencintaiku. Kami pergi berbulan madu romantis, hingga momen itu tak akan pernah terlupakan. Tapi... Hah... Sudahlah. Lagi pula semuanya sudah terjadi,” ungkap Evangeline.
Mac duff tak merespon sama sekali. Dia hanya melirik sekilas gadis yang duduk di sampingnya itu.
Evangeline lalu mengambil sesuatu dari dalam tasnya, dan menyodorkan kepada Mac duff.
“Minumlah. Aku yakin kau belum mau diperiksa oleh dokter, bukan? Aku sengaja menyiapkan obat-obatan ini agar lukamu tidak semakin parah. Ambillah,” seru Evangeline sambil menyodor-nyodorkan kantung berisikan obat.
Mac duff tak mau mengambilnya dan tetap diam. Evangeline pun tak mau menyerah. Gadis itu menarik lengan Mac duff kuat-kuat hingga pria itu pun terduduk, seraya mengernyitkan kening karena perutnya kembali terasa nyeri.
Dia sampai mencoba menyentuh bagian yang terluka itu, namun segera ditepis oleh Mac duff.
Evangeline pun tampak mendengus kesal dengan sikap Mac duff padanya.
“Menyebalkan. Lagipula ini juga salahmu sendiri. Siapa suruh kau diam saja dan memaksaku menarikmu duduk, hah?” keluh Evangeline.
Gadis itu lalu membuka bungkusan dan mengambil beberapa butir obat sesuai resep apoteker.
Dia meraih botol air minum yang dibawa sebelumnya, dan menyodorkan ke pada pria itu.
“Minum sekarang juga. Biar kupastikan sendiri kau meminum obatmu,” seru Evangeline.
Mac duff hanya menoleh dan menatap tajam Evangeline. Akan tetapi, gadis yang sudah terbuat melihat tatapan serupa dari Ardiaz, tak gemetar sama sekali dan justru semakin memaksa.
__ADS_1
“Ayo ambil. Atau kau mau ku suapi, hah?” seru Evangeline lagi.
Akhirnya, dengan kesal Mac duff pun meraih butir-butir obat dari tangan Evangeline dan langsung menelannya begitu saja tanpa air minum.
Pria itu kemudian membuka mulutnya lebar-lebar, menunjukkan bahwa semua obat sudah ditelannya.
Evangeline tersenyum melihat hal itu. Tangannya terangkat dan mengusap-usap puncak kepala Mac duff.
“Anak pintar,” ucapnya.
Evangeline tersenyum semakin lebar melihat pembunuh berdarah dingin itu begitu patuh padanya. Sementara pria tersebut justru membeku melihat senyum manis, dari gadis yang sejak tadi dilihatnya terus saja menangisi sang suami.
Tiba-tiba, Mac duff tersadar dan segera menepis tangan Evangeline agar menjauh dari dirinya. Hal itu membuat Evangeline kembali kesal.
“Hah... Kau ini. Apa kau tak bisa mengatakan terimakasih sama sekali? Sungguh menyebalkan,” gerutu Evangeline.
Gadis itu pun lalu bangun dari duduknya dan memakai tasnya kembali.
“Ya sudah. Aku akan meninggalkan ini di sini. Pastikan kau minum tiga kali sehari. Aku harus pulang. Aku tak mau sampai pingsan lagi dan merepotkan orang lain. Tolong jaga dia untukku, oke. Besok aku akan kembali lagi,” ucap Evangeline.
Dia meletakkan obat itu di atas kursi, kemudian berbalik dan berjalan pergi meninggalkan tempat rawat Ardiaz.
Evangeline tak menyadari jika Mac duff terus memperhatikan punggungnya yang semakin menjauh dan menghilang di persimpangan lorong rumah sakit.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
__ADS_1
terimakasih